Jumat, 30 Maret 2012

BENTURAN PERADABAN ISLAM VS BARAT


Oleh Muhammad Lazuardi al-Jawi



Pengantar Redaksi:
Meski banyak ditentang, teori tentang benturan peradaban yang pernah dimunculkan oleh cendekiawan Amerika Samuel P. Huntington pada faktanya tidak bisa dipungkiri. Pasca era Perang Dingin, dengan melihat realitas politik yang ada, kita melihat bahwa benturan antara peradaban Barat dan Islam sesungguhnya sedang berlangsung. Bahkan, boleh  dikatakan, benturan Islam Barat saat ini sebetulnya hanyalah lanjutan belaka dari benturan yang pernah terjadi pada masa lalu, khususnya pada era Perang Salib.

Telaah Kitab kali ini sekadar ingin menegaskan kembali tesis Huntington di atas dalam bukunya, Clash of Civilization, yang menunjukkan bahwa benturan peradaban antara Islam dan Barat adalah hal yang niscaya.



Pengantar
Sebagaimana diketahui, era Perang Dingin yang berlangsung sejak 1946, telah berakhir pada 1989, menyusul runtuhnya Uni Sovyet tahun 1990 dan berakhirnya bipolaritas Kapitalisme–Sosialisme, yang diikuti dengan lepasnya wilayah-wilayah negara bekas Uni Sovyet seperti Azerbaijan, Kirgistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Francis Fukuyama, pemikir Amerika keturunan Jepang, menanggapi peristiwa ini dengan menyebutnya sebagai Babak Akhir Sejarah (The End of History). Menurutnya, benturan antara Kapitalisme dan Sosialisme berakhir, dan dunia akan terpola pada semata-mata sistem demokrasi liberal dengan Amerika Serikat sebagai kaptennya. Era ini diproklamirkan oleh George Bush sebagai The New World Order (Tata Dunia Baru) dengan Amerika sebagai single player dan negara lain sebagai buffer-nya.

Namun, seiring dengan terpolarisasinya berbagai negara ke dalam jaringan sistem Kapitalisme global, muncul sebuah analisis futuristik dari Samuel P. Huntington tentang masa depan pola hubungan internasional yang menunjukkan kecenderungan antagonistik dan diwarnai konflik. Secara lebih tegas dia mengatakan, konflik itu semakin meningkat antara Islam dan masyarakat-masyarakat Asia di satu pihak dan Barat di pihak lain.1  Lebih jauh lagi, Huntington memprediksikan, tantangan paling serius bagi hegemoni Amerika pada masa mendatang adalah revivalisme Islam dan peradaban Cina (baca: Konfusianis).

Kini perseteruan antara Islam dan Barat semakin meruncing setelah terjadi Tragedi WTC 11 September 2001. Kasus ini telah berhasil dieksploitasi sedemikian rupa oleh AS dan sebagai jalan bagi pemberlakuan UU antiteroris di seluruh dunia. Terorisme yang dimaksudkan oleh Amerika adalah Islam dan tidak ada pengertian lain. Noam Chomsky menyebut permainan stigma Barat sebagai “newspeak” untuk membatasi pandangan dan realita  sehingga ketika kata-kata teroris, fundamentalis, ekstremis, dan kelompok radikal diucapkan maka konotasinya tidak jauh dari negara-negara Timur Tengah yang notabene adalah negeri-negeri Islam.

Bahkan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyebut ideologi Islam sebagai ‘ideologi setan’. Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan ciri ideologi setan, yaitu: (1) Menolak legitimasi Israel; (2) Memiliki pemikiran bahwa syariat adalah dasar hukum Islam; (3) Kaum Muslimin harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khalifah; (4) Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.



Hakikat Benturan Peradaban
Peradaban (hadhârah) secara bahasa adalah al-hadhar (tempat tinggal di suatu wilayah yang beradab seperti kota), sebagai lawan/kebalikan dari kata al-badwu (derah pinggiran kota dan pedesaan/pedalaman.2

Di kalangan Barat, peradaban diistilahkan dengan civilization; di ambil dari kata civilis, yang berarti memiliki kewarganegaraan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam bahasa Prancis dan Inggris pada akhir Abad XVIII untuk menggambarkan proses progresif perkembangan manusia; sebuah gerakan yang menuntut perbaikan, keteraturan serta penghapusan barbarisme dan kekejaman. Di balik pemunculan pemahaman ini terletak spirit pencerahan Eropa—yang kemudian dikenal dengan renaissance—dan rasa percaya diri  terhadap karakter progresif era modern.3

Istilah ini kemudian dipindahkan ke dalam bahasa Arab dengan menggunakan dua ungkapan, yaitu hadhârah dan madaniyah. Namun demikian, penggunaan kedua istilah ini masih menimbulkan persoalan baru di kalangan penggunanya. Oleh karena itu, An-Nabhani kemudian menspesifikasikan penggunaan kedua istilah tersebut ke dalam bukunya Nizhâm al-Islâm. Menurut An-Nabhani, hadhârah adalah sekumpulan persepsi—yang dimanifestsikan dalam perilaku—tentang kehidupan. Adapun madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.4

Muhammad Husein Abdullah kemudian membagi madaniyah ke dalam dua kategori, yaitu:
(1)  Yang berhubungan dengan hadhârah, yaitu yang lahir dari suatu sudut pandang tertentu. Misal, rumah tidak terlepas dari hadhârah, karena seorang Muslim akan membangun rumah dengan model yang dapat menjaga aurat penghuninya, sementara orang sosialis atau kapitalis tidak akan memperhatikan hal-hal itu.
(2)       Yang tidak berhubungan dengan hadhârah, yaitu hasil dari ilmu pengetahuan dan industri seperti alat-alat laboratorim dan furniture. Semua ini ‘netral’ dan bersifat universal.5

Walhasil, peradaban (hadhârah) berkaitan dengan pandangan hidup (world view) atau yang oleh an-Nabhani diistilahkan dengan mabda’ (ideologi), yang didefinisikan sebagai: akidah yang lahir dari proses berpikir yang di atasnya dibangun sistem.6 Ditinjau dari definisi ini, mabda’ menunjukkan kelengkapan konsep yang mencakup akidah dan sistem.

