Sabtu, 11 Desember 2010

BERHUKUM KEPADA SELAIN HUKUM ALLAH

Oleh: SYAHGIAN

KHUTBAH PERTAMA


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Maasiral muslimin rahimakumullah.

Perkara men-tauhid-kan Allah dalam penghambaan dan kufur kepada Thogut adalah pusat perhatian dan titik tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul. Tidak ada satu pun yang bisa memalingkan mereka darinya dan tidak ada satu pun kesibukan yang bisa melalaikan mereka, tidak sedikitpun mereka mau tawar menawar, dan tidak akan rela menerima solusi jalan tengah, karena hanya ada satu pilihan yaitu: menyerah dan pasrah serta menghambakan diri hanya kepada Allah semata. Karena itulah hakikat keimanan, atau menghambakan diri kepada thogut meskipun hanya dalam salah satu sisi ibadah, dan itulah hakikat kekafiran dan kesyirikan serta kemurtadan dari agama yang benar menuju agama thogut.


Hadirin jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dimuliakan Allah.

Tahukah kita kepada siapakah selama ini kita beribadah? Apakah kepada Allah ataukah kepada selain Allah? Maka untuk mengetahui jawabannya hadirin, terlebih dahulu kita harus mengetahui makna ibadah tersebut, karena sesungguhnya hakikat penciptaan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah saja sebagai mana firman-Nya: "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS Adz-Dzaariyat 56)


Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Secara bahasa ibadah berarti : “kehinaan diri, ketundukan, kerendahan dan ketaatan”, sedangkan secara syariat adalah: “suatu ungkapan yang mencakup seluruh perkataan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah, baik yang lahir maupun yang batin”.

Maka dari pengertian ini hadirin, jelaslah bahwa ibadah mengandung kesempurnaan ketundukan, ketaatan dan kepatuhan, yang beriringan dengan kesempurnaan kecintaan kepada Allah semata-mata.

Siapa yang taat dan patuh tanpa cinta kepada Allah maka ia adalah munafik. Sedangkan siapa yang mengaku cinta kepada Allah tetapi tanpa diiringi ketaatan dan kepatuhan kepada syariat yang dibawa Rasulullah maka ia adalah seorang pendusta. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS Ali Imran 31).

Ayat ini hadirin, kata Ibnu Katsir memvonis setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah namun tidak berada diatas cara hidup yang diajarkan Rasulullah maka pengakuannya itu hanyalah dusta belaka sampai ia mau mengikuti syariat dan Dien yang dibawa Rasulullah dalam seluruh perkataan dan perbuatannya.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yaitu: perkataan dan perbuatan atau keyakinan apapun yang diridhai oleh Allah SWT. Selanjutnya tatkala seorang manusia dituntut untuk beribadah hanya kepada Allah semata maka maksudnya adalah makna umum dari ibadah tersebut yakni kita dituntut agar taat kepada Allah baik dalam sholat, puasa, haji, nadzar, menyembelih, cinta dan benci, pengorbanan, khawatir, tawakal, do’a dan berharap, taat dan patuh, mengikuti penerapan hukum, meminta keputusan hukum dan perkara-perkara yang wajib maupun yang sunnah menurut syariat Allah.

Adapun dalil yang paling tepat yang menunjukkan makna ibadah tersebut adalah firman Allah: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzaariyat 56).


Hadirin Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dirahmati Allah.

Sesungguhnya ritual-ritual ibadah saja tidaklah cukup untuk mewakili seluruh ibadah yang dituntut dari manusia karena sesungguhnya seluruh aspek kehidupan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah semata. Maka bagaimana mungkin manusia dapat memenuhi tuntutan tersebut jikalau makna ibadah itu hanya dipahami dalam bentuk ritual-ritual ibadah semata?

Berapakah waktu yang dibutuhkan dan dihabiskan dari keseluruhan ritual-ritual ibadah tersebut dalam sehari semalam? Lalu untuk apa waktu yang tersisa, apakah untuk ibadah ataukah untuk perkara selain ibadah?

Dan apabila manusia menggunakan waktu hidupnya untuk selain ibadah, lalu bagai mana mungkin tujuan penciptaan hidupnya akan terpenuhi dan terrealisasi nyata sedangkan manusia hanya boleh menjadikan keseluruhan dari hidupnya untuk tujuan yang diridhoi Allah sebagai mana firman-Nya: "Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al An’am 162).

Maksud ayat ini kata Ibnu Jauzi yaitu Allah mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa semua keadaan dan perbuatan manusia hanya boleh ditujukan kepada Allah semata, bahkan hingga mati sekalipun wajib ditujukan kepada Allah dan karena Allah semata, bukan untuk tanah air, nasionalisme dan sebagainya, atau thogut-thogut yang ada di zaman kita ini yang telah menyeret banyak manusia keluar dari Dien Allah menuju dien-dien Thogut.


Hadirin Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dimuliakan Allah.

Adapun diantara hal-hal yang termasuk dalam pengertian ibadah yang paling khusus yang pertama adalah:

KETAATAN

Perlu diketahui hadirin bahwa tidak ada yang boleh ditaati karena zat-nya kecuali Allah semata, karena Dialah tuhan satu-satunya yang berhak untuk ditaati dan juga karena Dia tidak memerintahkan kecuali perintah yang benar dan adil. Adapun selain Allah, bagai mana pun sifat dan bentuknya, ia hanya boleh ditaati karena Allah saja, bukan karena zatnya.

