Senin, 17 September 2012

ISLAM ADALAH NIKMAT (1)



Khutbah Jumat tanggal 31 Agustus 2012 di Masjid As-Sunnah Buntok

Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR


KHUTBAH PERTAMA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Ada 4 (empat) dasar yang ingin disampaikan dalam kesempatan khutbah  Jum’at hari ini:

1. Yang pertama, Al Qur’an Surah Al Fathihah ayat 6-7: "Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Dari doa Al Fathihah ini tegas bahwa kita meminta kepada Allah agar ditunjuki jalan yang lurus yakni jalan orang-orang yang telah diberi NIKMAT.

2.        Kedua, Surah Al Maidah ayat 3: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu".

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, din yang diridhoi Allah dan Islam adalah NIKMAT Allah yang sempurna.

3.      Ketiga, Islam itu adalah NIKMAT Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dan Muhammad tidak berhak menentukan Islam berdasarkan nafsunya. Islam adalah NIKMAT yang disampaikan Allah melalui kenabian Muhammad sehingga Muhammad bukan pembuat syariat. Dasarnya adalah Al Qur’an Surah  An Najm ayat 2-3: "dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)",

Inilah penegasan bahwa Islam sebagai Nikmat Allah yang dibawa Muhammad adalah syariat Allah, bukan syariat buatan Muhammad. Artinya  ISLAM adalah NIKMAT ALLAH.

4.  Keempat, karena Islam adalah NIKMAT Allah maka Muhammad diharamkan menentukan apa pun dalam Islam. Muhammad diharamkan berbuat bid’ah. Muhammad dilarang membuat syariat. Allah berfirman dalam surah Al Haqqah ayat 44-48: "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.  Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.  Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa".

Inilah dasar bahwa bid’ah adalah sesat. Bid’ah tidak ada dalam Islam. Islam sudah sempurna. Islam adalah nikmat yang sempurna, tidak perlu lagi tambahan apa pun dari manusia. Rasul-Nya saja diancam bunuh apabila membuat bid’ah, apalagi bid’ah dari manusia yang bukan Nabi. Sungguh bid’ah adalah kesesatan yang nyata.  Rasulullah SAW bersabda:

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik hadits adalah kitab Allah (Al Qur’an). Dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruk urusan (dalam Islam) adalah yang diada-adakan dan semua yang diada-adakan adalah bid’ah dan semua bid’ah itu sesat dan semua yang sesat di Neraka.”

Riwayat semacam ini dapat dibaca dalam hadits Muslim, Kitab Al- Jumu’ah, bab Meringkas Shalat dan Khutbah I: 592 nomor 867; juga Riwayat An Nasa’i, kitab Shalat Iedain, bab Bagaimana Cara Berkhutbah/III: 188, nomor 1578.

Apa artinya? Semua bid’ah itu sesat dan pasti sesat. Kalau ada yang bilang ada bid’ah hasanah maka dia telah menentang Allah dan Rasul SAW secara nyata. Coba fikir, kalau ada bid’ah hasanah berarti dia telah menyatakan adanya sesat yang baik. Kalau ada Bid’ah Hasanah atau SESAT yang BAIK berarti ada juga NAR HASANAH atau NERAKA YANG BAIK karena bid’ah hasanah akan masuk NAR HASANAH semuanya. Singkatnya.., bid’ah hasanah atau sesat yang baik...., adakah?

 
Kita tutup khutbah pertama ini dengan firman Allah surah Al Baqarah ayat 41-42:
"[41]. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an, yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa  [42]. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui".



KHUTBAH KEDUA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛

QS Ali Imran 102: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam".


Jamaah yang berbahagia.
Allah mengingkari pengistimewaan dan pemuliaan terhadap suku, bangsa dan keturunan tertentu dari manusia manapun karena diantaranya surah Al Hujurat 13: "[13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

Pahamkah kita dengan ayat ini? Jelas dikatakan bahwa Allah sengaja menjadikan kita orang Jawa, Dayak, bangsa China, India, Arab dan sebagainya, semua itu tidak ada apa-apanya kecuali dari TAWQA-nya. Perhatikan juga ayat-ayat lain seperti Al Anfal 28-29, Al A’raf 96, At Talaq 3-4-5 dll.

