Rabu, 12 September 2012

Video “Habib” Curhat di Kuburan: Guru Ngaji Dituduh Cemarkan Nama Baik



DEPOK (VoA-Islam) – Fitria Kurniawan (33) atau yang biasa disapa Abu Fahd, sejak malam Ahad (31/9) hingga kini masih ditahan oleh Polres Depok, Jawa Barat. Ia ditahan atas tuduhan telah mencemarkan nama baik seorang habib di jejaring sosial Facebook tentang video heboh curhatnya habib – kepada ahli kubur.

Terjadi perdebatan hebat atas video tersebut, dari facebooker yang ikut mengomentarinya, baik yang pro maupun kontra. Ada yang berargumen dengan berbagai dalil, ada yang membela habib, dan tak sedikit yang berkata kasar. Puncaknya, ketidaksenangan murid-murid sang habib atas video yang diupload di FB tersebut, segera mencari tahu keberadaan Abu Fahd yang menjadi admin.

Seperti dijelaskan adik Abu Fahd kepada Voa-Islam, video tersebut tidak direkam oleh Abu Fahd. Video itu justru diambil oleh salah seorang murid habib itu sendiri. Namun, dikui, Abu Fahd menyebarkannya lewat FB. Setelah itu, semakin banyaklah video-video serupa yang disebarkan lewat You Tube. “Video itu tersebar melalui Bluetooth ke Bluetooth,” ujar Abu Fauziah, sang adik yang dihubungi tadi pagi.

Pada malam ahad itu, sekelompok massa berpakaian putih-putih, sekitar ratusan orang, dengan berkendaraan motor, mengepung toko obat herbal milik Abu Fahd di dekat stasiun Bojong Gede. Melihat gelagat kekisruhan itu, pihak aparat setempat mulai mengamankan Abu Fahd dari kepungan massa. Kemudian dibawalah ia ke Polsek Tonjong, Parung. Sekitar 5 km dari Bojong Gede.

Namun, massa tidak puas. Mereka kembali mengepung Polsek Tonjong. Untuk berjaga-jaga dari tindakan anarkis massa, Abu Fahd lagi-lagi dipindahkan ke Polres Depok, malam itu juga. Jamaah Majelis Taklim al-Busro, Citayam, Jawa Barat ini, tetap mengikuti mobil polisi yang membawa Abu Fahd ke Polres Depok.  Hingga pukul 03.00 dinihari, Abu Fahd masih diamankan. Kemudian, muncul lah Habib Alwi – konon tinggal di kawasan Tebet, Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan – di Polres Depok.

Memasuki waktu Subuh, polisi membuat BAP. Setelah mendengar penjelasan Abu Fahd, polisi malah dijerat pasal pencemaran nama baik melalui IT kepada Abu Fahd. Pihak polisi sebenarnya, ingin permasalahan ini didamaikan secara kekeluargaan. Begitu juga dengan keluarga Abu Fahd. Tapi tampaknya tekanan massa yang begitu kuat, membuat polisi harus mengenakan pasal pencemaran nama baik kepada Abu Fahd.

Perkembangan selanjutnya, kuasa hukum Abu Fahd akan mengajukan permohonan kepada pihak kepolisian agar memberikan proses penangguhan penahanan. Mengingat, Abu Fahd adalah seorang ayah menjadi tanggungan bagi orang tua, istri, dan kedua anaknya yang masih kecil.

Tak habis pikir, Abu Fahd, yang sehari-hari menjadi guru ngaji tahsin dan berdakwah lewat jejaring sosial, dengan menjelaskan perkara yang batil ihwal apa yang dilakukan seorang habib yang curhat kepada kuburan, justru malah dipenjara. Ironis! Desastian

Kamis, 30 Agustus 2012

KEWAJIBAN PUASA RAMADHAN


Khutbah Jum’at tanggal 17 Agustus 2012 di Masjid As-Sunnah Buntok

Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR



KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
(Ali Imran 102)
: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (an Nisa’ 1)
 
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (al Ahzab 70-71)
 
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
 
 
Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan dirahmati Allah SWT.
 
Allah Sub-hanahu wa Ta'ala secara lengkap menurunkan perintah puasa ramadhan dalam Al Qur'an surah Al Baqarah ayat 183 sampai 187:

[183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,


[184 (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.



Inilah perintah itu, perintah yang ditujukan khusus kepada orang-orang Islam (beriman) supaya mereka bertakwa. Namun perintah ini memiliki pengecualian yaitu tidak semua orang Islam harus berpuasa kecuali mereka tidak bepergian dan tidak sakit. Namun demikian, mengupayakan tetap berpuasa adalah lebih baik.

