Senin, 30 Mei 2011

KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN ISLAM SECARA JUJUR (2)

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok pada tanggal 3 Juni 2011



Khutbah Pertama



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Khutbah kali ini menitik-beratkan penekanan pada 2 (dua) dari tiga ayat khutbah hajah di atas yaitu surah Ali Imran 102 dan Al Ahzab 70-71.

Allah SWT berfirman dalam Ali Imran 102: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.”

Jamaah yang berbahagia.

Pesan takwa ini bukanlah pesan yang gampang dan sembarangan. Allah yang memerintahnya, wajib kita mengamalkannya: “BERTAQWA SAMPAI MATI”, dan “MATI DALAM TAQWA YG SEBENARNYA.”

Lalu apa pesan-pesan lain taqwa selanjutnya? Allah berfirman dalam surah Al Baqarah 1-2: ""1. Alif Laam Miim. 2. Itulah al Kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertaqwa,”


Bentuk pesan taqwa dalam konteks ini adalah orang-orang yang beriman itu, adalah mereka-mereka yang bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan mereka tidak akan mati melainkan dalam keadaan Muslim, yaitu berpetunjuk dengan al Kitab Al Qur’an. Jadi orang yang berpetunjuk dengan Al Qur’an adalah mereka yang benar-benar bertakwa.

Kemudian dalam surah Al Baqarah ayat 185 Allah berfirman: Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).

Dalam ayat ini menekankan pesan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi manusia: “hudan linnas”, sehingga siapa pun yang tidak berpetunjuk kepadanya berarti “bukan manusia”. Maknanya, orang yang bertaqwa: yang hanya berpetunjuk kepada Al Qur’an, yang selanjutnya mengambil penjelas atas petunjuk-petunjuk itu dengan Al Qur’an pula, serta menempatkan Al Qur’an sebagai FURQAN: PEMBEDA, pemilah antara yang hak dan batil, alat ukur menentukan antara yang salah dengan yang benar, -- maka merekalah orang-orang bertaqwa dan benar taqwanya. Dengan demikian orang bertaqwa merupakan manusia yang sebenarnya, insan kamil, karena merekalah orang-orang yang beruntung.

Allah berfirman dalam surah At Tin 4-5 : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”.

Dengan demikian, orang bertaqwa adalah sebenar-benarnya manusia, sebaik-baik ciptaan…, sedangkan yang tidak beriman…, bukan manusia karena tempat mereka sangat hina.

Jamaah Jumat yang mulia.

Selanjutnya pesan taqwa berikutnya adalah surah Al Ahzab 70-71: "(33:70). Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (33:71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagi kamu dosa-dosa kamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Pesan taqwa ayat ini menunjukkan korelasi pasti bahwa orang yang benar-benar bertakwa adalah mengucapkan perkataan yang benar. Orang taqwa adalah orang jujur. Artinya, satu ciri orang bertakwa adalah ucapannya benar. Ayat ini juga jelas, berkata benar merupakan taubat karena Allah menjadikan perkataan yang benar sebagai wasilah perbaikan amal dan pengampunan dosa. Dengan demikian, seorang khatib yang berkhutbah adalah bertaubat kepada Allah, bukan mencari-cari pengikut atau tujuan lainnya.



Jamaah jum’at yang budiman.

Lalu apa perkataan yang benar itu? Salah satu jawabannya ada dalam khutbah hajah di atas, yaitu:


فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sebaik-baik perkataan/ucapan adalah kitab Allah (Al Qur'an) dan dan sebaik-baik petunjuk (hudan) adalah petunjuk Muhammad SAW".

Maksudnya, ucapan yang benar itu, perkataan yang benar dan petunjuk yang benar itu, adakah yang bukan berasal dari petunjuk Muhammad? Kalau ada maka ayat yang mana dari ayat-ayat Al Qur’an itu yang tidak berasal dari petunjuk atau ucapan Muhammad?


Sebaliknya,
وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
"Seburuk-buruk urusan dalam Islam adalah sesuatu yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan seluruh bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."

Kembali kepada Al Baqarah ayat 1-2: "Alif Laam Miim. Kitab itu (Al Qur'an), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Maka kita faham bahwa sebaik-baik perkataan adalah Al Qur'an, sebaik-baik hudan (petunjuk) adalah yang dibawa Muhammad yakni Al Qur'an. Jelas, semua ayat-ayat Al Qur'an berasal dari ucapan Muhammad.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.


Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Setiap sholat kita melantunkan do’a al Fathihah. Tidak ada sholat tanpa ummul kitab Al Fathihah. Apa doa kita itu? (1:6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, (1:7) ”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Lalu apa jawabannya? Salah satunya Allah berfirman dalam Al Baqarah 1-2 tadi: “1. Alif Laam Miim. 2. Itulah al Kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertaqwa,”

Dengan begitu, doa kita dikabulkan Allah dengan Al Qur’an. Setiap kita berdoa al Fathihah, setiap itu pula dikabulkan Allah dengan jawaban yang sama. Tapi sudahkah kita menerima Al Qur’an? Sudahkah kita tidak mendustai doa dan jawaban doa kita sendiri? Wallahu a’lam.

Jamaah Jum’at yang mulia.

Sekali lagi, apakah kita manusia? Secara jasadi, iya. Tapi dari sisi pandang Allah.., wallahu a'lam, karena kita memakai Al Qur'an terkadang saja. Berbagai macam alasannya, karena kita pintar. Kita ini juara pidato, kita pemenang debat. Lihai kita membenarkan kekafiran kita. Buktinya apa? Salah satu yang ringan adalah hadits dari khutbah hajah tadi.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam riwayat Imam Muslim dan An Nasa'i, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Adalah Rasulullah SAW apabila beliau berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, sehingga seolah-oleh beliau memberi komando di medan perang dengan berkata: "(Musuh) akan menyerang kalian dipagi dan petang." Beliau juga bersabda: "Amma ba'du. Sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejahat-jahat urusan adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat." Dan Imam Nasa'i menambahkan: "Dan setiap yang sesat tempatnya di neraka." Singkat haditsnya:


وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

"Seburuk-buruk urusan (dalam Islam) adalah sesuatu yang diada-adakan, dan semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."
(Hadits dikutip dari Terjemah Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al Asqalani).



Jamaah Jum'at yang berbahagia

Hadits diatas memberi petunjuk agar khatib berkhutbah di mimbar dengan merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya. Seolah-oleh khatib memberi komando di medan perang. Lalu apa yang terjadi dengan kita sekarang? Adakah khatib-khatib mengamalkan sebaik-baik petunjuk dari Muhammad atau malah sudah merubah khutbah jum’at menjadi obat tidur siang bagi jamaahnya, wallahu a'lam.

Kemudian hadits ini menegaskan: "Kullu bid'atin dholaalah" = semua bid'ah itu sesat ", lalu kenapa kita mengatakan "tidak semua bid'ah itu sesat"? Karena kita percaya ada "bid'ah hasanah". Apakah anda tidak sadar dimana celakanya bid'ah hasanah? Kalau Nabi mengatakan semua bid'ah itu sesat maka kita menentang nabi dengan mengatakan tidak semuanya bid'ah itu sesat. Dengan demikian, percaya kepada bid'ah hasanah berarti tidak percaya kepada “kullu bid’atin dholalah”. Selanjutnya…, bid’ah hasanah mengakibatkan "tidak semua yang sesat itu di neraka". Lalu artinya apa? Artinya, adanya bid'ah yang baik (bid'ah hasanah), berati ada juga sesat yang baik (dholalah hasanah). Apa akhirnya…, kalau pun masuk neraka maka masuknya ke neraka yang baik atau naarul hasanah. Bid'ah hasanah atau kesesatan yang baik telah merubah wajah Islam karena matinya masuk neraka yang baik. Adakah sesat yang baik, juga neraka yang baik?

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 42: "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahuinya." Haram mencampur-aduk dholalah dengan hasanah.

Akhirnya kita tutup dengan firman Allah yang lain, surah Al Furqan 30-31: [25:30] Berdoalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang diacuhkan". [25:31] Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


Kuala Kapuas, 29 Mei 2011





Jumat, 06 Mei 2011

PRO >< KONTRA ( 1 ) : KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN ISLAM SECARA JUJUR

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok pada tanggal 22 April 2011


Oleh : Syamsuddin Rudiannoor




Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Khutbah kali ini menitik-beratkan penekanan pada salah satu ayat dari tiga ayat dalam khutbah hajah diatas yaitu surah Al Ahzab ayat 70-71:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (33:71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagi kamu dosa-dosa kamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Dari ayat ini jelas bahwa salah satu korelasi pasti dari orang-orang yang benar-benar bertakwa adalah mengucapkan perkataan yang benar. Artinya, salah satu ciri orang bertakwa adalah berkata benar. Di dalam ayat ini juga jelas bahwa berkata benar merupakan taubat karena Allah menjadikan perkataan yang benar sebagai wasilah memperoleh perbaikan amalan-amalan dan wasilah pengampunan atas dosa-dosa kita. Dengan demikian, seorang khatib yang berkhutbah adalah bertaubat kepada Allah, bukan mencari dukungan jamaah, menipu jamaah apalagi berkampanye mencari-cari pengikut.