"[89] Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri". (QS An Nahl 89)

Inilah kesempurnaan Islam, sempurna tanpa adanya kultus atas klan tertentu. Semua manusia sama, kecuali atas dasar TAQWA-nya. Jadi kunci sukses dalam meraih nikmat Islam adalah taqwa. Dan taqwa itu harus dijalankan dengan perintah dan larangan Allah semaata. Allah berfirman dalam QS Ali Imran 31 
Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."

[3:19] "Sesungguhnya Din di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya". (QS Ali Imran 19).

Kuala Kapuas, 21 Agustus 2012

CATATAN ATAS KHUTBAH IDUL FITRI 1433 H DI KOMPLEKS PERGURUAN MUHAMMADIYAH BUNTOK



Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Pada hari Ahad tanggal 19 Agustus 2012 dilaksanakan Shalat Idul Fitri 1 Syawwal 1433 H di halaman kompleks Perguruan Muhammadiyah, Jalan Pelita Raya Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah.

Khatib yang menyampaikan khutbah id pada hari itu berasal dari Makassar (tidak perlu menyebutkan nama) dan materi khutbah sangat bagus serta cukup menyentuh.

Ada beberapa hal yang ingin disampaikan untuk melengkapi khutbah id tersebut yang pada pokoknya adalah khatib telah penyampaian hadits tanpa menyebutkan sumber hadits / perawi hadits dan adanya hadits yang meragukan dari segi keabsahannya.

Intinya, Islam adalah NIKMAT, disampaikan oleh Nabi Muhammad dan Muhammad tidak berhak menentukan Islam berdasarkan nafsunya. Dasarnya adalah Al Qur’an Surah  An Najm ayat 2-3:

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),

Maksudnya, tidak mungkin seorang khatib mengucapkan sesuatu tanpa menyebutkan sember dalilnya padahal Islam adalah dalil Allah yang dibawa Muhammad. Allah berfirman dalam surah Al Haqqah ayat 44-48: "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.  Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.  Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa."

Sekarang kembali kepada pokok bahasan. Dalam khutbah Id tersebut, khatib mengutip hadits tentang seorang laki-laki yang sedang sakratul maut namun tidak bisa mengucap “la ilaaha illallah” karena durhaka kepada ibunya. Karena ibunya tidak mau mengampuni maka Rasulullah memerintahkan mengumpulkan kayu bakar dan akan membakar pemuda durhaka tersebut.
.
Permasalahnya, khatib menisbahkan kisah itu kepada Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sumber pengambilan riwayat. Atas kenyataan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

1.   Saya, Syamsuddin Rudiannoor, pernah membawakan hadits “kisah sakaratul maut Al Qomah” riwayat Thabarani dalam khutbah Jum’at di Masjid At Taqwa Buntok (rasanya tahun 2004) dalam tema Berbakti kepada Kedua Orang Tua. Kisah yang disampaikan sama, seorang pemuda tidak bisa mati karena durhaka kepada ibunya. Selesai khutbah maka pada sore harinya saya bertanya kepada ustadz Heri Nuryahdin (siswa PP Persis Bangil) tentang hadits tadi. Apa jawaban yang saya dapat? Katanya, “Kami tidak berani membawakan hadits seperti itu, khawatir mencela sahabat”. Pada waktu itu saya diam namun hati menjadi penasaran. Barulah pada tahun 2006 anak saya Faizar Rudiannoor membeli buku ”Hadits-hadits Dhaif dan Maudhu” Jilid 1 karya Abdul Hakim bin Amir Abdat. Setelah  membaca buku ini baru saya faham apa yang dimaksud oleh ustad Heri.