[185] Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Barang siapa di antara kamu mempersaksikan bulan itu maka berpuasalah pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajib berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur. 

Sangat jelas dan tegas bahwa Al Qur'an diturunkan dalam bulan ramadhan, pada malam yang penuh berkah, yakni pada malam Lailatur Qadar (QS Al Qadr 1). Lalu kenapa kita mengatakan Al Qur'an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, padahal penetapan ini tanpa dasar ilmu sama sekali? Kalau pun kita merujuk kepada hadits-hadits shahih dari Rasulullah SAW maka dengan gamblang dinyatakan bahwa Malam Al Qadr (Lailatul Qadar) itu adanya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan ramadan. Artinya lailatul qadar turun pada antara tanggal 21 sampai 29 Ramadhan, inilah malam-malam Nuzulul Qur'an. Tanggal 17 Ramadhan itu sudah pasti haul Perang Badar, lalu kenapa kita menyalahinya dengan mengatakan sebagai Nuzulul Qur'an? 


Fungsi Al Qur'an pun jelas yaitu sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Pertanyaannya, kenapa kita masih saja berislam dengan menetapkan sesuatu tanpa dasar Al Qur'an sama sekali? Misalnya, kita tetapkan Nuzulul Qur'an pada tanggal 17 Ramadhan padahal Al Qur'an menegaskannya pada malam Al Qadr dan malam itu adalah sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Lalu.., kenapa kita tidak mau merayakan 17 Ramadhan sebagai HUT Perang Badar padahal sangat jelas perang Badar terjadi pada tanggal tersebut? Islam macam apa kita?



QS Al Baqarah 186 Allah menegaskan: [186] Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.


Inilah bukti bahwa Ramadhan adalah bulan Al Qur'an. Allah menyatakan diri-Nya sangatlah dekat. Kalau Allah itu sudah sangat dekat maka kita manfaatkan kedekatan itu dengan maksimal meminta dan berdoa kepada-Nya secara langsung, asal kita memenuhi persyaratan-Nya, yaitu: 
memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 

Dengan demikian kita wajib meminta langsung kepada Allah.



بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


 
 
KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ

Dalam Al Baqarah 187 Allah berfirman: [187] Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Inilah dalil yang tegas bahwa kaum muslimin disyariatkan pada malam bulan ramadhan bersahur dengan hubungan suami-istri, makan sahur dan minum sampai tibanya adzan Shubuh, kemudian Imsak atau memulai berpuasa ketika adzan Subuh berkumandang. Dengan begitu maka Imsak adalah rukun puasa yakni menahan diri dari makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai awal malam. Dengan demikian waktu Imsak adalah lebih 12 jam, sejak adzan subuh sampai adzan magrib. Artinya Imsak 10 menit sebelum adzan Subuh adalah Bid'ah.

Selama bulan ramadhan kita hanya dilarang berhubungan suami istri ketika i'tikaf di Masjid. Kalau tidak i'tikaf maka sikat saja bleh, halal dan baik. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.  
 
Artinya, tujuan Puasa Ramadhan adalah mencapai Taqwa, sehingga kita sangat bingung ketika ada ulama yang menyatakan bahwa orang yang berpuasa akan mencapai tingkat Khawash bil khawash atau Khawash. Kenapa kita mau saja merubah tujuan puasa kita kepada KHAWASH padahal Allah yang menjanjikan TAQWA kepada kita?

Wallohu’ Ta’ala A’lam.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Berpegang kepada Ayat Muhkamat


Khutbah Jum’at tanggal 23 Juni 2012 di Masjid As-Sunnah Buntok
Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR


KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
(Ali Imran 102)
: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (an Nisa’ 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (al Ahzab 70-71)
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Dalam Terjemah Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al Asqalani, hadits Nomor 477, Imam Muslim meriwayatkan:  Dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin Nu’man, dia berkata: “Saya tidak mengambil Qof wal Qur’anil Majid melainkan dari mulut   Rasulullah SAW yang beliau baca pada tiap-tiap jumat di atas mimbar ketika berkhutbah kepada manusia.” 

Dari hadits ini dapat ditangkap pengertian, Pertama: “Ada seorang perempuan setiap hari jumat menghadiri Jum’atan dan selama itu pula mendapati Rasulullah SAW membaca Al Qur’an surah Qaf dalam khutbah Jumat”. 

Inilah satu dalil bahwa perempuan diizinkan mendatangi shalat jum’at di masjid. 

Kedua: “Rasulullah berkhutbah membaca ayat-ayat kitabullah”. 