Dengan demikian, benturan peradaban hakikatnya adalah benturan yang terjadi antara sejumlah pemikiran dan atau ideologi yang berbeda atau bertolak belakang.

Dalam konteks peradaban, Islam jelas berbeda dengan peradaban lain, baik Kapitalisme maupun Sosialisme. Fakta menunjukkan bahwa masing-masing ideologi memandang yang lain sebagai musuhnya. Inilah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, kecuali oleh para pendusta dan pembohong.7


Beberapa Faktor Pemicu Benturan Peradaban Islam dan Barat
Banyak analisis yang menjelaskan sebab dan faktor yang memicu terjadinya benturan peradaban antara Islam dan Barat ini. Secara ringkas, dapat kita bagi menjadi 3 faktor utama sebagai berikut:

1.  Faktor Agama.
Sejarah telah mencatat Baratlah yang memulai perang terhadap umat Islam yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Salib atau Crusade. Perang Salib terjadi selama 1 abad (1096–1192 M), yang berlangsung selama tiga tahap: antara tahun 1096–1099 M; antara tahun 1147–1149 M; dan antara tahun 1189-1192 M.8 Pembantaian kaum Muslim oleh tentara salib di Spanyol (Andalusia) abad XV M, termasuk serangan secara pemikiran dan kebudayaan (tsaqâfah) seperti yang dilakukan oleh kaum zindiq serta para misionaris dan orientalis, adalah juga berlatar belakang agama.9

Hingga kini, ‘semangat’ Perang Salib ini masih melekat dalam benak orang-orang Barat, yang kemudian menjelma menjadi ‘prasangka buruk’ (stigma)  terhadap ajaran Islam dan umat Islam. Edward Said, dalam bukunya yang berjudul, Covering Islam, menulis bahwa kecenderungan memberikan label yang bersifat generalisasi mengenai Islam dan orang Islam, tanpa melihat kenyataan sebenarnya, menjadi salah satu kecenderungan kuat dalam media Barat. Dari waktu ke waktu, prasangka semacam itu selalu muncul dan muncul kembali ke permukaan.

Kata “christendom” dan “holy war” mulai banyak digunakan dalam berbagai tulisan di media massa Barat, seolah-olah ingin memperlihatkan bahwa sedang terjadi suatu “perang suci” antara Barat dan dunia lain di luarnya, terutama Dunia Islam.

2.  Faktor ekonomi.
Lenyapnya institusi Khilafah telah melebarkan jalan bagi negara imperialis Barat untuk menghisap berbagai kekayaan alam milik umat Islam. Sejak masa penjajahan militer era kolonial hingga saat ini, Barat telah melakukan eksploitasi ‘besar-besaran’ atas sumberdaya alam yang dimiliki umat Islam.

Sebaliknya, jika Khilafah Islam kembali berdiri dan berhasil menyatukan negeri-negeri Islam sekarang, berarti Khilafah Islam akan memegang kendali atas 60% deposit minyak seluruh dunia, boron (49%), fosfat (50%), strontium (27%), timah (22%), dan uranium yang tersebar di Dunia Islam (Zahid Ivan-Salam, dalam Jihad and the Foreign Policy of the Khilafah State).

Secara geopolitik, negeri-negeri Islam berada di kawasan jalur laut dunia yang strategis seperti Selat Gibraltar, Terusan Suez, Selat Dardanella dan Bosphorus yang menghubungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, Selat Hormuz di Teluk, dan Selat Malaka di Asia Tenggara. Dengan menempati posisi strategis ini, kebutuhan dunia terutama Barat sangat besar akan wilayah kaum Muslim. Ditambah lagi dengan potensi penduduknya yang sangat besar, yakni lebih dari 1.5 miliar dari populasi penduduk dunia. Melihat potensi tersebut, wajar jika kehadiran Khilafah Islam sebagai pengemban ideologi Islam ini dianggap sebagai ‘tantangan’, atau lebih tepatnya lagi, menjadi ancaman bagi  peradaban  Barat saat ini.
Walhasil, benturan antara kepentingan umat Islam yang ingin mempertahankan hak miliknya dan kepentingan negara Barat kapatalis tidak terhindarkan lagi.

3. Faktor ideologi.
Desember 2004 lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”. Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020, salah satu di antaranya adalah akan berdirinya “A New Chaliphate”, yaitu berdirinya kembali Khilafah Islam—sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan terhadap norma-norma dan nilai-nilai global Barat. Terlepas dari apa maksud dipublikasikannya analisis ini, paling tidak, kembalinya negara Khilafah Islam menurut kalangan analisis dan intelijen Barat termasuk hal yang harus diperhitungkan. Pertanyaannya, mengapa harus Khilafah? Jawabannya, karena potensi utama dari negara Khilafah adalah ideologi yang diembannya. Khilafah Islam adalah negara global yang dipimpin oleh seorang khalifah dengan asas ideologi Islam. Ideologi Islam ini pula yang pernah menyatukan umat Islam seluruh dunia mulai dari jazirah Arab, Afrika, Asia, sampai Eropa. Islam mampu melebur berbagai bangsa, warna kulit, suku, ras, dan latar belakang agama yang berbeda.10 Kelak, Khilafahlah yang ‘bertanggung jawab’ untuk mengemban dan menyebarkan ideologi Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Tentu saja Barat, dengan ideologi Kapitalismenya yang masih dominan saat ini, tidak akan berdiam diri. Berbagai upaya akan dilakukan Barat untuk menggagalkan skenario ketiga ini (kembalinya Khilafah). Secara pemikiran Barat akan membangun opini negatif tentang Khilafah Islam. Diopinikan bahwa kembali pada Khilafah adalah sebuah kemunduran, kembali ke zaman batu yang tidak berperadaban dan berprikemanusiaan. Sebaliknya, upaya penyebaran ide-ide Barat akan lebih digencarkan, seperti demokratisasi yang dilakukan di Timur Tengah saat ini.