2.     Dari  buku ”Hadits-hadits Dhaif dan Maudhu” Jilid 1 karya Abdul Hakim bin Amir Abdat, penerbit Darul Qolam, Jakarta, cetakan II – Tahun 2005, halaman 201-2005, diuraikan sebagai berikut: “122. Artinya: Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Kami pernah berada disisi Nabi SAW lalu datanglah seseorang, ia berkata: Ada seorang pemuda yang nafasnya hampir putus, lalu dikatakan kepadanya, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, akan tetapi ia tidak sanggup mengucapkannya. Beliau SAW bertanya kepada orang itu: “Apakah anak muda itu sholat?” Jawab orang itu: “Ya”. Lalu Rasulullah SAW bangkit berdiri dan kami pun berdiri bersama beliau, kemudian beliau masuk menenui anak muda itu, beliau bersabda kepadanya: “Ucapkanlah Laa ilaaha illallah”. Anak muda itu menjawab: “Saya tidak sanggup.” Beliau SAW bertanya: “Kenapa?” Dijawab oleh orang lain: “Dia telah durhaka kepada ibunya.” Lalu Nabi SAW bertanya: “Apakah ibunya masih hidup?” Mereka menjawab: “Ya”. Beliau SAW bersabda: “Panggil ibunya kemari!” Lalu datanglah ibunya, maka beliau bersabda: “Ini anakmu?” Jawabnya: “Ya.” Beliau bersabda lagi kepadanya: “Bagai mana pandanganmu kalau sekiranya dibuat api unggun yang besar lalu dikatakan kepadamu: Jika engkau memberi syafaat mu kepadanya niscaya akan kami lepaskan dia, dan jika tidak maka pasti kami akan membakarnya dengan api, apakah engkau akan memberikan syafaatmu kepadanya?” Perempuan itu menjawab: “Kalau begitu, aku akan memberikan syafaat kepadanya”. Beliau bersabda: “Maka jadikanlah Allah sebagai saksinya dan jadikan aku sebagai saksinya sesungguhnya engkau telah meridhai anakmu”. Perempuan itu berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan Engkau sebagai saksi dan aku menjadikan Rasul-Mu sebagai saksi sesungguhnya aku telah meridhai anakku.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada anak itu: “Wahai anak muda ucapkanlah Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu”. Lalu anak muda itu pun dapat mengucapkannya. Maka bersabda Rasulullah SAW: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dengan sebab aku dari api neraka”.

3.   Komentar dalam ”Hadits-hadits Dhaif dan Maudhu” Jilid 1 karya Abdul Hakim bin Amir Abdat adalah: Status hadits SANGAT LEMAH. Hadits Al Qomah ini diriwayatkan oleh Thabarani dalam kitabnya Al Mu’jam Kabir dan Imam Ahmad meriwayatkan dengan ringkas. Demikian keterangan Al Imam Al Mundziry dalam kitabnya At Targhib wat Tarhib juz 3 halaman 331. Saya berkata: Imam Ahmad telah meriwayatkan di Musnad-nya juz 4 halaman 382 dari jalan Faa-id bin Abdurrahman bin Aufa dengan ringkas.  Al Imam Ibnul Jauzi telah meriwayatkan hadits di atas di kitabnya Al Maudhu’at juz 3 halaman 87 dari jalan Faa-id seperti diatas. Berkata Abdullah bin Ahmad (anaknya Imam Ahmad yang meriwayatkan kitab Musnad bapaknya) setelah meriwayatkan hadits diatas yang ia dapati di kitab bapaknya bahwa bapaknya tidak ridha terhadap hadits Faa-id bin Abdurrahman atau menurut beliau bahwa Faa-id bin Abdurrahman itumatrukul hadits. Berkata Imam Ibnul Jauzi setelah meriwayatkan hadits di  atas: “Hadits ini tidak sah datangnya dari Rasulullah SAW. Dan didalam sanadnya terdapat Faa-id, telah berkata Imam Ahmad bin Hambal: Faa-id matrukul hadits. Dan telah berkata Yahya (bin Ma’in): Tidak ada apa-apanya. Berkata Ibnu Hibban: Tidak boleh berhujjah dengannya. Berkata Al ‘Uqaily: Tidak ada muttabi-nya didalam hadits ini dari rawi yang seperti dia.”

4.     Saya berkata (Abdul Hakim):  Tentang Faa-id bin Abdurrahman seorang rawi yang sangat lemah telah lalu sejumlah keterangan dari para Imam ahlul hadits di hadits kedua (no. 2) dari kitab ini, yakni: a. Berkata Imam Ahmad bin Hambal: Matrukul Hadits.  b. Kata Imam Ibnu Ma’in: Dha’if, bukan orang yang tsiqah.  c. Berkata Imam Abu Dawud: “Bukan apa-apa.”   d. Berkata Imam Nasa’i: Bukan orang/rawi yang tsiqah, matrukul hadits.   e. Berkata Ibnu Hibban: “Tidak boleh berhujjah dengannya.”  f. Berkata Imam Bukhari: “Munkarul Hadits.” (Maksud perkataan Imam Bukhari diatas telah beliau jelaskan sendiri dengan perkataannya yang mashur: “Setiap rawi yang telah aku katakan (Jahr) sebagai munkarul hadits maka tidak halal meriwayatkan hadits darinya”)  g. Berkata Imam Abu Hatim: “Hadits-haditsnya dari jalan Ibnu Abi Aufa batil-batil”.  h. Berkata Imam Hakim: “Ia telah meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa hadits-hadits maudhu’.”