Ketiga: “Isi surah Qaf  menekankan keimanan kepada hari akhirat.”

Oleh karenanya khutbah yang lalu menekankan surah Qaf, yakni ayat 24-26 dan 45:  [24] Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala,  [25] yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu,  [26] yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”.

Inilah ayat yang menunjukkan nasib ummat Islam yang kafir (ingkar) kepada ajaran agamanya, menentang praktek Islam, keras kepala, menolak usaha mengamalkan Islam, ragu-ragu terhadap Islam, akhirnya menjadi musyrik karena memilih aturan lain selain Islam.

Karenanya Allah dan Rasul-Nya memperingatkan dengan surah Qaf selanjutnya yaitu ayat 45:  [45] Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.

Mari berdzikir dengan Al Qur’an karena Qur’an memang adz-dzikra. Dan  khutbah yang lalu sudah pula kita peringatkan dengan surah Ali Imran ayat 7, dimana orang-orang yang sesat dari ummat Islam ini adalah mereka yang gandrung, hobi dan sangat senang dengan ayat-ayat sub-hat yang multi tafsir: “[7] Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.”


Contoh ayat yang suka diplintir antara lain Surah Thoha ayat 1-2 :
[20:1] Thaahaa {912}.
[20:2] Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Kemudian surah Yaasiin 1-3:
[36:1] Yaa siin {1264}
[36:2] Demi Al Quraan yang penuh hikmah,
[36:3] Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,

Umumnya kita yakin bahwa Thoha dan Yasin adalah nama rasulullah Muhammad SAW sebagai nama-nama khusus pemberian Allah walau pun tanpa dalil yang tegas. Dasar yang dipakai hanyalah takwil semata. Buktinya lainnya adalah Shalawat Badar yang dikarang tahun 1960 oleh ulama Indonesia asal Banyuwangi KH Ali Mansyur, yang bunyinya: “Shalatullah, salamullah, ala thoha rasululillah, sholatullah, salamullah ala Yaasiin, habibillah.” Syair ini menjadi terkenal setelah dipopulerkan oleh Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, Kwitang, Jakarta. Jelas dan tegas bahwa Thoha dan Yasin adalah rasulullah, bahkan dia adalah habib Allah.

ALI IMRAN (3:102)  [id] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ

Sekarang kita berada pada zaman dimana ada klan khusus yang bernama habib, ahlul bait, suatu golongan khos dan keturunan istimewa yang otomatis menjadikan mereka kekasih Allah dan jaminan ketakwaan. 

Padahal Allah mengingkari peng-istimewaan dan pemuliaan sedemikian karena diantaranya surah Al Hujurat 13: “[13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pahamkah kita dengan ayat ini? Jelas dikatakan bahwa Allah sengaja menjadikan kita orang Jawa, Dayak, bangsa China, India, Arab dan sebagainya, semua itu tidak ada apa-apanya kecuali dari TAWQA-nya. 

Perhatikan juga ayat-ayat lain seperti Al Anfal 28-29, Al A’raf 96, At Talaq 3-4-5 dll:   “[89] Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS An Nahl 89)

Lalu bagai mana dengan fakta ahlul bait dan habib diatas? Perbincangan ini cukup menyita waktu untuk membahasnya. Kalau pun kita mau tahu ahlul bait maka mulailah dengan menelaah Al Qur’an karena An Nahl 89 tadi menerangkan bahwa Al Qur’an menerangkan segala permasalahan. Mulai meneliti Al Qur’an, diantaranya surah Hud 73, Al Qashash 12, Al Ahzab 33, kemudian hadits-hadits pendukungnya. Yang pasti Islam menganut garis juriat jalur ayah kecuali Isa bin Maryam. 

Lalu dari mana jalur ahlul bait yang menurunkan Habib? Inilah salah satu masalahnya. Yang pasti syair terkenal berkata: “Ya Nabi salam alaika, ya rasul salam alaika, ya habib salam alaika, sholawatullah alaika.” Alangkah berbahagia habib karena Allah sholat kepada mereka para habib. Padahal Allah berfirman dalam QS Ali Imran 31 :  “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”

“[3:19] Sesungguhnya Din di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS Ali Imran 19).

Ayat Allah ini menjelaskan bahwasanya kita ini sejatinya bersatu, namun setelah Islam diterangkan dengan sebenar-benarnya maka kita justru menjadi kafir karena dengki diantara kita. Jelas semua diterangkan Allah dalam Al Qur’an.

[6:38] Dan tiadalah binatang-binatang di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat juga seperti kamu. Tiada Kami lupakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab itu, kemudian kepada Tuhanlah mereka di kembalikan. (QS Al An’an 38).