Hubungan Peradaban dengan Negara  
Peradaban sangat erat hubungannya dengan eksistensi negara. Peradaban dapat dianggap sebagai “isi”, sedangkan negara  adalah “wadah”-nya. Dalam keadaan tanpa “wadah”, “isi” akan tercecer dan tercerai-berai tanpa kegunaan yang berarti.

Hubungan erat peradaban dengan eksistensi negara ini dapat dibuktikan dari fakta sejarah perjalanan umat manusia. Tidak satu pun peradaban dapat eksis secara sempurna, kecuali jika ia ditegakkan oleh satu atau beberapa negara yang mendukungnya. Peradaban Barat sulit dibayangkan dapat menjadi hegemoni seperti sekarang ini kalau tidak ada negara-negara pendukungnya seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat seperti Inggris, Prancis, dan lain-lain. Demikian pula peradaban Islam pada masa lalu, tidak akan dapat tegak sempurna tanpa eksistensi Daulah Islamiyah yang eksis sekitar 13 abad lamanya, sejak hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah (622 M) hingga hancurnya Khilafah Utsmaniah di Turki (1924 M).



Metode Islam menghadapi Benturan Peradaban
Secara umum agenda untuk ‘menyambut’ benturan peradaban antara Islam dan Barat,  dapat diringkas sebagai berikut:

1. Melakukan pembinaan di tengah-tengah umat.
Bagaimanapun, semua upaya penghancuran itu akan lebih mudah dihadapi kalau umat Islam kebal. Pembinaan (tatsqîf) di tengah umat adalah dalam rangka mewujudkan pola pikir yang islami, dan melatih ketahanan pola jiwa mereka dengan selalu berada dalam suasana taqarrub ilâ Allâh.

2.  Melancarkan perang pemikiran dan mengungkap makar asing.  
Penghancuran Islam sering tidask disadari oleh kaum Muslim. Karena itu, membongkar agenda tersembunyi dari penjajah (kasyf al-khuthath) harus selalu dilakukan. Mereka juga harus selalu mengkritisi pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan menyesatkan yang diklaim oleh kalangan liberal sebagai pemikiran Islam. Jika pemikiran-pemikiran ini tidak ditunjukkan kekeliruan dan kesalahnnya, maka umat Islam yang awam akan menyangka bahwa hal itu adalah bagian dari Islam.

3.      Membangun kesadaran politik Islam dan memberikan gambaran Islam sebagai solusi.
Kesadaran politik Islam yang benar harus ditumbuhkan di tengah-tengah umat. Yang dimaksud adalah politik Islam yang akan membebaskan manusia dari ketertindasan dalam segala aspeknya menuju pada keridhaan Allah semata-mata. Untuk itu, para aktivitis dakwah harus mampu memberikan gambaran syariat Islam sebagai solusi atas segala masalah manusia.

4.      Membangun tatanan politik Islam, yaitu Khilafah Islamiyah.
Dengan tumbuhnya kesadaran politik Islam di tengah-tengah masyarakat  maka  berarti  telah  tersedia  ‘perangkat keras’  (yaitu dukungan dari umat Islam) dan ‘perangkat lunak’ (yaitu konsep dan solusi Islam), yang diperlukan selanjutnya adalah membangun tatanan politik Islam, yaitu negara Khilafah Islamiyah. Dengan tatanan ini, upaya untuk menghentikan penghancuran Islam akan dapat dilakukan lebih efektif dan efisien lagi.


Keniscayaan Negara Khilafah dalam Menghadapi Benturan Peradaban
Hancurnya Khilafah Islamiyah pada tahun 1924 telah melenyapkan “wadah” bagi peradaban Islam Dengan hancurnya Khilafah, peradaban Islam telah kehilangan kekuatan dan vitalitasnya. Dapat dikatakan, peradaban Islam nyaris musnah dari realitas kehidupan, karena Khilafah yang menopangnya telah tiada. Sebagai gantinya, peradaban Barat sekularlah yang kemudian mendominasi kaum Muslim saat ini.

Maka dari itu, eksistensi negara Khilafah adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi agar peradaban Islam dapat mengungguli peradaban Barat. Tentu, negara Khilafah yang akan terjun ke kancah benturan peradaban itu haruslah negara yang kuat, yang didukung oleh kekuatan ideologi, kekuatan ekonomi, dan kekuatan militer yang handal. Wallâhu a‘lam. []


Catatan kaki:
1. Samuel P. Huntington, Benturan Peradaban, hlm. 333.
2.   Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, 2002, hlm. 149.
3.   John B. Thompson, Kritik Ideologi Global; Relasi Ideologi dan Komunikasi Masa, 2004, hlm. 192. Lihat juga Huntington: Benturan Antar Peradaban (cet. ke-2), 2001, hlm. 38.
4.   Taqiyuddin An-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, 2001, hlm. 92.
5.  Abdullah, Op. Cit., hlm. 150.
6.  Hafidz Abdurrahman, Diskursus Islam Politik dan Spiritual, 2004, hlm. 17.
7.   Muhammad Suardi Basri, Makalah berjudul “Memahami Esensi  Benturan Peradaban (Dari Konflik Bipolar Menuju Konflik Bipolar Baru)”.
8.   Lihat Henry S Lucas, 1993, Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan,  Penerbit Tiara Wacana, Yoyakarta, hlm. 115- 130.
9. An-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyah, Penerbit  Hizbut Tahrir, 2002, hlm. 168-173.
10.  An-Nabhani, Op. Cit., hlm. 161-166.
11. Abdul Qadim Zallum,  Mîtsâq al-Ummah (1997),  pada poin 66.