5.    Kata Abdul Hakim kemudian: “Sebagai mana hadits Tsa’labah maka hadits Al Qomah pun BATIL bila ditinjau dari jurusan matan-nya. Karena tidak ada seorang pun sahabat yang datang dari hadits-hadits yang sah yang durhaka kepada orang tuanya istimewa kepada ibunya. Bahkan yang ada sebaliknya bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat berbuat kebaikan (birrul walidain) kepada orang tua mereka apalagi kepada ibu mereka. 

6.   Menutup catatan ini marilah kita renungkan firman Allah surah At Taubah ayat 100:  "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."

Wallahu a’lam.
Kuala Kapuas, 16 September 2012

Rabu, 12 September 2012

Video “Habib” Curhat di Kuburan: Guru Ngaji Dituduh Cemarkan Nama Baik



DEPOK (VoA-Islam) – Fitria Kurniawan (33) atau yang biasa disapa Abu Fahd, sejak malam Ahad (31/9) hingga kini masih ditahan oleh Polres Depok, Jawa Barat. Ia ditahan atas tuduhan telah mencemarkan nama baik seorang habib di jejaring sosial Facebook tentang video heboh curhatnya habib – kepada ahli kubur.

Terjadi perdebatan hebat atas video tersebut, dari facebooker yang ikut mengomentarinya, baik yang pro maupun kontra. Ada yang berargumen dengan berbagai dalil, ada yang membela habib, dan tak sedikit yang berkata kasar. Puncaknya, ketidaksenangan murid-murid sang habib atas video yang diupload di FB tersebut, segera mencari tahu keberadaan Abu Fahd yang menjadi admin.

Seperti dijelaskan adik Abu Fahd kepada Voa-Islam, video tersebut tidak direkam oleh Abu Fahd. Video itu justru diambil oleh salah seorang murid habib itu sendiri. Namun, dikui, Abu Fahd menyebarkannya lewat FB. Setelah itu, semakin banyaklah video-video serupa yang disebarkan lewat You Tube. “Video itu tersebar melalui Bluetooth ke Bluetooth,” ujar Abu Fauziah, sang adik yang dihubungi tadi pagi.

Pada malam ahad itu, sekelompok massa berpakaian putih-putih, sekitar ratusan orang, dengan berkendaraan motor, mengepung toko obat herbal milik Abu Fahd di dekat stasiun Bojong Gede. Melihat gelagat kekisruhan itu, pihak aparat setempat mulai mengamankan Abu Fahd dari kepungan massa. Kemudian dibawalah ia ke Polsek Tonjong, Parung. Sekitar 5 km dari Bojong Gede.

Namun, massa tidak puas. Mereka kembali mengepung Polsek Tonjong. Untuk berjaga-jaga dari tindakan anarkis massa, Abu Fahd lagi-lagi dipindahkan ke Polres Depok, malam itu juga. Jamaah Majelis Taklim al-Busro, Citayam, Jawa Barat ini, tetap mengikuti mobil polisi yang membawa Abu Fahd ke Polres Depok.  Hingga pukul 03.00 dinihari, Abu Fahd masih diamankan. Kemudian, muncul lah Habib Alwi – konon tinggal di kawasan Tebet, Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan – di Polres Depok.

Memasuki waktu Subuh, polisi membuat BAP. Setelah mendengar penjelasan Abu Fahd, polisi malah dijerat pasal pencemaran nama baik melalui IT kepada Abu Fahd. Pihak polisi sebenarnya, ingin permasalahan ini didamaikan secara kekeluargaan. Begitu juga dengan keluarga Abu Fahd. Tapi tampaknya tekanan massa yang begitu kuat, membuat polisi harus mengenakan pasal pencemaran nama baik kepada Abu Fahd.

