Senin, 01 September 2014

STOK DAN HARGA PRODUK DI GERAI BARSEL PROMO BUNTOK

Sudah enam bulan sejak 20 Februari 2014 Kelompok Usaha Bersama "Barsel Promo" Buntok membuat dan memasarkan produk oleh-oleh khas daerah Kalimantan Tengah. Cukup banyak pengalaman yang diperoleh dari dinamika proses produksi dan pemasarannya. Yang jelas semua itu semakin membuat pengalaman kami bertambah. 
Produk yang tersedia saat ini adalah keripik dan stik Lambiding (kelakai), keripik dan stik Paku, stik Nanas, stik Sayuran, stik Lancar Kujang (akar keladi) dan memperkenalkan produk baru stik Iwak Benangin. 
Masih tersedia buku-buku lokal asli buatan Buntok sebanyak lima judul, yaitu dua buah sejarah Kalteng "Nan Sarunai Usak Jawa " (Negara Dayak Dihancurkan Bangsa Jawa) dan "Gigir Gampar Barito Raya", satu judul wayang Buntok "Punakawan dalam Satire Dayak Besar", satu legenda Barito Timur "Liang Saragi, Semuanya karena Cinta" dan terakhir "Seks Bebas, Porno-aksi dan Ulama Birahi".
Daftar harga per 1 September 2014 untuk keripik tetap Rp. 15 ribu per bungkus dan stik Rp 10 ribu, kecuali yang kemasan ekonomis seharga Rp 6 ribu. Sedangkan harga buku adalah antara Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu per eksemplar.
Produk tersebut dapat diperoleh pada alamat dan nomor kontak yang tertera di atas. Sekian dan terima kasih.
 

Sabtu, 30 Agustus 2014

STIK IWAK BENANGIN

Kreasi jajanan kampung terbaru yang dipersembahkan oleh tukang keripik Syamsuddin Rudiannoor adalah Stik Iwak Benangin. Stik ini merupakan produk paling hanyar untuk variasi oleh-oleh khas Kalimantan Tengah khususnya kabupaten Barito Selatan.

Iwak benangin yang dipakai merupakan hasil tangkapan dari alam yakni dari sungai Barito dan perairannya. Ikan ini mirip ikan seluang namun agak lebih besar dan dagingnya lebih lembut. 
Karena ketersediaan ikan ini relatif tanpa musim, harganya murah, rasanya gurih dan senantiasa ada di pasar ikan "Beringin" Buntok maka  dicobalah menganeka-ragamkannya kedalam olahan penganan ringan khas daaerah.

Sekali dicoba ternyata langsung bagus. Alhamdulillah.., inilah nasib tukang keripik yang lagi beruntung. 

Semoga saja olahan terakhir ini bisa diterima oleh masyarakat Barito Selatan dan Kalimantan Tengah pada umumnya dan tidak membikin malu tatkala disebut sebagai oleh-oleh khas daerah.

Bagi yang berminat dapat menghubungi kami pada alamat dan kontak tersebut diatas, terima kasih.

Kamis, 28 Agustus 2014

OLEH-OLEH BARSEL SEGERA TERSEDIA LAGI

Label BarselSebagaimana posting kami pada hari Senin tanggal 14 Agustus 2014 dengan judul “Keripik dan Stik Lagi Kosong, Buku-buku masih Tersedia” maka kami atas nama Barsel Promo saat ini sedang memproduksi kembali aneka keripik dan stik. Dengan demikian insya Allah mulai hari Senin tanggal 1 September 2014 produk oleh-oleh khas Kabupaten Barito Selatan tersebut bisa diperoleh lagi di gerai kami.

Barsel Promo

Kami kembali minta maaf atas kekosongan ini mengingat beberapa calon pembeli yang datang dan pemesanan melalui panggilan telepon harus kecewa dan pulang dengan tangan hampa. Toko kami Barsel Promo insya Allah segera memasarkan produk oleh-oleh tersebut.

 
Sekian, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kekurangan kami.

Rabu, 06 Agustus 2014

KERIPIK DAN STIK LAGI KOSONG, BUKU-BUKU MASIH TERSEDIA

Saya Syamsuddin Rudiannoor atas nama Barsel Promo selama bulan Juli 2014 atau selama bulan ramadhan 1435 Hijriyah tidak memproduksi aneka keripik dan stik. Dengan demikian maka stok di gerai kami saat ini kosong. Oleh karena itu saya mohon maaf.
Kekosongan ini terjadi sampai akhir Agustus 2014 dan Insya Allah berproduksi lagi pada awal September 2014. 

Toko kami "SIMPANG" dan Barsel Promo masih  memasarkan buku-buku lokal mengingat stok yang masih tersedia.
 Sekian, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Rabu, 09 Juli 2014

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR (Wayang Buntok)


RESENSI BUKU
Penulis : Syamsuddin Rudiannoor
Katagori : Kumpulan cerita pendek versi wayang lokal Kalimantan Tengah
Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR  Yogyakarta
Jumlah halaman :  366 halaman
Harga jual: Rp. 120.000,-
Kualitas cetak: Offset diatas book paper
Tahun Penerbitan: Cetakan I  September 2013
Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok
Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504
WAYANG BUNTOK..., hah APAAN TUH..?
Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru berupa pesawat radio dan sedikit tape recorder. Tidak ada pesawat televisi. Listrik masih belum PLN.  Mobil masih tidak ada. Sepeda motor termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat. Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah saya sebagai seorang anak bawang berusia 5 sampai 12 tahun.
            Dalam kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut, terkenanglah saya akan  jasa almarhumah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani. Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang. Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan  atau  Wayang Epat.
            Kembali ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan rakyat yang hidup kala itu adalah musik-musik RRI plus sedikit seni  tradisional. Dan salah satu seni tradisi itu adalah  pagelaran pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau  wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)). Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar. Sampai kemudian, tercatat ada dua*) orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi dadalang wayang Banjar, meskipun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari Banjar. Namun anehnya, justru kelahiran prematur dalang  Buntok berikut kualitasnya yang diragukan, malah melahirkan wayang baru yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah binti Lelang kepada saya sebagai  cucunya. 