Irena Handono: Jangan Pernah Masukkan Anak ke Sekolah Kristen

Kamis, 29 Maret 2012

JAKARTA (VoA-Islam) -  Kristolog Irena Handono mengatakan, kasus SMK Grafika Desa Putera  memberikan pelajaran bahwa kita sebagai orang tua harus waspada. Tentu sangat disesalkan, kalau sampai tidak mengetahui, ke mana orang tua harus menyekolahkan anaknya.

“Betapa pentingnya sekolah yang Islami.Sekarang sekolah Islam yang berkualitas, bermutu tinggi, dan bergedung bagus, banyak, Alhamdulillah. Tetapi, bagaimana dengan umat yang tidak mampu? Itu yang juga harus menjadi perhatian kita,” kata mantan biarawawi Irena yang telah muallaf.

Irena mengatakan, jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang fakir dan miskin, maka mereka akan dididik dan diarahkan oleh para misionaris, dengan pelajaran agama Kristen, ujian dan ulangan sampai diharuskan menghafal pelajaran-pelajaran agama Kristen.

Selain Desa Putera, apakah sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan Kristen lainnya berpola sama? Irena menjelaskan, kalau di sekolah yang nyata-nyata memasang bendera Kristen, tentu mereka  menjalankan visi-misi Kristennya. Ada  kewajiban, setiap siswa yang belajar di sekolah Kristen itu harus masuk ke gereja setiap bulannya. “Rata-rata, semuanya begitu, di manapun, mulai dari Jakarta sampai ke ujung-ujung.”

Irena yang berpendidikan Institut Filsafat Teologia Katolik (Seminari  Agung) memberi contoh, sekolah-sekolah Kristen di Jakarta, seperti Vincentius, Ursula, semuanya sama. Begitu pula di Surabaya, seperti Santarisa, Gabriel, Santa Anis, Santa Maria, Vanlue, termasuk di tempat Irena dahulu mengecap pendidikan.
Ketika ditanya, mengapa orang Islam menyekolahkan anaknya ke sekolah Kristen? Kata Irena, boleh jadi karena pandangan orang tua, bahwa sekolah tersebut terkenal disiplin dan mutunya yang tinggi. Untuk belajar di sekolah Kristen, pihak sekolah tentu memberi persyaratan kepada siswa muslim, yaitu mereka akan mendapat pengajaran agama Kristen atau Katolik, termasuk ujian dan ulangannya, bahkan ke gereja setiap satu bulan sekali.  
 
Desastian

Senin, 30 Mei 2011

KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN ISLAM SECARA JUJUR (2)

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok pada tanggal 3 Juni 2011



Khutbah Pertama



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Khutbah kali ini menitik-beratkan penekanan pada 2 (dua) dari tiga ayat khutbah hajah di atas yaitu surah Ali Imran 102 dan Al Ahzab 70-71.

Allah SWT berfirman dalam Ali Imran 102: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.”

Jamaah yang berbahagia.

Pesan takwa ini bukanlah pesan yang gampang dan sembarangan. Allah yang memerintahnya, wajib kita mengamalkannya: “BERTAQWA SAMPAI MATI”, dan “MATI DALAM TAQWA YG SEBENARNYA.”

Lalu apa pesan-pesan lain taqwa selanjutnya? Allah berfirman dalam surah Al Baqarah 1-2: ""1. Alif Laam Miim. 2. Itulah al Kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertaqwa,”


Bentuk pesan taqwa dalam konteks ini adalah orang-orang yang beriman itu, adalah mereka-mereka yang bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan mereka tidak akan mati melainkan dalam keadaan Muslim, yaitu berpetunjuk dengan al Kitab Al Qur’an. Jadi orang yang berpetunjuk dengan Al Qur’an adalah mereka yang benar-benar bertakwa.

Kemudian dalam surah Al Baqarah ayat 185 Allah berfirman: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).

Dalam ayat ini menekankan pesan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi manusia: “hudan linnas”, sehingga siapa pun yang tidak berpetunjuk kepadanya berarti “bukan manusia”. Maknanya, orang yang bertaqwa: yang hanya berpetunjuk kepada Al Qur’an, yang selanjutnya mengambil penjelas atas petunjuk-petunjuk itu dengan Al Qur’an pula, serta menempatkan Al Qur’an sebagai FURQAN: PEMBEDA, pemilah antara yang hak dan batil, alat ukur menentukan antara yang salah dengan yang benar, -- maka merekalah orang-orang bertaqwa dan benar taqwanya. Dengan demikian orang bertaqwa merupakan manusia yang sebenarnya, insan kamil, karena merekalah orang-orang yang beruntung.

Allah berfirman dalam surah At Tin 4-5 : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”.

Dengan demikian, orang bertaqwa adalah sebenar-benarnya manusia, sebaik-baik ciptaan…, sedangkan yang tidak beriman…, bukan manusia karena tempat mereka sangat hina.

Jamaah Jumat yang mulia.

Selanjutnya pesan taqwa berikutnya adalah surah Al Ahzab 70-71: "(33:70). Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (33:71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagi kamu dosa-dosa kamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Pesan taqwa ayat ini menunjukkan korelasi pasti bahwa orang yang benar-benar bertakwa adalah mengucapkan perkataan yang benar. Orang taqwa adalah orang jujur. Artinya, satu ciri orang bertakwa adalah ucapannya benar. Ayat ini juga jelas, berkata benar merupakan taubat karena Allah menjadikan perkataan yang benar sebagai wasilah perbaikan amal dan pengampunan dosa. Dengan demikian, seorang khatib yang berkhutbah adalah bertaubat kepada Allah, bukan mencari-cari pengikut atau tujuan lainnya.



Jamaah jum’at yang budiman.

Lalu apa perkataan yang benar itu? Salah satu jawabannya ada dalam khutbah hajah di atas, yaitu:


فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sebaik-baik perkataan/ucapan adalah kitab Allah (Al Qur'an) dan dan sebaik-baik petunjuk (hudan) adalah petunjuk Muhammad SAW".

