Rabu, 09 Juli 2014

PUNAKAWAN DALAM SATIRE DAYAK BESAR (Wayang Buntok)


RESENSI BUKU
Penulis : Syamsuddin Rudiannoor
Katagori : Kumpulan cerita pendek versi wayang lokal Kalimantan Tengah
Penerbit : Barito Raya Pro Buntok bekerjasama dengan Penerbit WR  Yogyakarta
Jumlah halaman :  366 halaman
Harga jual: Rp. 120.000,-
Kualitas cetak: Offset diatas book paper
Tahun Penerbitan: Cetakan I  September 2013
Lokasi Pemasaran: Barsel Promo, Jalan Panglima Batur Nomor 7 Buntok
Kontak telepon/sms:      0813 4960 6504
WAYANG BUNTOK..., hah APAAN TUH..?
Antara tahun 1968 sampai 1975, Buntok masih kota sangat kecil yang sederhana. Kala itu sarana informasi rakyat yang paling moderen baru berupa pesawat radio dan sedikit tape recorder. Tidak ada pesawat televisi. Listrik masih belum PLN.  Mobil masih tidak ada. Sepeda motor termasuk vesva masih berbilang jari. Siaran RRI merupakan siaran idola seluruh rakyat. Dus, dalam suasana seperti itu, tumbuhlah saya sebagai seorang anak bawang berusia 5 sampai 12 tahun.
            Dalam kebersahajaan hidup Buntok tahun-tahun tersebut, terkenanglah saya akan  jasa almarhumah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau. Kenapa demikian? Karena dari mulut tua beliau, saya mendengar secara berulang-ulang banyak kisah atau ceritera rakyat yang cukup variatif pokok bahasannya. Pendeknya, ada ceritera kancil dan pak tani. Ada kisah kura-kura dan burung pelatuk. Ada Sangumang dan keluarganya. Ada kisah Batara Gangga. Ada ceritera Supak dan Gantang. Dan yang terakhir saya ingat adalah kisah lucu yang beliau namakan Babagongan  atau  Wayang Epat.
            Kembali ke suasana Buntok tahun 1968-1975, hiburan rakyat yang hidup kala itu adalah musik-musik RRI plus sedikit seni  tradisional. Dan salah satu seni tradisi itu adalah  pagelaran pentas wayang kulit. Terus, wayang kulit yang dimaksud adalah Wayang Banjar (atau  wayang Jawa yang dimainkan oleh orang Banjar (?)). Pendek kata, seni yang dominan dimainkan di pahuluan Barito kala itu adalah seni pesisir yang dibawa orang Banjar. Sampai kemudian, tercatat ada dua*) orang lokal yang berhasil menyalin kaji dan menjadi dadalang wayang Banjar, meskipun kualitasnya terbilang prematur bila harus tega dibandingkan dengan dalang Jawa atau Paguruannya dari Banjar. Namun anehnya, justru kelahiran prematur dalang  Buntok berikut kualitasnya yang diragukan, malah melahirkan wayang baru yang tak kalah unik, minimal setelah kisah wayang itu dituturkan kembali oleh nenek saya Jawiah binti Lelang kepada saya sebagai  cucunya. 