Apabila ada makhluk yang ditaati bukan karena Allah maka berarti ia telah berubah menjadi tuhan yang disembah dan orang yang taat kepadanya otomatis akan menjadi hambanya dengan seluruh makna penghambaan, karena hal tersebut adalah termasuk dalam cakupan makna ibadah baik secara bahasa maupun secara syariat.

Sedangkan makhluk yang mengaku bahwa ia berhak untuk ditaati atas dasar alasan apapun tanpa melihat esensi (isi) dari perintahnya maka waspadalah darinya. Ketahuilah bahwa ia adalah thogut besar yang wajib diingkari, dan jika ketaatan semacam ini diberikan kepada makhluk maka inilah hakikat dari kesyirikan dan kekafiran yang nyata, sebagai mana firman Allah: "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu" (QS Yaasin 60).

Menyembah syetan dalam ayat ini hadirin, bermakna mentaatinya dalam bermaksiat kepada Allah sebagai mana syetan menghiasi kesyirikan di mata manusia lalu manusia pun mentaatinya. Maka itulah bentuk ibadah manusia tersebut kepada syetan.



Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Barang siapa yang menganggap selain Allah wajib untuk ditaati dalam semua perintah dan larangannya, meskipun menyelisihi perintah Allah dan Rasul, maka ia telah menjadikan orang tersebut sebagai tandingan bagi Allah dan jelas ini termasuk kesyirikan yang menyebabkan pelakunya masuk kedalam firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah” (QS Al Baqarah 165);

Oleh karena itu hadirin, Islam telah memberikan arahan terkait persoalan ketaatan dengan sangat jelas, hal itu dikarenakan untuk mencegah manusia agar tidak menggunakannya dalam kesesatan, kedzaliman dan pelanggaran.


Maka Islam melarang taat kepada makhluk, siapapun dia orangnya dalam hal kedurhakaan kepada Allah. Islam hanya membolehkan ketaatan kepada makhluk dalam hal-hal yang mengandung ketaatan kepada Allah semata. Dan jika tidak demikian maka makhluk tersebut tidak berhak untuk didengarkan dan ditaati, sebagai mana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW, artinya: “Wajib atas setiap muslim untuk taat kepada pemimpin baik dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat, tetapi jika pemimpin memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah maka ia tidak berhak didengar dan ditaati”. (Mutafaqun alaihi).


Bahkan hadirin, kedua orang tua sekali pun tidak berhak ditaati jika perintahnya mengandung maksiat kepada Allah meskipun sangat besar jasanya terhadap anak. Hal ini sebagai mana firman Allah:"DAn jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya (QS Lukman 15).



Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.


Adapun yang termasuk dalam pengertian ibadah yang kedua adalah : TAHAKUM (meminta keputusan hukum).

Termasuk kedalam penamaan dan cakupan bidang-bidang ibadah yang paling khusus adalah TAHAKUM yaitu meminta keputusan hukum. Apabila seseorang meminta keputusan hukum dalam segala urusan hidupnya baik yang khusus maupun yang umum kepada syariat Allah maka ia adalah termasuk hamba Allah. Namun apabila seseorang meminta keputusan hukum kepada syariat buatan manusia maka dia adalah hamba makhluk tersebut meskipun hanya dalam sebagian urusan hidupnya. Alasannya adalah karena perbuatan syariat dan penetapan Undang-Undang, nilai-nilai dan aturan-aturan terkatagorikan sebgai kekhususan Ketuhanan Allah yang paling khusus sebagai mana firman Allah:

Sesungguhnya keputusan menetapkan (hukum) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri". (QS Yusuf 67).

Keputusan hukum itu hanyalah hak Allah, Dialah yang telah memerintahkan kamu agar tidak menyembah selain Dia. (QS Yusuf 40).

Dan siapa saja yang mengklaim dirinya berhak untuk menetapkan hukum, undang-undang dan aturan-aturan, bagai mana pun bentuk, jenis dan karakternya, baik individu, DPR/MPR, partai, bangsa atau pun yang lainnya serta mengklaim dirinya sebagai sumber penetapan hokum dan Undang-Undang maka berarti mereka telah mengklaim uluhiah dan rububiyah yang dahulu pernah diklaim oleh si Kafir Fir’aun untuk dirinya sebagai mana dalam surah Al Ghafir ayat 40: “Fir’aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tidak menunjukkan kepadamu kecuali yang benar.”

Demikian juga dengan orang yang setuju dan mengakui tergenggamnya hak tersebut pada seseorang maka ia telah menjadi hamba orang tersebut dan ia telah menjadikannya sebagai tandingan dan sekutu bagi Allah dalam peribadatannya.


Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Dapat dipahami bahwa perampasan hak dari tangan Allah untuk menetapkan dan memutuskan hukum-hukum dan aturan-aturan, otomatis mengeluarkan sang perampas dari Dien Allah karena perbuatan tersebut sama halnya bahwa ia telah menandingi Allah dalam hal kekhususan Allah yang paling khusus. Dan inilah sebuah kesyirikan yang tidak bias tidak pasti akan mengeluarkan para pelakunya dari Dien Allah. Dan demikian juga dengan orang-orang yang setuju dengan klaimnya sang perampas tersebut, sebagai mana firman Allah:


[18:26] …. dan Dia (Allah) tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (QS Al Kahfi 26).


Makna dari ayat ini, hadirin, bahwa orang-orang yang mengikuti hokum-hukum dan undang-undang buatan manusia selain apa yang disyariatkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang menyekutukan Allah. Pengertian ini juga dijelaskan pada banyak ayat-ayat yang lain, diantaranya firman Allah:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS An Nisa’ 60).

Allah SWT menyatakan keheranannya terhadap orang-orang yang mengaku beriman namun malah hendak berhukum kepada selain syariat Allah, sebab: mengaku beriman tetapi malah berhukum kepada selain hukum Allah maka pengakuan tersebut adalah pengakuan yang dusta belaka.


Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia

Berpijak dari nash-nash diatas tersebut Nampak jelas bahwa siapa pun yang membuat Undang-Undang Positip yang tidak disyariatkan Allah dan siapa pun yang mengikuti hukum-hukum atau undang-undang tersebut yang disyariatkan syetan melalui lisan wali-walinya yang menyelisihi apa yang disyariatkan Allah maka tidak diragukan lagi kesyirikan dan kekafiran mereka kecuali bagi orang-orang yang dibutakan mata hatinya.

Karena sesungguhnya tidak ada kekafiran kecuali karena kesyirikan dan tidak ada kesyirikan kecuali karena didalamnya mengandung peribadatan kepada makhluk walaupun hanya dalam salah satu sisi ibadah saja.

Selanjutnya hadirin, siapa saja yang mengamati kondisi ummat dalam persoalan yang sangat penting ini maka akan pahamlah bahwa Dien Allah telah kembali asing sebagai mana awalnya, bahkan lebih asing lagi. Dan para penguasa yang menetapkan hukum dan undang-undang yang menyelisihi aturan Allah maka mereka adalah Thogut Besar yang wajib diingkari dan hukum atau undang-undang yang diikuti kebanyakan manusia pada masa sekarang ini adalah syariat thogut yang wajib ditinggalkan.

Sedangkan orang-orang yang berhukum kepadanya dengan sukarela dan tanpa rasa berat sedikit pun maka masuklah mereka kedalam golongan orang-orang yang menyembah thogut. Namun demikian hadirin, engkau masih dapati sebagian mereka masih sholat dan puasa serta mengaku menjadi bagian kaum muslimin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA


[إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛


Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Pengertian bahwa orang-orang yang mengikuti hukum dan undang-undang buatan manusia adalah orang-orang yang menyekutukan Allah dijelaskan pada banyak ayat. Maka dari semua penjelasan tadi dapat diambil kesimpulan bahwa: “Kita sebagai orang yang mengaku beriman semestinya jangan mau berhukum dan meminta keputusan hukum kepada syariat-syariat buatan manusia yang jelas-jelas menentang Allah dan Rasul”.

Akan tetapi jikalau kita masih tetap dengan senang hati, tidak merasa berat hati sedikit pun untuk berhukum kepada hukum thogut maka lebih pantas bagi kita mengaku sebagai orang musyrik dari pada mengaku beriman kepada Allah, sebagai mana firman Allah :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS An Nisa’ 60).


Dan kesesatan mana lagi hadirin yang lebih sesat dan lebih jauh dari kesyirikan dan kekafiran?

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Buntok, 20 Nopember 2010

Rabu, 17 November 2010

KHUTBAH IDUL AD-HA 1431 H (DARI KHUTBAH WUKUF HAJI WADA' RASULULLAH DI ARAFAH)


Khutbah Arafah


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Rasulullah SAW berkhutbah dalam haji wada' saat wukuf di Arafah:

“Wahai sekalian manusia, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpai kamu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini.

Wahai manusia sekalian,
Sesungguhnya darah kamu dan harta kekayaan kamu merupakan kemuliaan bagi kamu sekalian, sebagai mana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini.

Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi. Hari ini aku nyatakan pembatalan pembunuhan balasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi’ah bin Haris yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu.

Transaksi riba yang dilakukan pada masa jahiliyah juga tidak berlaku lagi sejak hari ini. Transaksi yang aku nyatakan tidak berlaku lagi adalah transaksi riba Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya seluruh transaksi riba semuanya batal dan tidak berlaku lagi.

Wahai manusia sekalian,
Sesungguhnya syetan telah putus asa untuk dapat disembah manusia di negeri ini, akan tetapi syetan masih terus berusaha dengan cara yang lain. Syetan akan puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan tercela. Oleh karena itu hendaklah kalian menjaga agama dengan baik.

Wahai manusia sekalian,
Sesungguhnya merubah-rubah bulan suci  akan menambah kekafiran. Dengan cara itulah orang-orang kafir menjadi sesat. Pada tahun yang satu mereka melanggarnya dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan hitungan yang telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Kemudian kamu menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa -apa yang telah dihalalkan-Nya.

Sesungguhnya zaman akan terus berputar seperti berputarnya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan diantaranya bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut: Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah bulan diantara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban.

Takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, karena kamu telah mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kehormatan mereka telah dihalalkan bagi kamu dengan nama Allah. Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isteri kamu dan isteri kamu mempunyai kewajiban terhadap kamu. Kewajiban mereka terhadap kamu adalah mereka tidak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumah kamu. Jika mereka melakukan hal sedemikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan kewajiban kamu terhadap mereka adalah memberi nafkah dan pakaian yang baik kepada mereka.

Maka perhatikanlah perkataanku ini, wahai manusia sekalian...., sesungguhnya aku telah menyampaikannya. Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kalian berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah dan sunnah nabi-Nya.

Wahai manusia sekalian.., dengarkanlah dan ta’atlah kamu kepada pemimpin kamu, walaupun kamu dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan kitabullah kepada kalian semua. Bersikap baiklah kalian terhadap hamba sahaya. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka melakukan kesalahan yang tidak dapat kamu ma’afkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka.

Wahai manusia sekalian.
Dengarkanlah perkataanku ini dan perhatikanlah. Ketahuilah oleh kamu sekalian bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali  yang telah diberikannya dengan senang hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.

Ya Allah..., sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka..? Kamu sekalian akan menemui Allah, maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain. Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Mungkin nanti orang yang tidak mendengar khutbah ini lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini. Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku maka apakah yang akan kamu katakan ?"

Semua yang hadir menjawab: "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat." 

Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad kemudian bersabda: ” Ya Allah, persaksikanlah pernyataan mereka ini..! Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini..! Ya Allah saksikanlah pernyataan mereka ini..! Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini!”

(Hadits Bukhari dan Muslim)

Minggu, 07 November 2010

KHUTBAH JUMAT, 5 NOVEMBER 2010 DI MASJID AS-SUNNAH BUNTOK

RISALAH MEMAKMURKAN MASJID

Oleh: Syamsuddin Rudiannoor



KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah Sub-haanahu wa Ta’ala.
Khutbah kali ini hanyalah membacakan rangkaian firman Allah yang termaktub dalam surah At Taubah, yaitu At Taubah ayat 1 dan 2, At Taubah 16 sampai 18 dan At Taubah ayat 100 sampai 110.

Dalam At Taubah ayat 16 Allah berfirman: (16) “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (saja), sedangkan Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad diantara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain daripada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Apa titik berat ayat ini? Melalui At Taubah ayat 16 ini Allah menegaskan kepada siapa pun orang-orang Islam yang selama ini mengaku telah beriman bahwa iman mereka tidak akan dianggap iman yang sesungguhnya sebelum Allah Ta’ala melihat bukti atas pengakuan keimanan itu. Bagai mana Allah melihat bukti keimanan kita? Allah sendiri yang memperlihatkan caranya dalam ayat itu, yaitu:

Pertama, Allah harus mendapatkan bukti nyata melalui orang-orang yang berjihad;
Kedua, Allah harus melihat sendiri bahwa kita tidak mengambil teman setia kecuali hanya berwali kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.

Maknanya, mengaku sebagai orang Islam yang beriman harus benar-benar bisa dibuktikan dengan kerja nyata dan amalan sholih yang syar’i, bukan pengakuan yang hanya manis dibibir namun hampa makna. Artinya, iman kepada Allah memerlukan bukti yang nyata, bukan janji palsu.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Selanjutnya dalam ayat 17 Allah berfirman: [17] “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka”.

Apa yang diinginkan ayat ini? Allah menunjukkan kepada ummat Islam bahwa siapa pun dari ummat ini yang mengingkari ayat-ayat Allah, misalnya ayat sebelumnya tadi, maka mereka dianggap dusta. Mereka dinilai pembohong. Memang mereka tidak menolak islam secara keseluruhannya, malah mereka pun berjuang mengatas-namakan Islam, yang salah satu caranya adalah aktif mendirikan dan memakmurkan masjid. Namun sayang Allah tidak menganggap keimanan semacam ini, justru Allah mem-vonis: “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka”.

Kenapa mereka dianggap mengaku kafir? Karena mereka Islam tetapi menolak sebagian dari ajaran Islam yakni pembuktian keimanan dengan jihad dan tidak mengambil kawan setia kecuali Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman saja. Inilah orang-orang sia-sia pekerjaannya dan mereka abadi di dalam siksa nereka.

Maka untuk menolak pemakmuran masjid oleh orang-orang Islam tetapi kafir, Islam tetapi musyrik dan munafik, Allah berfirman dalam ayat selanjutnya (At Taubah ayat 18): [18] “Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Inilah orang-orang yang diwajibkan Allah pantas memakmurkan masjid, yaitu: 1. orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dengan kesediaan membuktikan keimanannya dengan berjihad;
2. tetap teguh menegakkan shalat,
3. tetap bersedia menunaikan zakat;
4. dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah.
Mereka inilah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah, Insya Allah.