Perkembangan selanjutnya, kuasa hukum Abu Fahd akan mengajukan permohonan kepada pihak kepolisian agar memberikan proses penangguhan penahanan. Mengingat, Abu Fahd adalah seorang ayah menjadi tanggungan bagi orang tua, istri, dan kedua anaknya yang masih kecil.

Tak habis pikir, Abu Fahd, yang sehari-hari menjadi guru ngaji tahsin dan berdakwah lewat jejaring sosial, dengan menjelaskan perkara yang batil ihwal apa yang dilakukan seorang habib yang curhat kepada kuburan, justru malah dipenjara. Ironis! Desastian

Kamis, 30 Agustus 2012

KEWAJIBAN PUASA RAMADHAN


Khutbah Jum’at tanggal 17 Agustus 2012 di Masjid As-Sunnah Buntok

Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR



KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
(Ali Imran 102)
: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (an Nisa’ 1)
 
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (al Ahzab 70-71)
 
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
 
 
Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan dirahmati Allah SWT.
 
Allah Sub-hanahu wa Ta'ala secara lengkap menurunkan perintah puasa ramadhan dalam Al Qur'an surah Al Baqarah ayat 183 sampai 187:

[183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,


[184 (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.



Inilah perintah itu, perintah yang ditujukan khusus kepada orang-orang Islam (beriman) supaya mereka bertakwa. Namun perintah ini memiliki pengecualian yaitu tidak semua orang Islam harus berpuasa kecuali mereka tidak bepergian dan tidak sakit. Namun demikian, mengupayakan tetap berpuasa adalah lebih baik.

[185] Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Barang siapa di antara kamu mempersaksikan bulan itu maka berpuasalah pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajib berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur. 

Sangat jelas dan tegas bahwa Al Qur'an diturunkan dalam bulan ramadhan, pada malam yang penuh berkah, yakni pada malam Lailatur Qadar (QS Al Qadr 1). Lalu kenapa kita mengatakan Al Qur'an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, padahal penetapan ini tanpa dasar ilmu sama sekali? Kalau pun kita merujuk kepada hadits-hadits shahih dari Rasulullah SAW maka dengan gamblang dinyatakan bahwa Malam Al Qadr (Lailatul Qadar) itu adanya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan ramadan. Artinya lailatul qadar turun pada antara tanggal 21 sampai 29 Ramadhan, inilah malam-malam Nuzulul Qur'an. Tanggal 17 Ramadhan itu sudah pasti haul Perang Badar, lalu kenapa kita menyalahinya dengan mengatakan sebagai Nuzulul Qur'an? 


Fungsi Al Qur'an pun jelas yaitu sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Pertanyaannya, kenapa kita masih saja berislam dengan menetapkan sesuatu tanpa dasar Al Qur'an sama sekali? Misalnya, kita tetapkan Nuzulul Qur'an pada tanggal 17 Ramadhan padahal Al Qur'an menegaskannya pada malam Al Qadr dan malam itu adalah sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Lalu.., kenapa kita tidak mau merayakan 17 Ramadhan sebagai HUT Perang Badar padahal sangat jelas perang Badar terjadi pada tanggal tersebut? Islam macam apa kita?



QS Al Baqarah 186 Allah menegaskan: [186] Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.


Inilah bukti bahwa Ramadhan adalah bulan Al Qur'an. Allah menyatakan diri-Nya sangatlah dekat. Kalau Allah itu sudah sangat dekat maka kita manfaatkan kedekatan itu dengan maksimal meminta dan berdoa kepada-Nya secara langsung, asal kita memenuhi persyaratan-Nya, yaitu: 
memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 

Dengan demikian kita wajib meminta langsung kepada Allah.



بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


 
 
KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ

Dalam Al Baqarah 187 Allah berfirman: [187] Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Inilah dalil yang tegas bahwa kaum muslimin disyariatkan pada malam bulan ramadhan bersahur dengan hubungan suami-istri, makan sahur dan minum sampai tibanya adzan Shubuh, kemudian Imsak atau memulai berpuasa ketika adzan Subuh berkumandang. Dengan begitu maka Imsak adalah rukun puasa yakni menahan diri dari makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai awal malam. Dengan demikian waktu Imsak adalah lebih 12 jam, sejak adzan subuh sampai adzan magrib. Artinya Imsak 10 menit sebelum adzan Subuh adalah Bid'ah.