            Ilustrasinya mungkin begini. Ketika wayang asli atau wayang India (berhasil dan atau gagal) diadopsi orang  Jawa, orang  Jawa menciptakan wayang baru yang sesuai dengan kejawaannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau kemudian wayang asli mendapat anggota baru (putera daerah Jawa) seperti Wisanggeni, Ontoseno sampai Punakawan alias Kiyai Semar dan anak-anaknya. Meskipun skenario ceritera tetap kisah India sejati  tapi sudah ada sisipan  muatan lokal akibat bakincahnya para aktivis pendatang baru tadi.  Lalu tatkala wayang India telah benar-benar (diakui) menjadi Wayang Jawa Asli, kala itulah  wayang  "diambil" oleh Urang Banjar  sesuai kemampuannya. Hasilnya, keruwetan kisah India yang masih  "mampu" dipertahankan Wayang Jawa, mulai "gagal" dilidah Dalang Banjar. Siapa waruh siapa tambuk? Dari perkembangan selanjutnya, malah dalam beberapa kasus  wayang Banjar yang main di Buntok, bawayang justru kian menonjolkan sisipan Punakawannya saja daripada pakem asalnya. Terus, ketika wayang India yang telah di-Jawa-kan lalu di-Banjar-kan itu sampai juga ke Buntok, permintaan  pasar  atau selera rakyat Buntok yang sederhana justru "hanya" menantikan Punakawan saja dalam khasanah bawayang mereka. Sampai kemudian, karena keranjingan Punakawan berikut akibat  kegagalan nenek saya dalam mencerna lakon pewayangan, malah mematok kavling pewayangan baru dilingkungan keluarga kami. Itulah yang oleh nenek saya dinamakan Babagongan atau Wayang Epat. Artinya, bawayang bagi nenek saya hanyalah Lalakun Punakawan saja, dimana pemain utamanya adalah  si  endek  Bagong  Jambulita.
ARTIS WAYANG BUNTOK CUMA EMPAT, Plus...
            Kalau asalnya bawayang lakon utamanya adalah orang  India dan  kisah India, yang ketika di Jawa 'bertemu' Punakawan sebagai sisipan. Justru di Buntok lakon utamanya adalah Punakawan. Keterbatasan nenek saya dalam menyerap dan menceriterakan kembali kisah wayang kepada saya akhirnya malah mematok bahwa lakon utama wayang adalah Bagong plus ayahnya  Semar berikut kakaknya Petruk Onta dan Nala Gareng. Barulah kemudian artis Babagongan yang empat itu yang ketemu wayang-wayang lain dalam perjalanan hidup mereka yang penuh liku-liku. Artinya, telah terjadi pemutar-balikan rambu-rambu dan ideologi pewayangan di Kampung Buntok. Dan anehnya, revolusi itu justru terjadi di Buntok di lidah nenek saya Jawiah binti Lelang bin Karuang bin Rangkau yang buta huruf dan buta wayang. 
            Mungkin timbul pertanyaan, kenapa Babagongan atau Wayang Epat yang menyimpang justru ditampilkan kedepan? Jawabannya singkat saja. Saya hanya ingin menampakkan bahwa Babagongan atau Wayang Epat merupakan wayang khas Kalimantan Tengah yang mudah-mudahan dapat menjadi pilar seni budaya nasional. Ini yang pertama. Kedua, lewat  Baba­gongan saya ingin menjadikannya jembatan informasi yang dapat dibaca oleh Pemerintah dalam arti luas dan masyarakat pada umumnya. Karena apa? Sebab cukup banyak dinamika dalam masyarakat Kalteng yang mungkin belum sempat dibaca oleh pemerintah. Atau sebaliknya, cukup banyak informasi dari pemerintah yang kurang sampai kepada  rakyatnya. Singkatnya, kiranya Babagongan ini dapat menjadi sarana silaturrahim non formal  dalam bermasyarakat dan berpemerintahan di Propinsi Kalimantan Tengah, sebab seluruh isi dan kulit dalam lalakun Babagongan yang ditampilkan diusahakan semaksimal mungkin menyerap dinamika masyarakat Kalimantan Tengah yang sedang  aktif bergerak maju.
            Selamat menikmati....
 

*)         Dua orang lokal yang berhasil menjadi Dalang Wayang Banjar itu adalah Kai Pa' Baer (Kumis Saililah) dan  Julak  Pa' Anen (Juri).

Sabtu, 14 Juni 2014

KERIPIK SASUPAN, KERIPIK PUTRI MALU


Kembali Barsel Promo memasarkan keripik putri malu. Keripik yang dimaksud adalah keripik yang bahannya berasal dari tumbuhan air yang di daerah ini disebut sasupan banyu atau sasupan danum alias putri malu air. 
.
Tumbuhan ini sama sifatnya dengan putri malu pohon, hanya saja yang berbeda adalah tempat tumbuh dan bentuk batangnya saja. 
.
KERIPIK SASUPAN DANUM
Dalam bahasan daerah di Kalimantan secara umum putri malu disebut sasupan yang arti juga sama yakni pemalu. Dengan demikian tumbuhan perdu jenis ini memang memiliki kemiripan penyebutan namanya yang relatif sama sehingga mudah dikenali dimana-mana.
.
Keistimewaan dalam khazanah putri malu di Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah terutama di Kabupaten Barito Selatan, ada putri malu yang biasa dijadikan sayuran. Ciri daun, bunga dan sifat pemalunya sama dengan perdu mimosa pudica namun tumbuhnya di air dan hidup merayap seperti kangkung. Tumbuhan inilah yang dikenal dengan Sasupan danum atau sasupan banyu atau putri malu air. 
.
Sejak lama tumbuhan ini dijadikan sayur dan dimasak dengan nama masakan "Gangan Karuh"  (Bahasan Banjar)  atau "Juhu Keruh"  (Dayak Bakumpai/Ngaju Kapuas). 
.
Sasupan danum inilah yang dijadikan Keripik oleh juru masak Barito Raya Pro Buntok. Bahan dasar putri malu diperoleh dari danau Keladan di dalam kota Buntok. Pada musim hujan ini pertumbuhannya sangatlah subur sehingga bahan baku keripik menjadi lebih melimpah di pasar Terowongan Buntok.

