Jumat, 30 November 2012

PRINSIP PRAKTIS FARDHU KIFAYAH AS-SUNNAH BUNTOK (4)




 
1.        Men-talqin Orang yang hendak meninggal
Jika seorang Muslim melihat saudara seagamanya hendak meninggal dunia, ia harus mengajarinya kalimat ikhlas laa ilaaha illallah. Ia ingatkan saudaranya dengan kalimat tersebut hingga ingat dan mengucapkannya. Jika saudaranya telah mengucapkannya, ia berhenti mengaajarkan kalimat tersebut. Jika saudaranya mengatakan perkataan lain, ia kembali memperdengarkan kalimat tauhid kepadanya hingga perkataan terakhir saudaranya ialah laa ilaaha illallahdan ia masuk syurga karenanya. Rasulullah SAW bersabda: “Ajarkan laa ilaaha illallah kepada orang-orang yang hendak meninggal diantara kalian”. (HR Muslim).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa akhir ucapannya laa ilaaha illallah, ia masuk syurga”. (HR Muslim).


2.        Menghadapkan Orang yang hendak meninggal dunia ke Kiblat
Orang yang hendak meninggal dunia dihadapkan ke kiblat dengan memiringkannya ke lambung kanannya. Jika tidak memungkinkan, dibaringkan dan kedua kakinya menghadap kiblat.

Jika ia mengalami sakaratul maut yang luar biasa, ia bisa dibacakan surah Yaasiin dengan harapan Allah meringankannya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah orang yang hendak meninggal dibacakan surah Yaasiin di sisinya melainkan Allah memberi kemudahan kepadanya”. (HR Muslim).

Bacaan Yaasiin dimaksud tidak dengan mengeluarkan suara, dengan suara sangat pelan dan tidak berjamaah.


3.        Memejamkan Kedua Mata Orang yang Telah Meninggal Dunia dan Menutupnya
Jika ruh seorang muslim telah dicabut maka kedua matanya wajib dipejamkan, ditutup dengan penutup dan tidak dikatakan kepadanya kecuali kebaikan, misalnya dengan berkata: “Yaa Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia”,karena Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian mendatangi orang sakit atau orang yang telah meninggal dunia maka berkatalah dengan baik karena para malaikat mengaminkan apa yang kalian katakan”. (HR Muslim).

Rasulullah SAW datang pada kematian Abu Salamah yang matanya terbuka ketika meninggal, kemudian beliau memejamkannya sambil bersabda: : “Sesungguhnya jika ruh telah dicabut maka diikuti mata”. Keluarga Abu Salamah pun geger dibuatnya, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian memanggil diri kalian kecuali yang baik-baik karena para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan”. (HR Abu Darda dan Abu Dzar, hadits ini dhaif).

Bersambung . . . . . 

Kamis, 29 November 2012

PRINSIP PRAKTIS FARDHU KIFAYAH AS-SUNNAH BUNTOK (3)



1.    Beberapa Sarana Penyembuhan ala Rasulullah SAW
Rasulullah SAW meletakkan tangannya yang mulia ke badan orang sakit sambil berdo’a: “Allahumma Rabbin Naasi Adzhibil ba’sa, isyfi anta syaafii, laa syifa’a illa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqomaa”. (HR Bukhari). 


2.    Adanya kebolehan berobat kepada orang Kafir dalam mengobati Wanita.


3.    Adanya kebolehan kaum muslimin membangun Karantina Kesehatan ketika ada penyakit atau wabah.


4.    Kewajiban Menjenguk Orang Sakit 
Rasulullah SAW bersabda: “Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang sakit dan bebaskanlah tawanan” (HR At Tirmidzi dan ia men-shahih-kannya).

Jika seorang muslim menjenguk saudara seagamanya yang sakit maka ia disunnahkan mendoakan kesembuhan untuknya, menasehatinya bersabar, mengatakan ucapan yang menyenangkan hatinya dan tidak lama berada di sisinya.

Jika Rasulullah SAW menjenguk orang sakit beliau bersabda kepadanya: “Tidak apa-apa, suci Insya Allah.” (HR Bukhari).