Selama bulan ramadhan kita hanya dilarang berhubungan suami istri ketika i'tikaf di Masjid. Kalau tidak i'tikaf maka sikat saja bleh, halal dan baik. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.  
 
Artinya, tujuan Puasa Ramadhan adalah mencapai Taqwa, sehingga kita sangat bingung ketika ada ulama yang menyatakan bahwa orang yang berpuasa akan mencapai tingkat Khawash bil khawash atau Khawash. Kenapa kita mau saja merubah tujuan puasa kita kepada KHAWASH padahal Allah yang menjanjikan TAQWA kepada kita?

Wallohu’ Ta’ala A’lam.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Berpegang kepada Ayat Muhkamat


Khutbah Jum’at tanggal 23 Juni 2012 di Masjid As-Sunnah Buntok
Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR


KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
(Ali Imran 102)
: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (an Nisa’ 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (al Ahzab 70-71)
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Dalam Terjemah Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al Asqalani, hadits Nomor 477, Imam Muslim meriwayatkan:  Dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin Nu’man, dia berkata: “Saya tidak mengambil Qof wal Qur’anil Majid melainkan dari mulut   Rasulullah SAW yang beliau baca pada tiap-tiap jumat di atas mimbar ketika berkhutbah kepada manusia.” 

Dari hadits ini dapat ditangkap pengertian, Pertama: “Ada seorang perempuan setiap hari jumat menghadiri Jum’atan dan selama itu pula mendapati Rasulullah SAW membaca Al Qur’an surah Qaf dalam khutbah Jumat”. 

Inilah satu dalil bahwa perempuan diizinkan mendatangi shalat jum’at di masjid

Kedua: “Rasulullah berkhutbah membaca ayat-ayat kitabullah”. 

Ketiga: “Isi surah Qaf  menekankan keimanan kepada hari akhirat.”

Oleh karenanya khutbah yang lalu menekankan surah Qaf, yakni ayat 24-26 dan 45:  [24] Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala,  [25] yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu,  [26] yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”.

Inilah ayat yang menunjukkan nasib ummat Islam yang kafir (ingkar) kepada ajaran agamanya, menentang praktek Islam, keras kepala, menolak usaha mengamalkan Islam, ragu-ragu terhadap Islam, akhirnya menjadi musyrik karena memilih aturan lain selain Islam.

Karenanya Allah dan Rasul-Nya memperingatkan dengan surah Qaf selanjutnya yaitu ayat 45:  [45] Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.

Mari berdzikir dengan Al Qur’an karena Qur’an memang adz-dzikra. Dan  khutbah yang lalu sudah pula kita peringatkan dengan surah Ali Imran ayat 7, dimana orang-orang yang sesat dari ummat Islam ini adalah mereka yang gandrung, hobi dan sangat senang dengan ayat-ayat sub-hat yang multi tafsir: “[7] Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.”


Contoh ayat yang suka diplintir antara lain Surah Thoha ayat 1-2 :
[20:1] Thaahaa {912}.
[20:2] Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Kemudian surah Yaasiin 1-3:
[36:1] Yaa siin {1264}
[36:2] Demi Al Quraan yang penuh hikmah,
[36:3] Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,

Umumnya kita yakin bahwa Thoha dan Yasin adalah nama rasulullah Muhammad SAW sebagai nama-nama khusus pemberian Allah walau pun tanpa dalil yang tegas. Dasar yang dipakai hanyalah takwil semata. Buktinya lainnya adalah Shalawat Badar yang dikarang tahun 1960 oleh ulama Indonesia asal Banyuwangi KH Ali Mansyur, yang bunyinya: “Shalatullah, salamullah, ala thoha rasululillah, sholatullah, salamullah ala Yaasiin, habibillah.” Syair ini menjadi terkenal setelah dipopulerkan oleh Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, Kwitang, Jakarta. Jelas dan tegas bahwa Thoha dan Yasin adalah rasulullah, bahkan dia adalah habib Allah.

ALI IMRAN (3:102)  [id] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ

Sekarang kita berada pada zaman dimana ada klan khusus yang bernama habib, ahlul bait, suatu golongan khos dan keturunan istimewa yang otomatis menjadikan mereka kekasih Allah dan jaminan ketakwaan. 