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping Allah”. (QS Al Jin ayat 18).
Dengan demikian, haram hukumnya takut kepada selain Allah di dalam masjid. Tidak ada ketakunan di dalam masjid kecuali hanya takut kepada Allah.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Dalam rangkaian surah At Taubah ayat 16, 17 dan 18 tadi, terpampang jelas hubungan antara pembuktian keimanan dengan proses memakmurkan masjid. Dengan cara ini terlihat bahwa orang-orang yang mengaku beriman tetapi tanpa pembuktian jihad, bahkan menolak untuk berjihad, mengaku beriman tetapi mengambil kawan akrab selain Allah, Rasul-Nya dan orang beriman; mereka inilah orang Islam di mulutnya saja. Mereka hanya beriman dibajunya saja. Mereka ini sejatinya musyrik, walaupun mulut dan penampilannya terlihat sangat Islami. Dan yang lebih hebat lagi, mereka yang Islam Lipstik ini, walau pun enggan berjihad namun mereka tetap bersemangat membangun masjid dan memakmurkan masjid. Oleh karena itu, sangat wajar kalau Allah berfirman At Taubah ayat 17.

Semoga kita semua faham bahwa risalah membangun masjid adalah membangun rumah Allah sehingga didalam memakmurkannya, tidak boleh takut kecuali hanyalah takut kepada Allah. Barang siapa yang berusaha mempersandingkan ketakutannya kepada Allah dengan ketakutan kepada yang lain maka musyriklah dia.

Maka agar kita selamat dalam memakmurkan masjid, marilah kita mencontoh para penghulu kita, kaum tua kita. Siapakah para penghulu atau kaum tua kita? Itulah jamaah yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad SAW, yang mereka itu tergambar diantaranya dalam surah At Taubah ayat 100: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.

Itulah mereka kaum tua kita. Mereka memperoleh ridha Allah karena mereka ridha kepada Allah. Mereka membangun dan memakmurkan masjid seperti kita. Karenanya mereka memperoleh ridha Allah disebabkan mereka mengaplikasikan semua ketentuan Allah dengan lurus. Lalu bagaimana dengan kita? Adakah kita sama dengan mereka? Atau apakah kita justru sama dengan orang-orang diluar mereka? Marilah kita simak rangkaian firman Allah dalam At Taubah ayat 1 dan 2: "(101). Dan diantara orang-orang Arab disekelilingmu itu ada orang-orang munafik dan (juga) diantara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu tidak mengetahui mereka (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. [102] Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur-aduk amal pekerjaan yang baik dengan amalan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Itulah realitas ummat Muhammad dimasa beliau masih hidup. Beliau ternyata hidup ditengah-tengah suasana yang luar biasa keras. Buktinya, sungguh telah ada ummat Islam yang hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka hanya mencintai Allah, Rasul dan kaum mukmin, inilah mereka para shahabat beliau yang hanif. Mereka itu memperoleh gelar Radhiallah sebagai mana At Taubah ayat 100. Namun kenyataannya, kebanyakan lagi dari ummat ini justru berkapasitas dzalim, kafir dan munafik. Yang sangat aneh, didalam urusan masjid dan pemakmurannya, orang-orang kafir dan musyrik itu justru sangat giat. Mereka berjuang laksana pahlawan Islam yang sesungguhnya padahal merekalah yang akan masuk neraka selama-lamanya. Mari kita renungi masalah besar ini. Paling tidak marilah kita merenungi keluh-kesah Rasulullah dalam surah Al Furqan ayat 30-31: [25:30] Berkatalah Rasul (mengeluh): "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang tidak diperdulikan". [25:31] Dan seperti itulah kalian, Kami adakan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong".





KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.


Jamaah Jum'at yang berbahagia.
Didalam usaha membangun dan memakmurkan masjid telah cukup contoh dari Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Dalam hal ini mari perhatikan rangkaian surah At Taubah ayat 107-110. Allah SWT berfirman: "[107] Dan ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan, untuk kekafiran dan untuk memecah belah orang-orang mukmin, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta. (Surah At Taubah 107).

Inilah ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang munafik di jaman kenabian telah membangun masjid untuk menipu ummat Islam dan Rasulullah SAW. Allah lalu melanjutkan berfirman kepada Nabi Muhammad dan ummat Islam pada umumnya dengan firman-Nya: "[108] Janganlah kamu berdiri (shalat) di dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (yakni masjid Quba) sejak hari pertama (pembangunannya) adalah lebih patut kamu beribadah di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih". (QS At Taubah 108)

Dengan dalil ini jelas bahwa sholat dan beribadah didalam masjid yang dibangun bukan untuk mencari keridhaan Allah, bukan dengan dasar taqwa, bukan untuk menegakkan syariat Islam adalah haram hukumnya. Haram sholat disana selama-lamanya. Artinya, masjid Allah hanya boleh dibangun dan dimakmurkan hanya dengan memakai ketentuan Allah atas petunjuk Rasul-Nya, bukan dengan ketentuan selainnya.

Selanjutnya Allah berfirman dalam ayat berikutnya: "[109] Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya), itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang akan runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya kedalam neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS At Taubah 109)

Sub-haanallah, maha suci Allah. Orang-orang yang mendirikan masjid tanpa didasari ketakwaan yang benar adalah laksana membangun ditepi jurang yang akan runtuh dan akhirnya masjid itu jatuh kedalam neraka bersama-sama dengan para pembangunan dan pengelolanya. Semoga Allah menghindarkan kita dari sifat-sifat dan sikap sedemikian.