KERIPIK USUS AYAM

Barsel Promo memasarkan satu lagi keripik sebagai produk terbaru yaitu keripik usus ayam. Keripik ini baru dibuat kemarin Kamis tanggal 12 Juni 2014 dan mulai dipasarkan hari ini Jum’at tanggal 13 Juni 2014 di Gerai Barsel Promo, Jalan Panglima Batur nomor 7, Karang Paci Ujung atau samping kantor Kejaksaan Negeri Buntok.
.
Keripik dijual seharga Rp. 20 ribu per bungkus, dikemas dalam paking alumunium foil dan dimaksudkan sebagai produk oleh-oleh khas Kabupaten Barito Selatan. Keripik ini diproduksi oleh Barito Raya Pro Buntok, nomor kontak 081349606504.
.
Semoga perkenalan ini bermanfaat adanya. Sekian dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
.

Minggu, 18 Mei 2014

BARSEL PROMO DIIKUTKAN KE KALTENG EXPO 2014 DI PALANGKA RAYA


Barsel Promo dibentuk sebagai upaya mewadahi adanya upaya membuat, mengembangkan dan memasarkan beraneka ciri khas daerah secara umum khususnya Kabupaten Barito Selatan. 
.
Upaya kecil kami ini dimulai dengan dibukanya gerai Barsel Promo di Jalan Panglima Batur nomor 7 Buntok tepat di simpang jalan Karang Paci atau samping kanan Kantor Kejaksaan Negeri Buntok dengan memasarkan Keripik Lambiding (kelakai), Keripik Paku, Keripik Putri Malu Air (Sasupan Danum), Keripik Lais dan Keripik Mandai. Disamping itu dipasarkan juga Stik Lambiding, Stik Paku, Stik Lancar Kujang, Stik Nanas, Stik Sayuran.
.
Kami juga memasarkan buku-buku buatan sendiri berjudul Nan Sarunai Usak Jawa (sejarah), Gigir Gampar Barito Raya (sejarah), Liang Saragi (legenda Bartim) dan Punakawan dalam Satire Dayak Besar (wayang Buntok).
.
Rupaya sayup-sayup upaya kecil ini mampu dirasakan oleh instansi tertentu di daerah ini sehingga mereka berkenan membeli dan membawa produk Barsel Promo guna dipajang pada even tahunan Kalteng Expo 2014 yang akan dilangsungkan tanggal 19 sampai 24 Mei 2014 di Palangka Raya.
 
Atas penghargaan ini maka kami Barsel Promo mengucapkan terima kasih kepada fihak Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Barito Selatan, khususnya Bapak Ir Suwandi yang berkenan membawa produk kami berupa Stik Paku, Stik Lambiding (kelakai) dan Stik Lancar Kujang.

Jumat, 18 April 2014

SOS (Save Orchids Seriously)

SOS

Save Orchids Seriously. Selamatkan anggrek kami secara serius. Bagai mana tidak? Setiap hari hutan menyusut. Kayu-kayu sebagai induk semang anggrek bertumbangan. Lereng-lereng lembah dan gunung kapur dikapling dan diekspoitasi demi tujuan ekonomi praktis. Katanya saja Gerakan Menanam Satu Miliar Pohon, toh penebangan sangat masif, terencana dan babat habis setiap harinya. Ramuk rakai himba kampung diubrak-ubrak-lunyak.
Agar anggrek asli masih bisa terlihat dan dinikmati sebaiknya Pemerintah menyiapkan pencadangan lahan sebagai tempat konservasi alami karena Barito Selatan belum memiliki kawasan konservasi alam baik flora maupun fauna. Kawasan seperti Bumi Perkemahan Pramuka "Lalemu Lewas" bisa dijadikan konservatori Anggrek Barsel karena kawasan itu memang habitat asli anggrek.