Hendaklah seorang Muslim berkata seperti perkataan di atas kepada saudara seagamanya yang sakit.


5.    Orang Sakit Wajib Berbaik Sangka kepada Allah  Ta’ala dalam Sakitnya
Seorang Muslim yang menderita sakit dan hendak meninggal dunia maka ia wajib berbaik sangka kepada Allah Ta’ala bahwa Allah akan merahmatinya dan tidak menyiksanya, mengampuninya, tidak menghukumnya karena Allah maha luas ampunan-Nya dan rahmat-Nya menyelimuti segala hal, karena Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan ia berbaik sangka kepada Allah”. (HR Bukhari).

Bersambung . . . .

Rabu, 28 November 2012

PRINSIP PRAKTIS FARDHU KIFAYAH AS-SUNNAH BUNTOK (2)


  1. 1.    Meminta Mantra
Seorang Muslim “diperbolehkan” meminta mantra dengan ayat-ayat Al Qur’an, doa-doa Rasulullah SAW dan ucapan yang baik karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidak apa-apa mantera dengan sesuatu yang tidak ada syirik di dalamnya”. (HR Muslim).
Dalam masalah ini kebolehannya harus benar-benar mengacu kepada tuntunan praktis Rasulullah SAW dan atau perbuatan sahabat yang dibenarkan Rasulullah SAW.

  1. 2.    Diharamkan menggunakan Jimat
Seorang Muslim diharamkan menggantung jimat karena Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menggantung jimat sesungguhnya ia telah berbuat syirik”. (HR Ahmad dan Al Hakim yang men-shahih-kannya).
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menggantungkan jimat maka Allah tidak menyempurnakannya, dan barang siapa menggantungkan siput maka Allah tidak memberikan ketenangan kepadanya”. (HR Ahmad dan Al Hakim. Al Hakim berkata: “Hadits ini shahih dan begitu juga sanad-nya).
Rasulullah SAW bersabda kepada orang-orang yang ditangannya terdapat cincin dari kuningan: “Celaka engkau, apa ini?” Orang tersebut menjawab: “Obat untuk penyakit di lengan”. Rasulullah SAW bersabda:“Lepaskan, karena ia tidak menambah kepadamu selain sakit (lemah). Seandainya engkau meninggal dunia sementara cincin tersebut masih engkau pakai maka tidak beruntung untuk selama-lamanya”.(HR Ahmad).
Bersambung . . . .

Selasa, 27 November 2012

Mufti Arab Saudi: Pengkritik Pemerintah adalah orang sakit, tak berakhlak dan tak berakidah



RIYADH  – Mufti dan ketua Dewan Ulama Senior Arab Saudi, syaikh Abdul Aziz bin Shalih Alu Syaikh mengecam keras kritikan kepada pemerintah secara terang-terangan melalui mimbar pengajian, situs internet dan stasiun TV.
.
Menurut sang mufti, mengkritik pemerintah secara terang-terangan “tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang sakit, rusak akhlak dan akidahnya”.
.
Dalam seminar di King Sa’ud University, Jedah pada Jum’at (23/11) malam, sang mufti mengatakan, “Mengkritik penguasa secara terang-terangan, juga melalui situs internet dan stasiun TV yang buruk serta mengkritik masyarakat secara terang-terangan adalah sebuah kesalahan, kerusakan akhlak dan akidah.”
.
Ia menambahkan, “Tidak ada seorang pun yang terjaga dari kesalahan. Sesungguhnya melakukan kritikan secara terang-terangan tidaklah mungkin muncul kecuali dari orang yang sakit dan menginginkan kekacauan.”
.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat harus memiliki sikap yang jelas terhadap penguasa, yaitu mendukung dan membantu mereka serta memberikan nasehat dengan tulus kepada mereka. Menurutnya, meluruskan kesalahan penguasa bukanlah dengan mengungkapkan secara terang-terangan kesalahan tersebut dan melaporkannya lewat stasiun TV.
.
Mufti kerajaan Arab Saudi memiliki kedudukan setingkat dengan mentri. Ia diangkat langsung oleh raja Arab Saudi. Sejak awal berdirinya kerajaan Arab Saudi, mufti dan Dewan Ulama Senior merupakan salah satu tangan kanan rezim untuk melanggengkan kekuasaannya.
.
Mufti dan Dewan Ulama Senior selalu mengeluarkan fatwa yang mendukung kebijakan rezim Arab Saudi, walau kebijakan tersebut sangat bertentangan dengan syariat Islam sekalipun. Mufti dan Dewan Ulama Senior secara tidak langsung telah meneguhkan sekulerisme di Arab Saudi, dengan sikap mereka “serahkan urusan pemerintahan kepada raja”.
.
Rezim Arab Saudi dikenal luas dengan reputasinya sebagai sekutu utama Amerika dan Barat di kawasan Jazirah Arab. Arab Saudi bersama Amerika memerangi mujahidin Anshar Syariah di Yaman Selatan. Agresi militer AS dan NATO ke Irak pada Perang Teluk 1990 dan perang 2003 berangkat dari pangkalan-pangkalan militer AS dan Inggris di Arab Saudi dan Kuwait.
.