Lalu apa perkataan yang benar itu? Salah satu jawabannya ada dalam khutbah hajah diatas, yaitu:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sebaik-baik perkataan/ucapan adalah kitab Allah (Al Qur'an) dan dan sebaik-baik petunjuk (hudan) adalah petunjuk Muhammad SAW".


Sebaliknya, وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
"Seburuk-buruk urusan dalam Islam adalah sesuatu yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan seluruh bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."

Selanjutnya Allah juga berfirman dalam Al Baqarah ayat 1-2: "Alif Laam Miim. Kitab itu (Al Qur'an), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Dengan demikian kita faham bahwa sebaik-baik perkataan adalah Al Qur'an dan sebaik-baik hudan (petunjuk) yang dibawa Muhammad Rasulullah adalah juga Al Qur'an. Apakah ada ayat-ayat Al Qur'an yang bukan berasal dari ucapan Muhammad?



Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Allah juga berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 185: "Bulan ramadhan, bulan yang didalamnya di turunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan atas petunjuk itu dan sebagai pembeda (atas haq atau batilnya sesuatu)".

Artinya Al Qur'an adalah petunjuk bagi manusia. Maka siapa pun yang tidak berpetunjuk kepada Al Qur'an maka bukan manusia. Hudan lin naas = petunjuk bagi manusia, siapa yang anti Al Qur'an maka bukan manusia. Selanjutnya Al Qur'an juga menjadi penjelas atas petunjuk itu, juga sebagai alat ukur untuk membedakan yang benar dari yang salah.

Apakah kita ini manusia? Wallahu a'lam, karena terkadang kita memakai Al Qur'an, terkadang juga menentang petunjuk Al Qur'an dengan berbagai macam alasan. Buktinya apa? Salah satu yang paling ringan adalah hadits dalam bagian dari khutbah hajah tadi, Rasulullah SAW telah bersabda dalam riwayat Muslim dan An Nasa'i, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Adalah Rasulullah SAW apabila beliau berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, sehingga seolah-oleh beliau sedang memberi komando di medan perang dengan berkata: "(Musuh) akan menyerang kalian dipagi dan petang." Beliau juga bersabda: "Amma ba'du. Sebaik-baik/sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejahat-jahat urusan adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat." Dan Imam Nasa'i menambahkan: "Dan setiap yang sesat tempatnya di neraka." Singkat haditsnya:

وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

"Seburuk-buruk urusan (dalam Islam) adalah sesuatu yang diada-adakan, dan semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."




Jamaah Jum'at yang berbahagia.
Hadits diatas memberi petunjuk bahwa khatib berkhutbah di mimbar dengan merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, seolah-oleh sedang memberi komando di medan perang. Lalu apa yang terjadi dengan kita sekarang? Adakah khatib-khatib mengamalkan sebaik-baik petunjuk dari Muhammad atau malah sudah berubah menjadi obat tidur siang bagi jamaahnya, wallahu a'lam.

Kemudian didalam hadits ini sudah tegas: "Kullu bid'atin dholaalah" = semua bid'ah itu sesat ", lalu kenapa kita mengatakan "tidak semua bid'ah itu sesat", karena percaya "bid'ah hasanah". Apakah anda tidak sadar dimana celakanya bid'ah hasanah? Kalau Nabi sudah mengatakan semua bid'ah itu sesat maka kita menentang nabi dengan mengatakan tidak semuanya bid'ah itu sesat. Dengan demikian bid'ah hasanah mengakibatkan "tidak semua yang sesat itu di neraka". Lalu artinya apa? Artinya, ada bid'ah yang baik (bid'ah hasanah), ada sesat yang baik (dholalah hasanah), dan akhirnya kalau pun masuk neraka maka masuknya ke neraka yang baik atau naarul hasanah. Bid'ah hasanah atau kesesatan yang baik telah merubah wajah Islam karena kalau pun mati maka akan masuk ke neraka yang baik juga. Adakah bid'ah hasanah = sesat yang baik = neraka yang baik. Apakah ada kesesatan yang hasanah, wallahu a'lam.



Jamaah Jum'at yang berbahagia.

Dengan khutbah yang sederhana ini saya berusaha mengamalkan surat Al Ahzab 70-71 tadi. Semoga Allah memperbaiki amal-amal ibadah kita dan mengampuni bagi kita segala dosa-dosa kita, amin.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 42: "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahuinya."

Lalu apa al-Haq itu? Itulah Islam, sebagaimana firman Allah dalam surah yang lain: "Al Haq itu datangnya dari Tuhanmu maka janganlah kamu termasuk yang ragu-ragu."



أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





Khutbah kedua:


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.



Jamaah Jum'at yang berbahagia.

Ayat yang dibacakan ini (QS Ali Imran 102) memerintahkah kita bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa dan jangan sampai kita mati kecuali didalam ketaqwaan itu. Dan salah satu indikasi ketaqwaan adalah mengucapkan perkataan yang benar (wa quulu qawlan syadiida). Mudah-mudahan kita dimampukan mengucapkan perkataan yang benar, paling tidak apabila Rasulullah sudah mengatakan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka, maka marilah mengucapkan dengan ucapan yang sama dengan Rasulullah.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah 285: "Rasul telah beriman kepada (Al Qur'an ) yang diturunkan kepadanya dari Rabb-Nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya berima kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): "Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari rasul-rasul Allah." (Mereka berkata) : "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami wahai tuhan kami dan kepada-Mu lah kami akan kembali."

Itulah sebagian dari perkataan-perkataan yang benar. Saya tutup uraian ini dengan surah Al Furqan 30-31: "Berkatalah Rasul: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaum ku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang tidak diperdulikan!" (25:31) Allah berfirman: "Begitulah kelakuan kalian, karena Kami telah mengadakan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu saja yang menjadi pemberi petunjuk dan penolong!"



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.



Buntok, 20 April 2011

Kamis, 28 April 2011

BERKENALAN DENGAN DAJJAL

oleh Syamsuddin Rudiannoor


Saya sangat berterima kasih kepada blog "Misteri Dunia" yang menulis "Siapa Dajjal?" Karena sangat pentingnya pengetahuan ini maka saya bagikan untuk kita sekalian.

Dajjal kabarnya adalah seorang manusia keturunan Yahudi. Dia bukan jin atau apa pun makhluk lain. Dia adalah manusia yang ditangguhkan ajalnya seperti Nabi Isa yang di angkat Allah ke langit dan ditangguhkan kematiannya. Nabi Isa nantinya turun ke bumi lalu beliau akan mati dan di kuburkan di Madinah Al Munawwarah. Sama juga halnya dengan Iblis yang terlebih dahulu ditangguhkan kematiannya hingga kiamat nanti.

Ayah Dajjal adalah seseorang yang berperawakan tinggi dan gemuk. Hidungnya seperti paruh burung. Ibunya seorang perempuan gemuk dan banyak dagingnya. Menurut Imam Al Barzanji ada pendapat bahwa asal keturunan bapaknya ialah seorang Dukun Yahudi yang dikenali dengan “syaqq”. Sementara ibunya adalah dari bangsa Jin. Inilah cerita singkat orang tua Dajjal. Sedangkan Dajjal sendiri hidup di zaman Nabi Sulaiman dan mempunyai hubungan dengan makhluk halus. Lalu oleh Nabi Sulaiman ia akhirnya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Walau bagaimana pun kelahiran dan kehidupan masa kecilnya tidak diketahui dengan jelas.

Hadits Huzaifah ra berkata: Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Dajjal ialah orang yang buta matanya sebelah kiri, lebat rambutnya serta mempunyai Syurga dan Neraka. Nerakanya adalah Syurga dan Syurganya adalah Neraka (Sahih Muslim).

Beberapa ciri perawakan Dajjal disebutkan dalam hadis Rasulullah saw, diantaranya: "(Dajjal) seorang yang kelihatannya masih muda; berbadan besar dan agak kemerah-merahan; Rambutnya kerinting dan tebal. Kelihatan dari belakang seolah-olah dahan kayu yang rimbun. Dan tandanya yang paling kentara adalah: Pertama: Buta mata kirinya dan kelihatan seperti buah kismis yang kecut, mata kanannya tertonjol keluar kehijau-hijauan berkelip-kelip laksana bintang. Jadi kedua-dua matanya adalah cacat. Kedua: Di dahinya tertulisan “Kaf-Fa-Ra” (kafir). Tulisan ini dapat dibaca oleh setiap orang Islam, apakah pandai membaca ataupun tidak."

Mengikut hadits riwayat At-Thabrani, kedua-dua tanda ini menjelma dalam diri Dajjal setelah dia mengaku sebagai Tuhan. Adapun sebelum itu, kedua-dua tanda yang terakhir belum ada.

Menurut riwayat sahih dalam kitab “Shahih Muslim”, Dajjal sudah ada sejak lama. Ia dirantai di sebuah pulau dan ditunggui oleh seekor binatang yang bernama “Al-Jassasah”. Dalam hadits ini jelaslah bahwa Dajjal telah ada dan ia menunggu masa yang diizinkan Allah untuk keluar menjelajah permukaan bumi dan tempat “transitnya” ialah di sebelah Timur bukan di Barat.