Kemudian didalam surah At Taubah ayat 110 Allah menegaskan dengan gamblang bahwa masjid yang dibangun diatas ketidak-ikhlasan, masjid kaum munafik, masjid musyrikin, akan menghadirkan ciri-ciri yang bisa dilihat dengan mata dan dirasakan manusia-manusia disekelilingnya. Apa ciri-ciri masjid celaka itu? Inilah firman Allah: "[110] Bangunan-bangunan (masjid) yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Inilah cirinya celaka itu. Masjid itu akan senantiasa menjadi pangkal keraguan. Pangkal silang sengketa. Masjid itu akan membuat hati para pembangun dan pengurusnya menjadi bimbang dan ragu, kecuali hati mereka itu hancur lebur berantakan.

"[112] Maka tetaplah kamu dijalan yang benar sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". (QS Hud ayat 112)


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Buntok, 27 Oktober 2010


Khutbah Jum’at disampaikan di Masjid As-Sunnah Buntok tanggal 5 November 2010.

Sabtu, 16 Oktober 2010

KHUTBAH JUM'AT 15 OKTOBER 2010 DI MASJID AS-SUNNAH BUNTOK

SYARAT DITERIMANYA AMAL

Oleh: Sahgian


Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Ketahuilah bahwa iman kepada Allah dan kufur kepada thogut adalah rukun Islam terbesar yang diajarkan para Rasul kepada ummatnya. Keduanya menjadi tujuan mengapa mereka diutus ke dunia, sekaligus menjadi tujuan risalah yang mereka bawa, sebagaimana firman Allah: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,(QS An Nahl:36).

Maka menunaikan keduanya adalah merupakan kewajiban pertama manusia kepada Tuhannya sebelum nanti mereka diwajibkan dengan kewajiban ibadah yang lain. Amal sholeh apa pun yang dilakukan manusia tidak akan mungkin diterima oleh Allah SWT apabila tidak dilandasi dengan tauhid yang bersih dari kesyirikan. Berapapun banyaknya amal kebaikan yang dilakukan oleh seseorang, tetap tidak mungkin ada artinya apabila pelakunya tidak kufur kepada thogut. Yang mana seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah apabila dia tidak melakukan pengingkaran kepada thogut. Hal ini sebagaimana firman Allah: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".


Hadirin Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dirahmati Allah.

Didahulukannya kufur kepada thogut daripada iman kepada Allah Ta’ala memiliki makna yang agung, diantaranya:

Yang pertama: adalah sebagai syarat tidak bolehnya meremehkan persoalan kufur kepada thogut, dan bahwa ia adalah pokok Dien yang menjadi fondasi bagi pokok-pokok dan cabang-cabang Dien yang lainnya.

Yang kedua: kufur kepada thogut harus didahulukan dari pada iman kepada Allah karena andaikata iman kepada Allah lebih didahulukan atas kufur kepada thogut maka tetap saja iman itu tidak bermanfaat bagi pemiliknya kecuali setelah ia mengkufuri thogut dan meninggalkan kesyirikan.

Dan yang ketiga: Iman kepada Allah dan iman kepada thogut tidak mungkin terkumpul dalam jiwa seseorang meski hanya sesaat karena iman kepada salah satunya akan menghapuskan yang lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah: Bahwa iman dan kekafiran tidak akan berkumpul dalam hati seseorang.

Maka dari itu hadirin, hanya ada satu pilihan, yaitu: Iman kepada Allah yang di dahului kufur kepada thogut atau iman kepada thogut dan kufur kepada Allah Ta’ala.


Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Kufur kepada thogut serta iman kepada Allah adalah 2 hal yang dengannya seseorang bisa dikatakan mukmin dan dengannya amalan bisa diterima, sebagaimana firman Allah: “Dan barang siapa yang melakukan amal sholeh, baik laki-laki atau perempuan sedang ia mukmin maka mereka masuk surga seraya mereka diberi rizki di dalamnya tanpa perhitungan”. (QS Al Mukmin : 40)

Dalam ayat ini hadirin, Allah SWT menetapkan pahala amal sholeh hanya bagi orang mukmin, sedang orang yang mempertahankan tradisi, pemberian tumbal atau sesajen terhadap perkara tertentu bukanlah seorang mukmin karena ia melakukan ketaatan kepada selain Allah, dan orang yang meminta berkah kepada orang yang sudah mati bukanlah seorang mukmin karena dia meminta keberkahan kepada selain Allah. Dan orang yang rela berhukum dengan selain hukum Allah bukanlah seorang mukmin karena dia rela berhukum kepada hukum thogut, sebagai mana firman Allah: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (QS An Nisa : 60).

Dan bahkan hadirin, orang yang mengusung Demokrasi, Sekularisme, Liberalisme dan sebagainya bukanlah seorang mukmin tetapi mereka adalah orang-orang musyrik karena mereka tidak kufur kepada thogut. Yang mana amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan diterima oleh Allah sebagaimana firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu. "Jika kamu berbuat syirik maka akan hapuslah amalmu dan kamu termasuk orang-orang yang merugi”.