Maksudnya, ucapan yang benar itu, perkataan yang benar dan petunjuk yang benar itu, adakah yang bukan berasal dari petunjuk Muhammad? Kalau ada maka ayat yang mana dari ayat-ayat Al Qur’an itu yang tidak berasal dari petunjuk atau ucapan Muhammad?


Sebaliknya,
وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
"Seburuk-buruk urusan dalam Islam adalah sesuatu yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan seluruh bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."

Kembali kepada Al Baqarah ayat 1-2: "Alif Laam Miim. Kitab itu (Al Qur'an), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Maka kita faham bahwa sebaik-baik perkataan adalah Al Qur'an, sebaik-baik hudan (petunjuk) adalah yang dibawa Muhammad yakni Al Qur'an. Jelas, semua ayat-ayat Al Qur'an berasal dari ucapan Muhammad.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.


Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Setiap sholat kita melantunkan do’a al Fathihah. Tidak ada sholat tanpa ummul kitab Al Fathihah. Apa doa kita itu? (1:6) “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (1:7) ”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Lalu apa jawabannya? Salah satunya Allah berfirman dalam Al Baqarah 1-2 tadi: “1. Alif Laam Miim. 2. Itulah al Kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertaqwa,”

Dengan begitu, doa kita dikabulkan Allah dengan Al Qur’an. Setiap kita berdoa al Fathihah, setiap itu pula dikabulkan Allah dengan jawaban yang sama. Tapi sudahkah kita menerima Al Qur’an? Sudahkah kita tidak mendustai doa dan jawaban doa kita sendiri? Wallahu a’lam.

Jamaah Jum’at yang mulia.

Sekali lagi, apakah kita manusia? Secara jasadi, iya. Tapi dari sisi pandang Allah.., wallahu a'lam, karena kita memakai Al Qur'an terkadang saja. Berbagai macam alasannya, karena kita pintar. Kita ini juara pidato, kita pemenang debat. Lihai kita membenarkan kekafiran kita. Buktinya apa? Salah satu yang ringan adalah hadits dari khutbah hajah tadi.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam riwayat Imam Muslim dan An Nasa'i, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Adalah Rasulullah SAW apabila beliau berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, sehingga seolah-oleh beliau memberi komando di medan perang dengan berkata: "(Musuh) akan menyerang kalian dipagi dan petang." Beliau juga bersabda: "Amma ba'du. Sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejahat-jahat urusan adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat." Dan Imam Nasa'i menambahkan: "Dan setiap yang sesat tempatnya di neraka." Singkat haditsnya:


وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

"Seburuk-buruk urusan (dalam Islam) adalah sesuatu yang diada-adakan, dan semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."
(Hadits dikutip dari Terjemah Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al Asqalani).



Jamaah Jum'at yang berbahagia

Hadits diatas memberi petunjuk agar khatib berkhutbah di mimbar dengan merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya. Seolah-oleh khatib memberi komando di medan perang. Lalu apa yang terjadi dengan kita sekarang? Adakah khatib-khatib mengamalkan sebaik-baik petunjuk dari Muhammad atau malah sudah merubah khutbah jum’at menjadi obat tidur siang bagi jamaahnya, wallahu a'lam.

Kemudian hadits ini menegaskan: "Kullu bid'atin dholaalah" = semua bid'ah itu sesat ", lalu kenapa kita mengatakan "tidak semua bid'ah itu sesat"? Karena kita percaya ada "bid'ah hasanah". Apakah anda tidak sadar dimana celakanya bid'ah hasanah? Kalau Nabi mengatakan semua bid'ah itu sesat maka kita menentang nabi dengan mengatakan tidak semuanya bid'ah itu sesat. Dengan demikian, percaya kepada bid'ah hasanah berarti tidak percaya kepada “kullu bid’atin dholalah”. Selanjutnya…, bid’ah hasanah mengakibatkan "tidak semua yang sesat itu di neraka". Lalu artinya apa? Artinya, adanya bid'ah yang baik (bid'ah hasanah), berati ada juga sesat yang baik (dholalah hasanah). Apa akhirnya…, kalau pun masuk neraka maka masuknya ke neraka yang baik atau naarul hasanah. Bid'ah hasanah atau kesesatan yang baik telah merubah wajah Islam karena matinya masuk neraka yang baik. Adakah sesat yang baik, juga neraka yang baik?

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 42: "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahuinya." Haram mencampur-aduk dholalah dengan hasanah.

Akhirnya kita tutup dengan firman Allah yang lain, surah Al Furqan 30-31: [25:30] Berdoalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang diacuhkan". [25:31] Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


Kuala Kapuas, 29 Mei 2011





Jumat, 06 Mei 2011

PRO >< KONTRA ( 1 ) : KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN ISLAM SECARA JUJUR

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok pada tanggal 22 April 2011


Oleh : Syamsuddin Rudiannoor




Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Khutbah kali ini menitik-beratkan penekanan pada salah satu ayat dari tiga ayat dalam khutbah hajah diatas yaitu surah Al Ahzab ayat 70-71:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (33:71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagi kamu dosa-dosa kamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Dari ayat ini jelas bahwa salah satu korelasi pasti dari orang-orang yang benar-benar bertakwa adalah mengucapkan perkataan yang benar. Artinya, salah satu ciri orang bertakwa adalah berkata benar. Di dalam ayat ini juga jelas bahwa berkata benar merupakan taubat karena Allah menjadikan perkataan yang benar sebagai wasilah memperoleh perbaikan amalan-amalan dan wasilah pengampunan atas dosa-dosa kita. Dengan demikian, seorang khatib yang berkhutbah adalah bertaubat kepada Allah, bukan mencari dukungan jamaah, menipu jamaah apalagi berkampanye mencari-cari pengikut.

Lalu apa perkataan yang benar itu? Salah satu jawabannya ada dalam khutbah hajah diatas, yaitu:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sebaik-baik perkataan/ucapan adalah kitab Allah (Al Qur'an) dan dan sebaik-baik petunjuk (hudan) adalah petunjuk Muhammad SAW".