Dajjal akan hidup sejak ia memulai huru-hara kepada umat ini selama empat puluh hari saja. Namun satu hari pertamanya adalah sama dengan setahun dan hari keduanya sama dengan sebulan dan hari ketiganya sama dengan satu minggu, dan hari-hari lainnya lagi sama seperti hari-hari biasa. Jadi keseluruhan masa Dajjal membuat fitnah dan kerusakan ialah 14 bulan dan 14 hari. Dalam Hadis Muslim disebutkan: Kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Berapa lamakah ia akan tinggal di muka bumi ini?" Nabi saw menjawab: "Ia akan tinggal selama empat puluh hari. Hari yang pertama seperti setahun dan hari berikutnya seperti sebulan dan hari ketiga seperti seminggu. Kemudian hari yang masih tinggal lagi (yaitu 37 hari) adalah sama seperti hari kamu yang biasa". Lalu kami bertanya lagi: "Wahai Rasulullah saw! Di hari yang panjang seperti setahun itu, apakah cukup bagi kami hanya sholat sehari saja (5 waktu saja)?". Nabi saw menjawab: "Tidak cukup. Kamu mesti menghitung hari itu dengan menentukan kadar yang bersesuaian bagi setiap sholatmu.”

Maksud sabda Rasulullah saw ini ialah supaya kita menghitung ulang jam yang berlalu pada hari itu, bukan lagi mengikuti perjalanan matahari seperti biasanya. Misalnya sudah berlalu tujuh jam selepas sholat Subuh pada hari itu maka masuklah waktu sembahyang Dhuhur, maka hendaklah kita sholat Dhuhur. Dan apabila telah berlalu selepas sholat Dhuhur itu tiga jam setengah, misalnya, maka masuklah waktu Ashar, maka wajib kita sholat Ashar. Begitulah seterusnya waktu Sholat Maghrib, Isya, Subuh dan seterusnya hingga habislah hari-hari yang panjang itu sama panjangnya dengan masa satu tahun dan bilangan sholat pun pada sehari sebanyak bilangan sholat setahun yang kita lakukan. Begitu juga pada hari Kedua dan ketiga

Dajjal telah diberi peluang oleh Allah untuk menguji umat ini. Oleh kerana itu, Allah memberikan kepadanya beberapa kemampuan yang luar biasa, diantaranya:


A. Segala kesenangan hidup akan ada bersama dengannya.

Benda-benda beku akan mematuhinya. Sebelum kedatangan Dajjal, dunia Islam akan diuji dahulu oleh Allah dengan kemarau panjang selama 3 tahun berturut-turut. Pada tahun pertama hujan akan kurang sepertiga dari biasanya dan pada tahun kedua akan kurang 2/3 dari biasa dan tahun ketiga hujan tidak akan turun langsung. Umat akan dilanda kelaparan dan kekeringan. Di saat itulah Dajjal akan muncul membawa ujian. Maka daerah mana yang percaya Dajjal adalah Tuhan, maka ia akan berkata kepada awan: Hujanlah kamu di daerah ini! Lalu hujan pun turun dan bumi menjadi subur. Begitu juga ekonomi dan perdagangan akan menjadi makmur dan stabil bagi orang-orang yang bersekutu dengan Dajjal. Manakala penduduk suatu negeri tidak mau bersukutu dengan Dajjal maka mereka akan tetap berada didalam kelaparan dan kesusahan.

Diriwayatkan para penyokong Dajjal akan memiliki segunung roti (makanan) sedangkan orang yang tidak percaya dengannya berada dalam kelaparan dan kekeringan. Para sahabat Rasullullah saw bertanya: ”Jadi apa yang dimakan oleh orang Islam yang beriman pada hari itu wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: ”Mereka akan merasa kenyang dengan bertahlil, bertakbir, bertasbih dan bertaubat. Jadi zikir-zikir itu yang akan menggantikan makanan mereka.” HR Ibnu Majah


B. Ada bersamanya seumpamanya Syurga dan Neraka:

Diantara ujian Dajjal ialah kelihatan bersamanya seumpama syurga dan neraka, dan juga sungai air dan sungai api. Dajjal akan menggunakan kedua-duanya untuk menguji iman orang Islam karena hakikat yang benar adalah kebalikan dari apa yang kelihatan. Apa yang dikatakan Syurga sebenarnya Neraka dan apa yang dikatakannya Neraka maka itulah Syurga.