PRINSIP PRAKTIS FARDHU KIFAYAH AS-SUNNAH BUNTOK (1)



Secara umum prinsip praktis dinukil dari buku Ensiklopedi Muslim oleh Abu Bakar Jabir al Jazairi, Bab 4 – Ibadah, Pasal Kesembilan: “Hukum-Hukum Seputar Jenazah”, halaman 372 – 395: Yang harus dikerjakan Orang Sakit Hingga Meninggal Dunia:
1.    Kewajiban Bersabar
Jika seorang Muslim mendapatkan musibah, ia tidak boleh uring-uringan dan tidak menampakkan keluh-kesah karena Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya bersabar dalam banyak ayat dan hadits. Hanya saja, jika orang sakit ditanya tentang kondisi dirinya maka ia boleh berkata: “Aku sakit, dan segala puji bagi Allah dalam segala kondisi.”


 2.    Disunnahkan Berobat
Seorang Muslim yang sakit disunnahkan berobat dengan obat-obatan yang diperbolehkan karena Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan sakit melainkan juga menurunkan obatnya, maka berobatlah kalian”. (HR Ibnu Majah dan Hakim men-shahih-kannya).

Seorang Muslim yang sakit tidak boleh berobat dengan hal-hal atau obat-obatan yang diharamkam, misalnya dengan minuman keras, daging babi dan sebagainya karena Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam hal-hal yang diharamkan kepada kalian”. (HR Ath-Thabarani dengan sanad yang shahih).

Bersambung .....

Senin, 26 November 2012

PRINSIP FARDHU KIFAYAH AS-SUNNAH BUNTOK



Prinsip paling mendasar fardhu kifayah As-Sunnah Buntok adalah melaksanakan tuntunan Rasulullah SAW semaksimal mungkin walapun menyalahi adat / kebiasaan ummat Islam Buntok pada umumnya.