Sebaliknya, وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
"Seburuk-buruk urusan dalam Islam adalah sesuatu yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan seluruh bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."

Selanjutnya Allah juga berfirman dalam Al Baqarah ayat 1-2: "Alif Laam Miim. Kitab itu (Al Qur'an), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Dengan demikian kita faham bahwa sebaik-baik perkataan adalah Al Qur'an dan sebaik-baik hudan (petunjuk) yang dibawa Muhammad Rasulullah adalah juga Al Qur'an. Apakah ada ayat-ayat Al Qur'an yang bukan berasal dari ucapan Muhammad?



Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Allah juga berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 185: "Bulan ramadhan, bulan yang didalamnya di turunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan atas petunjuk itu dan sebagai pembeda (atas haq atau batilnya sesuatu)".

Artinya Al Qur'an adalah petunjuk bagi manusia. Maka siapa pun yang tidak berpetunjuk kepada Al Qur'an maka bukan manusia. Hudan lin naas = petunjuk bagi manusia, siapa yang anti Al Qur'an maka bukan manusia. Selanjutnya Al Qur'an juga menjadi penjelas atas petunjuk itu, juga sebagai alat ukur untuk membedakan yang benar dari yang salah.

Apakah kita ini manusia? Wallahu a'lam, karena terkadang kita memakai Al Qur'an, terkadang juga menentang petunjuk Al Qur'an dengan berbagai macam alasan. Buktinya apa? Salah satu yang paling ringan adalah hadits dalam bagian dari khutbah hajah tadi, Rasulullah SAW telah bersabda dalam riwayat Muslim dan An Nasa'i, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Adalah Rasulullah SAW apabila beliau berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, sehingga seolah-oleh beliau sedang memberi komando di medan perang dengan berkata: "(Musuh) akan menyerang kalian dipagi dan petang." Beliau juga bersabda: "Amma ba'du. Sebaik-baik/sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejahat-jahat urusan adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat." Dan Imam Nasa'i menambahkan: "Dan setiap yang sesat tempatnya di neraka." Singkat haditsnya:

وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

"Seburuk-buruk urusan (dalam Islam) adalah sesuatu yang diada-adakan, dan semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."




Jamaah Jum'at yang berbahagia.
Hadits diatas memberi petunjuk bahwa khatib berkhutbah di mimbar dengan merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, seolah-oleh sedang memberi komando di medan perang. Lalu apa yang terjadi dengan kita sekarang? Adakah khatib-khatib mengamalkan sebaik-baik petunjuk dari Muhammad atau malah sudah berubah menjadi obat tidur siang bagi jamaahnya, wallahu a'lam.

Kemudian didalam hadits ini sudah tegas: "Kullu bid'atin dholaalah" = semua bid'ah itu sesat ", lalu kenapa kita mengatakan "tidak semua bid'ah itu sesat", karena percaya "bid'ah hasanah". Apakah anda tidak sadar dimana celakanya bid'ah hasanah? Kalau Nabi sudah mengatakan semua bid'ah itu sesat maka kita menentang nabi dengan mengatakan tidak semuanya bid'ah itu sesat. Dengan demikian bid'ah hasanah mengakibatkan "tidak semua yang sesat itu di neraka". Lalu artinya apa? Artinya, ada bid'ah yang baik (bid'ah hasanah), ada sesat yang baik (dholalah hasanah), dan akhirnya kalau pun masuk neraka maka masuknya ke neraka yang baik atau naarul hasanah. Bid'ah hasanah atau kesesatan yang baik telah merubah wajah Islam karena kalau pun mati maka akan masuk ke neraka yang baik juga. Adakah bid'ah hasanah = sesat yang baik = neraka yang baik. Apakah ada kesesatan yang hasanah, wallahu a'lam.



Jamaah Jum'at yang berbahagia.

Dengan khutbah yang sederhana ini saya berusaha mengamalkan surat Al Ahzab 70-71 tadi. Semoga Allah memperbaiki amal-amal ibadah kita dan mengampuni bagi kita segala dosa-dosa kita, amin.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 42: "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahuinya."

Lalu apa al-Haq itu? Itulah Islam, sebagaimana firman Allah dalam surah yang lain: "Al Haq itu datangnya dari Tuhanmu maka janganlah kamu termasuk yang ragu-ragu."



أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





Khutbah kedua:


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.



Jamaah Jum'at yang berbahagia.

Ayat yang dibacakan ini (QS Ali Imran 102) memerintahkah kita bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa dan jangan sampai kita mati kecuali didalam ketaqwaan itu. Dan salah satu indikasi ketaqwaan adalah mengucapkan perkataan yang benar (wa quulu qawlan syadiida). Mudah-mudahan kita dimampukan mengucapkan perkataan yang benar, paling tidak apabila Rasulullah sudah mengatakan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka, maka marilah mengucapkan dengan ucapan yang sama dengan Rasulullah.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah 285: "Rasul telah beriman kepada (Al Qur'an ) yang diturunkan kepadanya dari Rabb-Nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya berima kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): "Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari rasul-rasul Allah." (Mereka berkata) : "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami wahai tuhan kami dan kepada-Mu lah kami akan kembali."

Itulah sebagian dari perkataan-perkataan yang benar. Saya tutup uraian ini dengan surah Al Furqan 30-31: "Berkatalah Rasul: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaum ku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang tidak diperdulikan!" (25:31) Allah berfirman: "Begitulah kelakuan kalian, karena Kami telah mengadakan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu saja yang menjadi pemberi petunjuk dan penolong!"



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.



Buntok, 20 April 2011

Kamis, 28 April 2011

BERKENALAN DENGAN DAJJAL

oleh Syamsuddin Rudiannoor


Saya sangat berterima kasih kepada blog "Misteri Dunia" yang menulis "Siapa Dajjal?" Karena sangat pentingnya pengetahuan ini maka saya bagikan untuk kita sekalian.