C. Kehebatan perjalanan dan Negeri-Negeri yang tidak dapat dimasukinya:

Kehebatan yang dimaksudkan ini adalah kecepatannya dalam perjalanan. Kami bertanya:"Wahai Rasulullah! Bagaimana kehebatan perjalanannya di atas muka bumi ini?" Nabi menjawab: ”Kehebatan perjalanannya adalah seperti kecepatan “Al Ghaist” (hujan atau awan) yang dipukul oleh angin yang kencang.” H.R Muslim

Namun demikian, Dajjal tetap tidak dapat memasuki dua kota suci umat Islam yaitu Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah.


D. Bantuan Syaitan-Syaitan untuk memperkukuhkan kedudukannya:

Syaitan juga akan bekerja keras membantu Dajjal. Bagi syaitan, inilah saat-saat yang terbaik untuk menyesatkan lebih banyak lagi anak cucu Adam.

Dst......

TIGA TANDA KIAMAT YANG HARUS DIANTISIPASI DEWASA INI




Era Muslim.com (Saturday, 23/05/2009 21:28 WIB) bersama Ustadz Ihsan Tanjung menampilkan "Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini".

Banyak orang barangkali belum menyadari bahwa kondisi dunia dewasa ini ialah kondisi dimana hampir segenap tanda-tanda kecil Kiamat yang diprediksikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah bermunculan semua. Coba perhatikan beberapa contoh tanda-tanda kecil Kiamat berikut ini:

* Dan perceraian banyak terjadi ويكثر الطلاق

* Dan banyak terjadi kematian mendadak (tiba-tiba) و الموت الفجاء

* Dan banyak mushaf diberi hiasan (ornamen) و حلية المصاحف

* Dan masjid-masjid dibangun megah-megah و زخرفت المساجد

* Dan berbagai perjanjian dan transaksi dilanggar sepihak و نقضت العهود

* Dan berbagai peralatan musik dimainkan و استعملت المأزف

* Dan berbagai jenis khamr diminum manusia و شربت الخمور

* Dan perzinaan dilakukan terang-terangan و فخش الزنا

* Dan para pengkhianat dipercaya (diberi jabatan kepemimpinan) و اؤتمن الخائن

* Dan orang yang amanah dianggap pengkhianat (penjahat/teroris) و خون الأمين

* Tersebarnya Pena (banyak buku diterbitkan) ظهور القلم

* Pasar-pasar (Mall, Plaza, Supermarket) Berdekatan تتقارب الأسواق

* Penumpahan darah dianggap ringan استخفاف بالدم

* Makan riba أكل الربا

Jadi kalau kita perhatikan, contoh-contoh di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita ini. Bahkan bila kita buka kitab para Ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera ber gumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!” Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits. Laa haula wa laa quwwata illa billah....

MANUSIA MODEREN MULAI MENEMUI TANDA TANDA AKHIR ZAMAN

Oleh Syamsuddin Rudiannoor


Kalangan tertentu sudah Promo Hari Kiamat yang katanya akan terjadi pada tanggal 21 Mei 2011. Lalu bagai mana dengan kita? Apakah kita percaya ...., peduli...., tidak tahu ...., tidak mau tahu...., atau bagai mana...?

Berkata Ali bin Abi Thalib: "Akan datang suatu masa dimana Islam hanya tinggal namanya saja, agama hanya bentuknya saja, Al-Qur'an hanya dijadikan bacaan saja, giat mendirikan masjid namun masjidnya sunyi dari zikir kepada Allah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu adalah para ulama karena dari merekalah timbulnya fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga. Dan kesemua yang tersebut itu adalah tanda-tanda hari kiamat."

Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak larisnya jualan di pasar, sedikit hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi dan merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik bersuara lantang di masjid, dan para ahli mungkar lebih menonjol dari ahli haq"

Sabda Rasulullah S.A.W, "Apabila harta orang kafir dihalalkan tanpa alasan peperang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar ilmu selain daripada agama, laki-laki taat kepada isterinya lalu durhaka kepada ibunya, manusia lebih akrab dengan temannya dan menjauhi ayahnya, suara-suara lantang di dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari kalangan orang-orang fasik, orang dimuliakan karena takut akan kejahatan dan aniayanya dan bukan takut karena Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamat."

Sesungguhnya...., masih banyak lagi tanda-tanda lain yang telah diucapkan Rasulullah SAW dan perlu dicermati satu demi satu. Yang pasti, kitab suci Al Qur'an juga sudah dengan tegas membicarakannya: KIAMAT.

Sabtu, 18 Desember 2010

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Oleh: SYAHGIAN

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Maasiral muslimin rahimakumullah.