Jelas dan tegas. Tidak ada yang dilupakan Allah dalam Al Qur’an karena Allah bukan pelupa.


Mun’im Sirry, MA, kandidat Phd di Universitas Chicago menyampaikan hasil studi genetik terhadap orang-orang yang mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW, yang bergelar Sayyid dan Habib, di negara India, Pakistan dan Iran. Benarkah habib itu keturunan Nabi SAW? MR Rafie, A Sokhansanj, Naghizadeh dan Farazman melakukan uji DNA di Iran. Lalu Elisse Belle, Saima Shah, Tudor Parfit dan Mark Thomas melakukan tes DNA di India dan Pakistan. Terbuktikah habib itu keturunan Nabi Muhammad SAW? Kesimpulan hasil penelitian itu sama: “Mereka yang mengaku Sayyid dan Habib bukan keturunan Nabi SAW”. Nah, kalau yang di Asia Tengah dan India Sub Continen saja tidak benar, apa mungkin habib yang pesek di kampung kita keturunan Nabi Muhammad? Kasindiran dimana? Kata Sirry, jelas Sayyid dan Habib itu konstruk sosial yang bertujuan untuk kehormatan dan legitimasi. Mari tes DNA kalau berani, pembandingnya sudah ada di India, Pakistan dan Iran.


Wallohu’ Ta’ala A’lam.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Kiamat Semakin Dekat, Satu Kelas SMA di Amerika Hamil Massal

0 komentar

Gila! Entah apa yang ada di pikiran para remaja putri yang belum genap 17 tahun ini. Mereka yang masih berstatus siswi di Gloucester High School (setingkat SMU) di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat, bersepakat untuk hamil secara bersamaan.

Kelakuan siswi-siswi ini tentu saja membuat geleng-geleng kepala para pejabat setempat, guru-guru, dan para orangtua. Mereka tak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam benak para siswi ini.

Peristiwa yang menggegerkan tersebut, berawal sehabis liburan musim panas. Ketika dimulai belajar kembali di sekolah, ternyata diketahui 17 siswi hamil secara bersamaan. Uniknya mereka tak hanya satu sekolah, tetapi juga satu kelas. Di sekolah tersebut, memang setiap habis liburan selalu diadakan tes kehamilan.

Namun, sampai saat ini siapa saja ayah si jabang bayi belum diketahui. Pasalnya bila umur pria yang menghamili siswi-siswi tersebut telah lebih dari 20 tahun, bisa kena hukuman penjara karena berhubungan seks dengan anak di bawah umur.

Berdasarkan penyelidikan pihak sekolah, akhir Mei 2010, ternyata para siswi yang hamil telah sepakat untuk hamil bersamaan, bahkan bukan hanya ke-17 siswi itu saja tetapi juga siswi lainnya, tetapi hanya 17 siswi yang hamil. Yang lebih mencengangkan, siswi di kelas itu yang tidak hamil mengaku merasa kecewa karena gagal hamil.


Read more: http://91lapc.blogspot.com/2012/08/satu-kelas-sma-di-amerika-hamil-massal.html#ixzz24yzp71tH

Rabu, 29 Agustus 2012

Mengungkap Sejarah Halal Bihalal di Indonesia



Senin, 27 Aug 2012

VoA-Islam - Konon, tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh Pangeran Sambernyawa. Untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya, maka setelah shalat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja, pra punggawa, dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan Pangeran Sambernyawa kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bihalal.

Sementara itu, budayawan Umar Kayam (alm) menyatakan, bahwa tradisi lebaran dan halal bihalal merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dalam kegiatan tersebut, umat Islam di Jawa saling bersilaturahim dan sungkem kepada orang yang lebih tua. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan. Kedua, sebagai permohonan maaf atau nyuwun ngapura. Istilah nyapura tampaknya berasal dari bahasa Arab, ghafura. Tradisi ini kemudian meluas ke seluruh wilayah Indonesia dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama.

Sejarawan lainnya menyatakan, halal bihalal dipopulerkan oleh Bung Karno pada 1946. Saat itu, Bapak Proklamasi Indonesia ini mengadakan halal bihalal di Yogjakarta. Tujuannya, agar semua pejabat dan pegawai bisa bertemu serta saling memaafkan. Ternyata, ide Bung Karno ini menjadi tradisi tahunan. Hampir semua instansi pemerintah, mulai pusat hingga tingkat RT, menggelar halal bihalal. Bagi kalangan santri, seperti pondok pesantren, ma’had, madrasah, dan takmir masjid, halal biasanya diselenggarakan dengan menghadirkan seorang kiai atau habib untuk memberikan tausiah atau nasihat.