Amalan-amalan yang banyak itu hilang sia-sia dengan satu kali saja berbuat kesyirikan, maka apakah gerangan apabila orang tersebut terus-menerus berjalan di dalam kesyirikan, padahal ayat ini adalah ancaman kepada Rasul SAW yang tidak mungkin berbuat kesyirikan, dan begitu juga para Nabi semuanya diancam dengan ancaman yang sama, sebagaimana firman-Nya: "Dan barang siapa berbuat syirik maka lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan". (QS Al An’am : 88).

Inilah yang disebut dengan tauhid yaitu syarat yang paling mendasar yang jarang diperhatikan oleh banyak orang, yang tanpanya amalan tidak bisa diterima oleh Allah SWT.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛


Maasiral muslimin rahimakumullah.

Masih ada 2 syarat lagi yang harus dipenuhi oleh seorang hamba agar tidak termasuk orang-orang yang merugi di akhirat kelak sebagaimana yang diberitakan dalam Al Qur’an: "Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS Al Kahfi : 103-104).


Adapun 2 syarat selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari memahami tauhid adalah:

Yang pertama adalah IKHLAS.
Orang yang melakukan amal sholeh tetapi bukan karena Allah maka bukanlah termasuk orang yang ikhlas karena ia beribadah hanya karena ingin dilihat dan dipuji manusia, dan amalnya tidak akan diterima oleh Allah sebagai mana firman-Nya: "Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS Al Kahfi : 110)

Ayat ini, hadirin, berkenaan dengan keikhlasan. Jadi, orang yang beramal sholeh dan dia bertujuan kepada yang lain disamping kepada Allah maka ia bukanlah termasuk orang yang ikhlas.


Dan yang kedua adalah MUTABA”AH (sesuai tuntunan Rasul).
Amal ibadah apapun yang dilakukan, meskipun dilakukan dengan ikhlas akan tetapi tidak sesuai dengan tuntunan atau contoh Rasulullah maka pasti tertolak sebagai mana sabdanya: “Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka itu tertolak”. (HR Muslim)

Dan juga sabda beliau SAW: “Jauhilah perkara yang diada-adakan dalam beragama karena yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. (HR Tirmidzi).


Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Sedikit amalan tetapi sesuai tuntunan Rasul mungkin adalah lebih baik daripada banyak amalan tetapi didalam kebid’ahan. Jadi, hadirin, dalam uurusan ibadah kita harus bertanya pada diri sendiri “apakah landasan atau dalil yang kita jadikan dasar?” Karena setiap kita beramal apabila tidak mengetahui dasar atau dalilnya maka lebih baik tinggalkan karena hal itu lebih selamat bagi kita sebagai mana firman Allah: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya".

Sebagai mana ayat ini, hadirin, sangat jelas bahwa kita dilarang mengikuti segala sesuatu yang kita tidak mengetahui pengetahuan tentangnya karena segala sesuatu yang kita lakukan akan dimintai pertanggung-jawabannya disisi Allah SWT.

Inilah hadirin 2 hal yang penting yang harus diketahui setiap muslim agar amal sholeh yang ia lakukan tidak tergolong sia-sia disisi Allah SWT.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Buntok, 29 September 2010

Senin, 04 Oktober 2010

KHUTBAH JUM'AT 1 OKTOBER 2010 DI MASJIS AS-SUNNAH BUNTOK

HUKUM BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH

Oleh: Syamsuddin Rudiannoor



KHUTBAH PERTAMA


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah Sub-haanahu wa Ta’ala.
Kembali kita tekankan firman Allah dalam Al Qur’an surah Al A’raf antara ayat 11 sampai 27. Dalam surah Al A’raf ayat 19 Allah berfirman, artinya: 19] "Wahai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim".

Didalam ayat ini Allah melarangan Adam dan istrinya mendekati pohon, yang apabila dilanggar akan berakibat menjadi orang yang dzalim. Namun iblis membantah keterangan Allah itu dengan mengatakan dalam Al A’raf ayat 20, artinya: "[20] Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu aurat dan setan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal".

Apa artinya ayat ini? Membantah syariat dengan berdusta atas nama Allah adalah pelajaran dari iblis. Inilah teknik penipuan Iblis yang canggih. Dengan demikian, barang siapa yang mengatakan sesuatu yang bukan dari Allah lalu mengatakannya dari Allah maka dia berguru kepada Iblis. Coba bayangkan. Sudah sangat terang Allah berfirman: [19] “Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim". Maka Adam dan istrinya penasaran karena Iblis berkata: [20] “Tuhan kamu tidak melarang kamu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal".

Inilah pelajaran paling berharga dari iblis yaitu berdusta atas nama Allah. Iblis berhasil menipu Adam dan istrinya dengan berdusta atas nama Allah. Selanjutnya dia menyambung dustanya dengan sumpah palsunya yang sangat terkenal dan sangat meyakinkan: "[21] Dan Iblis pun bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk memberi nasihat kepada kamu berdua.”