Hari Selasa yang lalu pada tanggal 7 Desember 2010 kita berada dalam tanggal 1 Muharram 1432 Hijriyah, dimana menurut kebiasaan orang Islam di Indonesia dirayakan sebagai Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriyah. Tidak pernah Rasulullah dan para sahabat, bahkan para tabi’in dan tabi’ut tabi’in merayakan tahun baru hijriyah tersebut, akan tetapi kita disini di Indonesia ini merasa wajib untuk merayakannya.

Penetapan Tahun Hijiyah baru ada setelah Rasulullah wafat yaitu ditetapkan dimasa Khalifah Umar bin Khaththab atas usul Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Itupun bukan untuk diperingati akan tetapi untuk menggantikan Kalender Jahiliyah. Lalu kenapa hadirin, kita merayakan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh syariat? Alasan mereka untuk mengenang sejarah Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dan kata mereka lagi, kalau orang Nashrani merayakan Tahun Baru Masehi maka ummat Islam pun wajib merayakan Tahun Baru Hijriyah sebagai syiar Islam. Inilah alasan akal mereka, alasan yang dibuat-buat untuk menambah-nambah syariat didalam Islam.

Akan tetapi hadirin, apa pun alasannya tetap saja perbuatan tersebut tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul sebagaimana sabda Rasulullah:

”Man amila amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun”

”Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka itu tertolak”. (Hadits Riwayat Muslim)

Dan juga sabda Beliau:

وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

”Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam beragama karena yang diada-adakan dalam beragama adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Hari Sabtu yang akan datang, tepatnya tanggal 25 Desember 2010, orang-orang Nashrani merayakannya sebagai Hari Natal atau hari kelahiran Yesus Kristus. Karena ummat Kristen merayakannya maka ummat Islam pun meniru-niru kelakuan orang kafir itu dengan ikut-ikutan merayakan hari natal Nabi Muhammad atau hari raya Maulid pada tanggal 12 Rabiul Awwal, padahal jauh-jauh hari Rasulullah telah memperingatkan kita dengan sabdanya:

”Man tasabbaha bi qoumin fawuwa minhum”

”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka termasuk bagian dari mereka” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Lantaran ada diantara kita yang merayakan tahun baru hijriyah dan maulid Nabi namun ada pula yang menentangnya maka terpecah-belahlah ummat ini, padahal agama Islam ini sudah sempurna sejak Al Qur’an surah Al Maidah ayat 3 difirmankan kepada Muhammad: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu”.

Dari ayat ini, hadirin, dapat kita fahami bahwa Islam ini sudah sempurna sejak ayat ini turun, lalu kenapa di abad 20 dan 21 ini kita tambahkan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan Rasul dan para sahabat padahal ayat diatas menjelaskan bahwa agama Islam telah sempurna, tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi, maka orang-orang yang mengadakan perayaan tahun baru Hijriyah, Maulid Nabi atau pun yang lainnya yang dibuat-buat setelah Rasulullah wafat berarti menentang ayat ini dan menganggap agama Islam belum sempurna sehingga masih perlu ditambah-tambahi.


Hadirin Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dirahmati Allah SWT.

Sebelum kita berada didalam suasana hari raya Natal pada Sabtu yang akan datang, maka khutbah kali ini akan membahas beberapa hal tentang haramnya mengucapkan selamat Natal kepada orang kafir sebagai mana firman Allah:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”

Allah juga berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.


Hadirin yang mudah-mudahan dimuliakan Allah.

Tanggal 25 Desember diyakini oleh sebagian besar orang-orang Nashrani sebagai hari raya Natal atau hari kelahiran Yesus Kristus. Mereka yakin Yesus dilahirkan di kandang domba pada musim salju. Akan tetapi benarkah Yesus lahir tanggal 25 Desember dalam keadaan seperti itu? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab karena ada beberapa versi yang berbeda tentang seputar kelahiran Yesus Kristus itu. Dilihat dari sudut sejarah kelahiran Yesus ini tidak ada keterangan yang pasti.

Ada yang mengatakan bulan April, ada yang menyebutkan bulan September dan ada juga juga yang meyakininya bulan Januari bahkan sebagian ummat Kristen sendiri ada yang tidak merayakan hari Natal karena simpang-siurnya informasi seputar pastinya kelahiran Yesus tersebut. Sebagai mana yang terjadi di Gereja Ortodox Rusia, menetapkan hari Natal pada tanggal 7 Januari sedangkan ummat Nashrani pada umumnya merayakan Natal pada tanggal 25 Desember.

Hadirin yang berbahagia.