Padahal Allah mengingkari peng-istimewaan dan pemuliaan sedemikian karena diantaranya surah Al Hujurat 13: “[13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pahamkah kita dengan ayat ini? Jelas dikatakan bahwa Allah sengaja menjadikan kita orang Jawa, Dayak, bangsa China, India, Arab dan sebagainya, semua itu tidak ada apa-apanya kecuali dari TAWQA-nya. 

Perhatikan juga ayat-ayat lain seperti Al Anfal 28-29, Al A’raf 96, At Talaq 3-4-5 dll:   “[89] Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS An Nahl 89)

Lalu bagai mana dengan fakta ahlul bait dan habib diatas? Perbincangan ini cukup menyita waktu untuk membahasnya. Kalau pun kita mau tahu ahlul bait maka mulailah dengan menelaah Al Qur’an karena An Nahl 89 tadi menerangkan bahwa Al Qur’an menerangkan segala permasalahan. Mulai meneliti Al Qur’an, diantaranya surah Hud 73, Al Qashash 12, Al Ahzab 33, kemudian hadits-hadits pendukungnya. Yang pasti Islam menganut garis juriat jalur ayah kecuali Isa bin Maryam. 

Lalu dari mana jalur ahlul bait yang menurunkan Habib? Inilah salah satu masalahnya. Yang pasti syair terkenal berkata: “Ya Nabi salam alaika, ya rasul salam alaika, ya habib salam alaika, sholawatullah alaika.” Alangkah berbahagia habib karena Allah sholat kepada mereka para habib. Padahal Allah berfirman dalam QS Ali Imran 31 :  “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”

“[3:19] Sesungguhnya Din di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS Ali Imran 19).

Ayat Allah ini menjelaskan bahwasanya kita ini sejatinya bersatu, namun setelah Islam diterangkan dengan sebenar-benarnya maka kita justru menjadi kafir karena dengki diantara kita. Jelas semua diterangkan Allah dalam Al Qur’an.

[6:38] Dan tiadalah binatang-binatang di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat juga seperti kamu. Tiada Kami lupakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab itu, kemudian kepada Tuhanlah mereka di kembalikan. (QS Al An’an 38).

Jelas dan tegas. Tidak ada yang dilupakan Allah dalam Al Qur’an karena Allah bukan pelupa.


Mun’im Sirry, MA, kandidat Phd di Universitas Chicago menyampaikan hasil studi genetik terhadap orang-orang yang mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW, yang bergelar Sayyid dan Habib, di negara India, Pakistan dan Iran. Benarkah habib itu keturunan Nabi SAW? MR Rafie, A Sokhansanj, Naghizadeh dan Farazman melakukan uji DNA di Iran. Lalu Elisse Belle, Saima Shah, Tudor Parfit dan Mark Thomas melakukan tes DNA di India dan Pakistan. Terbuktikah habib itu keturunan Nabi Muhammad SAW? Kesimpulan hasil penelitian itu sama: “Mereka yang mengaku Sayyid dan Habib bukan keturunan Nabi SAW”. Nah, kalau yang di Asia Tengah dan India Sub Continen saja tidak benar, apa mungkin habib yang pesek di kampung kita keturunan Nabi Muhammad? Kasindiran dimana? Kata Sirry, jelas Sayyid dan Habib itu konstruk sosial yang bertujuan untuk kehormatan dan legitimasi. Mari tes DNA kalau berani, pembandingnya sudah ada di India, Pakistan dan Iran.


Wallohu’ Ta’ala A’lam.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Kiamat Semakin Dekat, Satu Kelas SMA di Amerika Hamil Massal

0 komentar

Gila! Entah apa yang ada di pikiran para remaja putri yang belum genap 17 tahun ini. Mereka yang masih berstatus siswi di Gloucester High School (setingkat SMU) di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat, bersepakat untuk hamil secara bersamaan.

Kelakuan siswi-siswi ini tentu saja membuat geleng-geleng kepala para pejabat setempat, guru-guru, dan para orangtua. Mereka tak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam benak para siswi ini.

Peristiwa yang menggegerkan tersebut, berawal sehabis liburan musim panas. Ketika dimulai belajar kembali di sekolah, ternyata diketahui 17 siswi hamil secara bersamaan. Uniknya mereka tak hanya satu sekolah, tetapi juga satu kelas. Di sekolah tersebut, memang setiap habis liburan selalu diadakan tes kehamilan.