Inilah gambaran sangat gamblang tentang berdusta atas nama Allah. Inilah satu pengajaran yang sangat penting dari surah Al A’raf ayat 19, 20 dan 21. Dari rangkaian ayat inilah iblis mengajarkan teori”tujuan menghalalkan segala cara”. Demi tujuan yang harus dicapainya maka Iblis berdusta atas nama Allah. Bukan hanya sampai disitu. Kedustaan kepada Allah ditambahi lagi dengan sumpah palsu yang sangat meyakinkan. Pelajaran ini sangat penting kita sadari karena guru yang mengajarkannya adalah Iblis laknatullah alaih. Ayat 21 tadi menggambarkan betapa gagahnya iblis mengakui dirinya sebagai penasehat manusia. Inilah hebatnya iblis. Pemutar-balikkan syariat Allah dengan cara dusta, yang dalam konteks ini adalah qiyas Iblis dan ijma dengan Adam dan istrinya, adalah cara lama yang kita serap dari pengajaran mahaguru Iblis. Oleh karena itu, antisipasi terhadap tehnik tipu daya “berdusta atas nama Allah” sudah diperingatkan Allah diantaranya dalam surah Faathir ayat 5: [35:5] Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah sekali-kali syaitan yang pandai menipu itu berhasil memperdayakan kamu tentang Allah.”

Ayat tersebut dengan terang menegaskan kepada manusia bahwa janji Allah pasti benar dan janji-janji syaitan pasti dusta. Allah juga tegas mengatakan, kehidupan dunia dan bujuk rayu syaitan, pemutar-balikkan syariat dan tipu-menipu adalah teknik syaitan yang harus dilawan dengan tegas. Surah Faathir ayat 6 berbunyi: [35:6] Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanyalah mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Itulah perintah Allah yang tegas. Kita diperintah harus tegas menjadikan setan sebagai musuh. Percaya kepada setan berarti setuju menjadi penghuni neraka. Jadi, hukuman bagi para pendusta atas nama Allah, baik si pendusta maupun yang ijma atau bersepakat atas kedustaan adalah pasti menjadi penduduk neraka. Surah Faathir ayat 6 tadi dengan tegas mengatakan: “[35:6] Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanyalah mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Apa pun yang dijanjikan iblis dengan segala cara yang ditempuhnya tiada lain kecuali neraka yang dibungkus janji-janji palsu syurga. Janji-janji iblis adalah bencana yang dihembuskan tipu daya yang indah. Seluruh perkataan manis iblis adalah kebohongan yang mantap. Dalam surah Al An’am ayat 112 Allah berfirman, ”sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.”

Dalam surah An Nisa ayat 120-121 Allah berfirman: [120] Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka melainkan tipuan belaka. [121] Mereka itu tempatnya Neraka Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat melarikan diri daripadanya.

Disamping menjanjikan neraka yang dikatakan syurga, Iblis juga menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan. Sangat gencar iblis mengkampanyekan kemiskinan bagi siapa pun yang mengamalkan syariat Islam. Firmankan Allah dalam Al Baqarah 268: "Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui".

Coba perhatikan. Jelas Allah mengatakan syaitan menakut-nakuti manusia dengan kehidupan susah dan memerintahkan perbuatan kikir.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Kaum muslimin yang panjang angan-angan akan mudah percaya dengan tipu daya syaithan. Syaithan akan senantiasa menghiasi dunia dengan kenikmatan-kenikmatan semu. Dia senantiasa menakut-nakuti dengan ancaman kemiskinan. Allah berfirman dalam Ali Imran ayat 14 sampai 16: [14] Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. [15] Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang sedemikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [16] (Yaitu) orang-orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.”


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Termasuk katagori orang yang paling dzalim adalah orang-orang yang membuat-buat kedustaan kepada Allah atau mendustakan ayat-ayat Allah, apapun bentuk dan metodenya. Inilah penegasan surah Al A’raf ayat 36-37: "[36] Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [37] Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam al Kitab; sehingga apabila datang kepada mereka utusan Kami untuk mengambil nyawanya, utusan Kami bertanya: "Dimana yang kamu sembah selain Allah?" Orang-orang musyrik itu menjawab: "Semuanya telah lenyap dari kami," dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Dengan ayat ini ditegaskan bahwa para pembuat dusta atas nama Allah atau siapapun yang mendustakan ayat-ayat Allah akan mulai merasakan adzab tatkala malaikat maut mulai mencabut nyawanya dengan kekerasan yang dahsyat. Dan adzab itu akan abadi mereka rasakan ketika dimasukkan kedalam neraka jahanam. Itulah azab yang setimpal bagi orang-orang musyrik.

Didalam surah Al A’raf ayat 40 Allah berfirman: [40] Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak mungkin mereka masuk surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Artinya, berdusta atas nama Allah atau mendustakan ayat-ayat Allah atau ijma terhadap kedustaan kepada Allah sudah pasti masuk neraka dan mustahil masuk syurga seperti mustahilnya seekor unta bisa lolos dari lubang jarum. Sekarang tinggal pilih, apakah kita masih tetap percaya kepada lontaran-lontaran manusia ataukah kepada firman Allah? Silakan pilih, percaya kepada Al Qur’an ataukah lebih percaya kepada omong kosong iblis dan para abdi-abdinya yang sesat lagi menyesatkan?


[25:30] Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang tidak dihiraukan". [25:31] Allah berfirman: “Ya begitu itulah kalian, karena Kami telah mengadakan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu saja yang menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong”. (QS Al Furqan 30-31).


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Buntok, 22 Juli 2010

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...