Dengan adanya peringatan hari kelahrian Isa Al Masih ini maka Allah telah banyak menguji kaum muslimin sehingga banyak ummat Islam yang ikut merayakannya, ikut memberikan ucapan selamat Natal bahkan ummat Islam pun ikut-ikutan membuatkan hari raya Natal untuk nabinya Muhammad pada tanggal 12 Rabiul Awwal yang jelas-jelas menyalahi ketentuan Al Qur’an dan sunnah Rasul.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS An Nisa 59).

Lalu bagaimana pendapat Islam tentang hari kelahiran Isa Al Masih putra Maryam itu? Al Qur’an telah memberikan kisah untuk dicermati mengenai sejarah kelahiran Isa Putra Maryam tersebut dengan firman-Nya surah Maryam ayat 23-25:

[19:23] Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan".


[19:24] Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.


[19:25] Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,

Hadirin, cobalah kita renungkan ayat diatas dan mari kita jawab pernyataan Al Qur’an tadi khususnya surah Maryam ayat 23 sampai 25.

Pertama, mereka mengatakan Isa Al Masih dilahirkan di kandang domba pada musim salju akan tetapi Allah dengan tegas menyebutkan bahwa Isa dilahirkan di tepi sungai yang mengalir di bawah pohon kurma yang nyatanya pohon kurma itu hanya akan berbuah pada musim panas saja.

Kedua, apakah mungkin Maryam melahirkan di bawah pohon kurma pada musim salju bulan Desember sedangkan menurut kajian ilmu Geografi dan Ilmu Alam lainnya bahwa pohon kurma hanya akan berbuah dimusim panas saja. Sedangkan opini yang muncul seputar perayaan Natal adalah adanya salju dan pohon cemara yang secara nyata sangat sulit bisa tumbuh di gurun pasir, terlebih lagi ditambah dengan adanya Sinterklas dan aneka asesoris lainnya di hari Natal yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan musim panas disaat pohon kurma berbuah. Sekarang telepon saja ke Arab atau Palestina, tanyakan apakah bulan Desember itu musim panen buah kurma? Ternyata tidak hadirin. Maka dari sini anda pasti tahu bahwa Isa Putra Maryam tidak mungkin lahir pada bulan Desember karena musim kurma masak bukan bulan Desember.

Ketiga, Allah juga berfirman dalam surah Al Mukminun ayat 50, disamping surah Maryam 25 tadi:


[23:50] Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.

Coba kita perhatikan ayat Allah ini. Allah menegaskan kepada kita bahwa Maryam dan anaknya Isa dilindungi Allah di tempat pengasingannya yang jauh (Pelestina), dimana disana banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.

Akan tetapi hadirin, kalau Isa dilahirkan di musim salju maka tidak mungkin ada padang-padang rumput dan sumber-sumber mata air bersih yang mengalir melainkan semuanya pasti membeku.

Hadirin jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dirahmati Allah.

Baru kita tampilkan 4 ayat tadi maka kita sudah tegas menolak 25 Desember sebagai hari kelahiran Isa Al Masih, lalu bagai mana mungkin kita sampai bisa mengucapkan Selamat Natal bagi mereka. Biarkan saja orang-orang itu mengadakan Maulid atau Natal namun kita tidak perlu terpengaruh dan ikut-ikutan kelakuan orang banyak sebagai mana firman Allah:

[6:116] Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (QS Al An’am 116).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

MUI sebagai lembaga ummat telah memfatwakan bahwa mengucapkan Selamat Natal hukumnya haram dengan berbagai alasan, diantaranya adalah: “Barang siapa yang mengucapkan Selamat Natal berarti ia merestui keyakinan orang Kristen yang oleh Al Qur’an di-klaim kafir, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam". (QS`Al Maidah 17).

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga" (QS Al Maidah 73).

Dengan demikian hadirin, sebagai muslim yang taat, harusnya kita berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah khususnya surah Al Ikhlas yang dengan tegas mengatakan bahwa “Allah itu Esa, Ia tidak beranak dan diperanakkan” dan juga surah Al Kaafirun yang menegaskan bahwa “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Jadi apalah kepentingan kita mengucapkan Selamat Natal kepada orang kafir. Ironisnya hadirin, kita ummat Islam seringkali merasa takut, merasa tidak enak kepada manusia tetapi tidak pernah merasa tidak enak kepada Allah. Bukankah Allah telah memerintahkan agar kita hanya takut kepada Allah saja dan jangan merasa takut kepada manusia sebagaimana yang difirmankan Allah:

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku”. (Al Baqarah 150).

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, oleh sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku” (QS Al Maidah 3).

”Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS Al Maidah 44).


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Buntok, 20 Nopember 2010

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...