Dalam penyelenggaraannya dipegang ketentuan:
1. Pengurusan jenazah (memandikan/mengkafankan) diutamakan oleh keluarga jenazah atau sesuai amanah. Proses pemandian terbatas, bukan tontonan umum.
2. Mayat disholatkan di rumahnya atau di tempat yang paling memungkinkan.
3. Mayat dikubur tanpa peti mati dan hanya memakai kain kafan. Ini bertentangan dengan tradisi umat Islam Buntok yang selalu memakai peti mati.
4. Lobang makam memakai lahat di sebelah qiblat. Ini tidak sesuai dengan kebiasaan.
5. Tidak memakai 2 (dua) nisan, apalagi berukir dan dihias atau diberi nama. Kubur hanya ditandai dengan satu tanda di bagian kepala.
6. Makam dilarang dibangun atau disemen, apalagi untuk kemewahan. Kuburan juga dilarang dijadikan tempat duduk.
7. Tidak mengizinkan wanita ikut penguburan / mengantar jenazah. Disadari hal ini bertentangan dengan adat ummat Islam Buntok.
8. Keluarga jenazah dijamin makanannya selama hari duka. Hal ini bertentangan dengan adat masyarakat dimana keluarga mayit harus membuatkan makanan selamatan untuk acara turun tanah, tiga hari, tujuh hari dan sebagainya.
9.  Mengusahakan tanah pemakaman sendiri sehingga kuburan diatur rapi dalam shaf dan dibuatkan pagar terkunci sehingga meniadakan fitnah seperti membangun kubah, mengaji di kuburan, memasang kain kuning dan lain-lain kerusakan.
10. Bagi masyarakat yang menyerahkan penyelenggaraan fardhu kifayah kepada As-Sunnah dapat dibuatkan Surat Pernyataan Tidak Keberatan Keluarga. 
11. Pelaksanaan seluruh kegiatan fardhu kifayah sepenuhnya hanya taat kepada hukum Islam sehingga tidak terkait dengan golongan, organisasi atau afiliasi sosial apapun. Kegiatan fardhu kifayah As-Sunnah Buntok hanya ittiba kepada Sunnah Rasulullah SAW.

Bagi yang berkeinginan mengetahui dapat menghubungi:
1. Haji Dedi Apandi di Masjid As-Sunnah Buntok atau rumah beliau di Jalan Veteran Buntok.
2. Haji Rismato di Masjid As-Sunnah Buntok atau telepon 081 230 94348


Jumat, 23 November 2012

UMAT ISLAM DINASEHATI MENONTON ISRAEL



"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu bukanlah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dilanjutkan meskipun tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan".


Bersumber dari data Bank Dunia yang dilansir dalam www.google.co.id/publicdata, jumlah penduduk negara Israel tahun 2011 adalah 7.765.700 jiwa. Lalu menurut http://id.wikipedia.org /wiki/ Daftar negara_menurut_ jumlah_penduduk, mengambil dari CIA World Factbook 2004, jumlah penduduk Israel adalah  6.199.008 jiwa. Dari komunitas sekecil itu logikanya tidak mungkin Israel sebagai negara dengan penduduk kurang dari 10 juta bisa melecehkan ummat Islam selama lebih dari 50 tahun padahal jumlah ummat Islam dunia mencapai 1,7 miliar jiwa. Artinya, hadits Nabi SAW yang menyatakan ummat Islam akan dijadikan rebutan laksana makanan persantapan adalah benar-benar faktual. Sungguh ini sebuah ironi dan luar biasa menyedihkan. 
Salah satu pekerjaan lama bangsa Yahudi yang akan terus mereka kerjakan adalah memusuhi agama Allah dan membunuhi para Nabi. Sudah berapa banyak Nabi Allah yang mereka bunuh. Sudah berapa banyak orang-orang beriman yang mereka bunuhi juga. Oleh karena itu, sifat ke-Yahudi-an ini akan senantiasa ada kecuali ummat Islam mampu mengendalikan penyakit "WAHN" dan "MENGIRIMKAN MUJAHIDIN" ke negeri-negeri dimana muslimin dibunuhi. Maksudnya, kapan kita berangkat berjihad ketika darah satu muslim ditumpahkan orang kafir? Bukankah Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Ahmad: "Barang siapa tidak pernah berperang dan tidak ada niat di hatinya untuk berperang maka dia mati dalam salah satu dari cabang kemunafikan". Namun sungguh sayang, tidak hanya satu muslim yang telah dibunuh, sudah ribuan bahkan jutaan jiwa, namun kita belum juga berangkat berjihad. Sungguh kita ini kelompok muslim yang celaka. 

NASIHAT SEORANG NASHRANIKetika ummat Islam ramai-ramainya berdemo menentang agresi Israel atas Palestina tahun 2009, seorang pimpinan instansi di Buntok yang beragama Nasrani menasehati sambil bercanda: 
"Tidak usah saja kita melawan Banga Israel, baik Nasrani maupun Islam. Kenapa? Tuhan kami  Yesus saja disalib mereka..., apalagi yang selainnya". 
Nah lho....!


Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...