            Ilustrasinya mungkin begini. Ketika wayang asli atau wayang India (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang  Jawa, orang  Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati  tapi sudah ada sisipan  muatan lokal akibat bakincahnya para aktivis pendatang baru tadi.  Lalu tatkala wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah  wayang  "diambil" oleh Urang Banjar  sesuai kemampuannya. Hasilnya, keruwetan kisah India yang masih  "mampu" dipertahankan Wayang Jawa, mulai "gagal" dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk? Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus  wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan  pasar  atau selera rakyat Buntok yang sederhana justru "hanya" menantikan Punakawan saja dalam khasanah bawayang mereka. Sampai kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut akibat  kegagalan nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan, malah mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat. Artinya, bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan saja, dimana pemain utamanya adalah  si  endek  Bagong  Jambulita.
ARTIS WAYANG BUNTOK CUMA EMPAT, Plus...
            Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang  India dan  kisah India, yang ketika di Jawa 'bertemu' Punakawan sebagai sisipan. Justru di Buntok lakon utamanya adalah Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan kembali kisah wayang kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya  Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian artis Babagongan yang empat itu yang ketemu wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku. Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok di lidah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau yang buta huruf dan buta wayang. 
            Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan? Jawabannya singkat saja. Saya hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan atau Wayang Epat merupakan wayang khas Kalimantan Tengah yang mudah-mudahan dapat menjadi pilar seni budaya nasional. Ini yang pertama. Kedua, lewat  Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya. Karena apa? Sebab cukup banyak dinamika dalam masyarakat Kalteng yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada  rakyatnya. Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim non formal  dalam bermasyarakat dan berpemerintahan di Propinsi Kalimantan Tengah, sebab seluruh isi dan kulit dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal mungkin menyerap dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang sedang  aktif bergerak maju.
            Selamat menikmati....
 

*)         Dua orang lokal yang berhasil menjadi Dalang Wayang Banjar itu adalah Kai Pa' Baer (Kumis Saililah) dan  Julak  Pa' Anen (Juri).

Sabtu, 14 Juni 2014

KERIPIK SASUPAN, KERIPIK PUTRI MALU


Kembali Barsel Promo memasarkan keripik putri malu. Keripik yang dimaksud adalah keripik yang bahannya berasal dari tumbuhan air yang di daerah ini disebut sasupan banyu atau sasupan danum alias putri malu air. 
.
Tumbuhan ini sama sifatnya dengan putri malu pohon, hanya saja yang berbeda adalah tempat tumbuh dan bentuk batangnya saja. 
.
KERIPIK SASUPAN DANUM
Dalam bahasan daerah di Kalimantan secara umum putri malu disebut sasupan yang arti juga sama yakni pemalu. Dengan demikian tumbuhan perdu jenis ini memang memiliki kemiripan penyebutan namanya yang relatif sama sehingga mudah dikenali dimana-mana.
.
Keistimewaan dalam khazanah putri malu di Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah terutama di Kabupaten Barito Selatan, ada putri malu yang biasa dijadikan sayuran. Ciri daun, bunga dan sifat pemalunya sama dengan perdu mimosa pudica namun tumbuhnya di air dan hidup merayap seperti kangkung. Tumbuhan inilah yang dikenal dengan Sasupan danum atau sasupan banyu atau putri malu air. 
.
Sejak lama tumbuhan ini dijadikan sayur dan dimasak dengan nama masakan "Gangan Karuh"  (Bahasan Banjar)  atau "Juhu Keruh"  (Dayak Bakumpai/Ngaju Kapuas). 
.
Sasupan danum inilah yang dijadikan Keripik oleh juru masak Barito Raya Pro Buntok. Bahan dasar putri malu diperoleh dari danau Keladan di dalam kota Buntok. Pada musim hujan ini pertumbuhannya sangatlah subur sehingga bahan baku keripik menjadi lebih melimpah di pasar Terowongan Buntok.

KERIPIK USUS AYAM

Barsel Promo memasarkan satu lagi keripik sebagai produk terbaru yaitu keripik usus ayam. Keripik ini baru dibuat kemarin Kamis tanggal 12 Juni 2014 dan mulai dipasarkan hari ini Jum’at tanggal 13 Juni 2014 di Gerai Barsel Promo, Jalan Panglima Batur nomor 7, Karang Paci Ujung atau samping kantor Kejaksaan Negeri Buntok.
.
Keripik dijual seharga Rp. 20 ribu per bungkus, dikemas dalam paking alumunium foil dan dimaksudkan sebagai produk oleh-oleh khas Kabupaten Barito Selatan. Keripik ini diproduksi oleh Barito Raya Pro Buntok, nomor kontak 081349606504.
.
Semoga perkenalan ini bermanfaat adanya. Sekian dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
.

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...