Adapun taman anggrek eks situ yang selama ini ada di Sanggu semakin perlu untuk lebih diperhatikan, bila perlu diperluas dan diseriusi penanganannya sehingga Sanggu yang selama ini identik dengan anggrek bisa lebih dikenali lagi.

Kami Barsel Promo melalui Nilam Orchid sudah membuka pusat penangkaran anggrek asli Barito Selatan di Jalan Keladan Nomor 47 Buntok dengan harapan dapat mendukung terus meningkatnya permintaan anggrek alam daerah ini dari luar daerah.

Kalau tidak ditangani dengan baik maka lambat laun anggrek asli akan hilang akibat hutannya hilang atau penjarahan aset alam yang tidak terkendali. Ingat..., hukum suplai dan deman berlaku dinamis di sini saat ini.

Kontak kami Maidi Al Harits nomor 0852 4951 3880.

KITA APAKAN POTENSI KAMPUNG TERAPUNG BAMBALER

Dusun Bambaler adalah anak desa Baru, kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Kampung ini adalah kampung nelayan terapung yang berada di atas sungai Maliau, anak sungai Barito. Dengan demikian semua rumah penduduk mengambang diatas perairan.

Seluruh penduduk adalah nelayan tangkap yang mengusahakan ikan sungai dan danau yang mengelilingi kampungnya. Hasil tangkapan langsung dijual namun sebagian yang tidak memenuhi ukuran dipelihara di keramba apung yang berada disekitar rumah tinggal.
Mobilitas untuk lalu lintas penduduk adalah perahu jukung atau kelotok. Oleh karena itu setiap hari kita saksikan lalu lintas perahu seliweran di atas sungai Maliau, baik anak-anak yang pergi ke sekolah atau penduduk dewasa yang pergi untuk berbagai keperluan.
Bagus memang kawasan ini dijadikan obyek wisata alam karena hutan alam yang mengelilinginya masih orisinil dan satwa asli masih bebas berkeliaran disekilingnya. Namun apa bisa ya..., inilah pertanyaan. Sayang kalau tidak digarap karena jaraknya dengan Buntok hanya sekitar 40 menit naik kelotok.

Kamis, 17 April 2014

SOS (Save Orchids Seriously)

SOS
Save Orchids Seriously. Selamatkan anggrek kami secara serius. Bagai mana tidak? Setiap hari hutan menyusut. Kayu-kayu sebagai induk semang anggrek bertumbangan. Lereng-lereng lembah dan gunung kapur dikapling dan diekspoitasi demi tujuan ekonomi praktis. Katanya saja Gerakan Menanam Satu Miliar Pohon, toh penebangan sangat masif, terencana dan babat habis setiap harinya. Ramuk rakai himba kampung diubrak-ubrak-lunyak.
Agar anggrek asli masih bisa terlihat dan dinikmati sebaiknya Pemerintah menyiapkan pencadangan lahan sebagai tempat konservasi alami karena Barito Selatan belum memiliki kawasan konservasi alam baik flora maupun fauna. Kawasan seperti Bumi Perkemahan Pramuka "Lalemu Lewas" bisa dijadikan konservatori Anggrek Barsel karena kawasan itu memang habitat asli anggrek.
Adapun taman anggrek eks situ yang selama ini ada di Sanggu semakin perlu untuk lebih diperhatikan, bila perlu diperluas dan diseriusi penanganannya sehingga Sanggu yang selama ini identik dengan anggrek bisa lebih dikenali lagi.
Kami Barsel Promo melalui Nilam Orchid sudah membuka pusat penangkaran anggrek asli Barito Selatan di Jalan Keladan Nomor 47 Buntok dengan harapan dapat mendukung terus meningkatnya permintaan anggrek alam daerah ini dari luar daerah.
Kalau tidak ditangani dengan baik maka lambat laun anggrek asli akan hilang akibat hutannya hilang atau penjarahan aset alam yang tidak terkendali. Ingat..., hukum suplai dan deman berlaku dinamis di sini saat ini.
Kontak kami Maidi Al Harits nomor 0852 4951 3880.

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...