Namun, sampai saat ini siapa saja ayah si jabang bayi belum diketahui. Pasalnya bila umur pria yang menghamili siswi-siswi tersebut telah lebih dari 20 tahun, bisa kena hukuman penjara karena berhubungan seks dengan anak di bawah umur.

Berdasarkan penyelidikan pihak sekolah, akhir Mei 2010, ternyata para siswi yang hamil telah sepakat untuk hamil bersamaan, bahkan bukan hanya ke-17 siswi itu saja tetapi juga siswi lainnya, tetapi hanya 17 siswi yang hamil. Yang lebih mencengangkan, siswi di kelas itu yang tidak hamil mengaku merasa kecewa karena gagal hamil.


Read more: http://91lapc.blogspot.com/2012/08/satu-kelas-sma-di-amerika-hamil-massal.html#ixzz24yzp71tH

Rabu, 29 Agustus 2012

Mengungkap Sejarah Halal Bihalal di Indonesia



Senin, 27 Aug 2012

VoA-Islam - Konon, tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh Pangeran Sambernyawa. Untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya, maka setelah shalat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja, pra punggawa, dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan Pangeran Sambernyawa kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bihalal.

Sementara itu, budayawan Umar Kayam (alm) menyatakan, bahwa tradisi lebaran dan halal bihalal merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dalam kegiatan tersebut, umat Islam di Jawa saling bersilaturahim dan sungkem kepada orang yang lebih tua. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan. Kedua, sebagai permohonan maaf atau nyuwun ngapura. Istilah nyapura tampaknya berasal dari bahasa Arab, ghafura. Tradisi ini kemudian meluas ke seluruh wilayah Indonesia dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama.

Sejarawan lainnya menyatakan, halal bihalal dipopulerkan oleh Bung Karno pada 1946. Saat itu, Bapak Proklamasi Indonesia ini mengadakan halal bihalal di Yogjakarta. Tujuannya, agar semua pejabat dan pegawai bisa bertemu serta saling memaafkan. Ternyata, ide Bung Karno ini menjadi tradisi tahunan. Hampir semua instansi pemerintah, mulai pusat hingga tingkat RT, menggelar halal bihalal. Bagi kalangan santri, seperti pondok pesantren, ma’had, madrasah, dan takmir masjid, halal biasanya diselenggarakan dengan menghadirkan seorang kiai atau habib untuk memberikan tausiah atau nasihat.

Kini, tradisi tersebut tak pernah luntur. Hanya saja, halal bihalal masih diperdebatkan. Sebagian ulama ada yang menganggapnya sebagai bid’ah. Juga tak sedikit ulama yang berpendapat, bahwa halal bihalal sebagai ajang untuk menjalin silaturahim, bermaaf-maafan, dan wujud rasa syukur.

Menurut Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Hamid Fahmy Zarkasyi, halal bihalal bukanlah kegiatan yang diwajibkan dalam Islam. Kegiatan ini hanyalah sebentuk tradisi sosial, namun bukan pula dianggap sebagai bid’ah. Meskipun demikian, umat Islam hendaknya tidak merayakan Idul Fitri atau halal bihalal secara berlebihan. Karena esensi Idul Fitri adalag ketakwaan.

“Halalbihalal itu tidak ada di luar negeri, hanya ada di Indonesia saja. Mereka yang mudik lebaran tujuan utamanya kan pulang menemui kedua orang tua untuk bermaafan dan bersilaturahim. Begitu juga dengan halalbihalal. Jadi esensinya baik. Namun, banyak juga yang mudik bukan untuk orang tuanya, melainkan sekedar untuk liburan atau piknik. Akhirnya, kegiatan yang mereka lakukan tidak bermakna,” ujar Hamid.

Lantas bagaimana cara Rasulullah merayakan Idul Fitri? “Rasulullah merayakan Idul Fitri dengan sewajarnya. Tidak ada kegiatan meriah yang dilakukan. Sunnahnya hanya bertakbir dan bertahmid, mengagungkan asma Allah saat Idul Fitri. Juga disunnahkan untuk berpuasa syawal selama enam hari,” tukas Hamid. Desastian

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...