Dajjal kabarnya adalah seorang manusia keturunan Yahudi. Dia bukan jin atau apa pun makhluk lain. Dia adalah manusia yang ditangguhkan ajalnya seperti Nabi Isa yang di angkat Allah ke langit dan ditangguhkan kematiannya. Nabi Isa nantinya turun ke bumi lalu beliau akan mati dan di kuburkan di Madinah Al Munawwarah. Sama juga halnya dengan Iblis yang terlebih dahulu ditangguhkan kematiannya hingga kiamat nanti.

Ayah Dajjal adalah seseorang yang berperawakan tinggi dan gemuk. Hidungnya seperti paruh burung. Ibunya seorang perempuan gemuk dan banyak dagingnya. Menurut Imam Al Barzanji ada pendapat bahwa asal keturunan bapaknya ialah seorang Dukun Yahudi yang dikenali dengan “syaqq”. Sementara ibunya adalah dari bangsa Jin. Inilah cerita singkat orang tua Dajjal. Sedangkan Dajjal sendiri hidup di zaman Nabi Sulaiman dan mempunyai hubungan dengan makhluk halus. Lalu oleh Nabi Sulaiman ia akhirnya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Walau bagaimana pun kelahiran dan kehidupan masa kecilnya tidak diketahui dengan jelas.

Hadits Huzaifah ra berkata: Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Dajjal ialah orang yang buta matanya sebelah kiri, lebat rambutnya serta mempunyai Syurga dan Neraka. Nerakanya adalah Syurga dan Syurganya adalah Neraka (Sahih Muslim).

Beberapa ciri perawakan Dajjal disebutkan dalam hadis Rasulullah saw, diantaranya: "(Dajjal) seorang yang kelihatannya masih muda; berbadan besar dan agak kemerah-merahan; Rambutnya kerinting dan tebal. Kelihatan dari belakang seolah-olah dahan kayu yang rimbun. Dan tandanya yang paling kentara adalah: Pertama: Buta mata kirinya dan kelihatan seperti buah kismis yang kecut, mata kanannya tertonjol keluar kehijau-hijauan berkelip-kelip laksana bintang. Jadi kedua-dua matanya adalah cacat. Kedua: Di dahinya tertulisan “Kaf-Fa-Ra” (kafir). Tulisan ini dapat dibaca oleh setiap orang Islam, apakah pandai membaca ataupun tidak."

Mengikut hadits riwayat At-Thabrani, kedua-dua tanda ini menjelma dalam diri Dajjal setelah dia mengaku sebagai Tuhan. Adapun sebelum itu, kedua-dua tanda yang terakhir belum ada.

Menurut riwayat sahih dalam kitab “Shahih Muslim”, Dajjal sudah ada sejak lama. Ia dirantai di sebuah pulau dan ditunggui oleh seekor binatang yang bernama “Al-Jassasah”. Dalam hadits ini jelaslah bahwa Dajjal telah ada dan ia menunggu masa yang diizinkan Allah untuk keluar menjelajah permukaan bumi dan tempat “transitnya” ialah di sebelah Timur bukan di Barat.

Dajjal akan hidup sejak ia memulai huru-hara kepada umat ini selama empat puluh hari saja. Namun satu hari pertamanya adalah sama dengan setahun dan hari keduanya sama dengan sebulan dan hari ketiganya sama dengan satu minggu, dan hari-hari lainnya lagi sama seperti hari-hari biasa. Jadi keseluruhan masa Dajjal membuat fitnah dan kerusakan ialah 14 bulan dan 14 hari. Dalam Hadis Muslim disebutkan: Kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Berapa lamakah ia akan tinggal di muka bumi ini?" Nabi saw menjawab: "Ia akan tinggal selama empat puluh hari. Hari yang pertama seperti setahun dan hari berikutnya seperti sebulan dan hari ketiga seperti seminggu. Kemudian hari yang masih tinggal lagi (yaitu 37 hari) adalah sama seperti hari kamu yang biasa". Lalu kami bertanya lagi: "Wahai Rasulullah saw! Di hari yang panjang seperti setahun itu, apakah cukup bagi kami hanya sholat sehari saja (5 waktu saja)?". Nabi saw menjawab: "Tidak cukup. Kamu mesti menghitung hari itu dengan menentukan kadar yang bersesuaian bagi setiap sholatmu.”

Maksud sabda Rasulullah saw ini ialah supaya kita menghitung ulang jam yang berlalu pada hari itu, bukan lagi mengikuti perjalanan matahari seperti biasanya. Misalnya sudah berlalu tujuh jam selepas sholat Subuh pada hari itu maka masuklah waktu sembahyang Dhuhur, maka hendaklah kita sholat Dhuhur. Dan apabila telah berlalu selepas sholat Dhuhur itu tiga jam setengah, misalnya, maka masuklah waktu Ashar, maka wajib kita sholat Ashar. Begitulah seterusnya waktu Sholat Maghrib, Isya, Subuh dan seterusnya hingga habislah hari-hari yang panjang itu sama panjangnya dengan masa satu tahun dan bilangan sholat pun pada sehari sebanyak bilangan sholat setahun yang kita lakukan. Begitu juga pada hari Kedua dan ketiga

Dajjal telah diberi peluang oleh Allah untuk menguji umat ini. Oleh kerana itu, Allah memberikan kepadanya beberapa kemampuan yang luar biasa, diantaranya:


A. Segala kesenangan hidup akan ada bersama dengannya.

Benda-benda beku akan mematuhinya. Sebelum kedatangan Dajjal, dunia Islam akan diuji dahulu oleh Allah dengan kemarau panjang selama 3 tahun berturut-turut. Pada tahun pertama hujan akan kurang sepertiga dari biasanya dan pada tahun kedua akan kurang 2/3 dari biasa dan tahun ketiga hujan tidak akan turun langsung. Umat akan dilanda kelaparan dan kekeringan. Di saat itulah Dajjal akan muncul membawa ujian. Maka daerah mana yang percaya Dajjal adalah Tuhan, maka ia akan berkata kepada awan: Hujanlah kamu di daerah ini! Lalu hujan pun turun dan bumi menjadi subur. Begitu juga ekonomi dan perdagangan akan menjadi makmur dan stabil bagi orang-orang yang bersekutu dengan Dajjal. Manakala penduduk suatu negeri tidak mau bersukutu dengan Dajjal maka mereka akan tetap berada didalam kelaparan dan kesusahan.

Diriwayatkan para penyokong Dajjal akan memiliki segunung roti (makanan) sedangkan orang yang tidak percaya dengannya berada dalam kelaparan dan kekeringan. Para sahabat Rasullullah saw bertanya: ”Jadi apa yang dimakan oleh orang Islam yang beriman pada hari itu wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: ”Mereka akan merasa kenyang dengan bertahlil, bertakbir, bertasbih dan bertaubat. Jadi zikir-zikir itu yang akan menggantikan makanan mereka.” HR Ibnu Majah


B. Ada bersamanya seumpamanya Syurga dan Neraka:

Diantara ujian Dajjal ialah kelihatan bersamanya seumpama syurga dan neraka, dan juga sungai air dan sungai api. Dajjal akan menggunakan kedua-duanya untuk menguji iman orang Islam karena hakikat yang benar adalah kebalikan dari apa yang kelihatan. Apa yang dikatakan Syurga sebenarnya Neraka dan apa yang dikatakannya Neraka maka itulah Syurga.


C. Kehebatan perjalanan dan Negeri-Negeri yang tidak dapat dimasukinya:

Kehebatan yang dimaksudkan ini adalah kecepatannya dalam perjalanan. Kami bertanya:"Wahai Rasulullah! Bagaimana kehebatan perjalanannya di atas muka bumi ini?" Nabi menjawab: ”Kehebatan perjalanannya adalah seperti kecepatan “Al Ghaist” (hujan atau awan) yang dipukul oleh angin yang kencang.” H.R Muslim

Namun demikian, Dajjal tetap tidak dapat memasuki dua kota suci umat Islam yaitu Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah.


D. Bantuan Syaitan-Syaitan untuk memperkukuhkan kedudukannya:

Syaitan juga akan bekerja keras membantu Dajjal. Bagi syaitan, inilah saat-saat yang terbaik untuk menyesatkan lebih banyak lagi anak cucu Adam.

Dst......

TIGA TANDA KIAMAT YANG HARUS DIANTISIPASI DEWASA INI




Era Muslim.com (Saturday, 23/05/2009 21:28 WIB) bersama Ustadz Ihsan Tanjung menampilkan "Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini".

Banyak orang barangkali belum menyadari bahwa kondisi dunia dewasa ini ialah kondisi dimana hampir segenap tanda-tanda kecil Kiamat yang diprediksikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah bermunculan semua. Coba perhatikan beberapa contoh tanda-tanda kecil Kiamat berikut ini:

* Dan perceraian banyak terjadi ويكثر الطلاق

* Dan banyak terjadi kematian mendadak (tiba-tiba) و الموت الفجاء

* Dan banyak mushaf diberi hiasan (ornamen) و حلية المصاحف

* Dan masjid-masjid dibangun megah-megah و زخرفت المساجد

* Dan berbagai perjanjian dan transaksi dilanggar sepihak و نقضت العهود

* Dan berbagai peralatan musik dimainkan و استعملت المأزف

* Dan berbagai jenis khamr diminum manusia و شربت الخمور

* Dan perzinaan dilakukan terang-terangan و فخش الزنا

* Dan para pengkhianat dipercaya (diberi jabatan kepemimpinan) و اؤتمن الخائن

* Dan orang yang amanah dianggap pengkhianat (penjahat/teroris) و خون الأمين

* Tersebarnya Pena (banyak buku diterbitkan) ظهور القلم

* Pasar-pasar (Mall, Plaza, Supermarket) Berdekatan تتقارب الأسواق

* Penumpahan darah dianggap ringan استخفاف بالدم

* Makan riba أكل الربا

Jadi kalau kita perhatikan, contoh-contoh di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita ini. Bahkan bila kita buka kitab para Ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera ber gumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!” Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits. Laa haula wa laa quwwata illa billah....

MANUSIA MODEREN MULAI MENEMUI TANDA TANDA AKHIR ZAMAN

Oleh Syamsuddin Rudiannoor


Kalangan tertentu sudah Promo Hari Kiamat yang katanya akan terjadi pada tanggal 21 Mei 2011. Lalu bagai mana dengan kita? Apakah kita percaya ...., peduli...., tidak tahu ...., tidak mau tahu...., atau bagai mana...?

Berkata Ali bin Abi Thalib: "Akan datang suatu masa dimana Islam hanya tinggal namanya saja, agama hanya bentuknya saja, Al-Qur'an hanya dijadikan bacaan saja, giat mendirikan masjid namun masjidnya sunyi dari zikir kepada Allah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu adalah para ulama karena dari merekalah timbulnya fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga. Dan kesemua yang tersebut itu adalah tanda-tanda hari kiamat."

Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak larisnya jualan di pasar, sedikit hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi dan merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik bersuara lantang di masjid, dan para ahli mungkar lebih menonjol dari ahli haq"

Sabda Rasulullah S.A.W, "Apabila harta orang kafir dihalalkan tanpa alasan peperang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar ilmu selain daripada agama, laki-laki taat kepada isterinya lalu durhaka kepada ibunya, manusia lebih akrab dengan temannya dan menjauhi ayahnya, suara-suara lantang di dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari kalangan orang-orang fasik, orang dimuliakan karena takut akan kejahatan dan aniayanya dan bukan takut karena Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamat."

Sesungguhnya...., masih banyak lagi tanda-tanda lain yang telah diucapkan Rasulullah SAW dan perlu dicermati satu demi satu. Yang pasti, kitab suci Al Qur'an juga sudah dengan tegas membicarakannya: KIAMAT.

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...