Kini, tradisi tersebut tak pernah luntur. Hanya saja, halal bihalal masih diperdebatkan. Sebagian ulama ada yang menganggapnya sebagai bid’ah. Juga tak sedikit ulama yang berpendapat, bahwa halal bihalal sebagai ajang untuk menjalin silaturahim, bermaaf-maafan, dan wujud rasa syukur.

Menurut Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Hamid Fahmy Zarkasyi, halal bihalal bukanlah kegiatan yang diwajibkan dalam Islam. Kegiatan ini hanyalah sebentuk tradisi sosial, namun bukan pula dianggap sebagai bid’ah. Meskipun demikian, umat Islam hendaknya tidak merayakan Idul Fitri atau halal bihalal secara berlebihan. Karena esensi Idul Fitri adalag ketakwaan.

“Halalbihalal itu tidak ada di luar negeri, hanya ada di Indonesia saja. Mereka yang mudik lebaran tujuan utamanya kan pulang menemui kedua orang tua untuk bermaafan dan bersilaturahim. Begitu juga dengan halalbihalal. Jadi esensinya baik. Namun, banyak juga yang mudik bukan untuk orang tuanya, melainkan sekedar untuk liburan atau piknik. Akhirnya, kegiatan yang mereka lakukan tidak bermakna,” ujar Hamid.

Lantas bagaimana cara Rasulullah merayakan Idul Fitri? “Rasulullah merayakan Idul Fitri dengan sewajarnya. Tidak ada kegiatan meriah yang dilakukan. Sunnahnya hanya bertakbir dan bertahmid, mengagungkan asma Allah saat Idul Fitri. Juga disunnahkan untuk berpuasa syawal selama enam hari,” tukas Hamid. Desastian

Pengurus DDII Imbau Umat Islam Tolak Calon Pemimpin Kafir


Senin, 06 Aug 2012
SOLO (voa-islam.com) – Ditemui selepas memberikan kajian rutin di masjid Fauziah Ponpes Al Mukmin Ngruk,i Sukoharjo, Jum’at (3/8/2012), Ustadz Aris Munandar Al-Fattah, Lc. menegaskan bahwa dirinya tidak ingin masuk dalam permainan politik terkait beredarnya SMS propaganda di kalangan umat Kristiani untuk mendukung Wakil Walikota Surakarta FX. Hadi Rudyatmo sebagai penguasa Solo.

Beliau meletakkan permasalahan ini menurut kacamata Islam, yakni cara pandang sesuai dengan Al-Qur’an apa adanya. Sebab pijakan umat Islam dalam memilih pemimpin memang harus didasari berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunah.

“Kita ini dilarang mengambil kepemimpinan selain dari kita (non muslim, red)”, ujarnya sambil mengutip surat Ali Imran ayat 118:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الايَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Menurut pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Solo ini, Islam telah memberikan hujjah yang sangat jelas dalam masalah kepemimpinan, agar tidak memilih pemimpin yang berasal dari orang-orang kafir.

Seperti diketahui, saat ini di Indonesia marak model pasangan calon Bupati atau Gubernur yang menyandingkan pemimpin muslim didampingi dengan non muslim. Issu paling hangat terkait hal ini adalah Pemilukada yang sekarang sedang berlangsung di DKI Jakarta dimana Jokowi (Muslim) berpasangan dengan Ahok (Kristen).

Hal ini di sinyalir oleh ustadz Aris sebagai satu sinyalemen pembentukan mainstream pluralisme dengan dengan modus pasangan calon pemimpin beda agama. Jika kemudian hal ini dibiarkan dan berhasil maka dikhawatirkan, masyarakat khususnya umat Islam akan sulit menolak modus seperti hal ini karena telah menjadi tren.

Untuk itu ia berpesan kepada umat Islam untuk mewaspadai model kepemimpinan pluralis. Ia menambahkan bahwa dengan melihat intrik-intrik yang di buat oleh musuh-musuh Islam, maka umat Islam harus melakukan penolakan terhadap kepemimpinan pluralis dengan segenap kemampuan yang dimiliki.

“Dalam hal ini (pemimpin beda agama, red), umat Islam harus menolaknya dengan kemampuan yang dimiliki”, tegasnya. [asg/Kru FAI]

Sumarna, Pimpinan Aliran Sesat Tega Bantai Ustadz

Kamis, 23 Aug 2012

SUKABUMI (voa-islam.com) - Bukan hanya sesat, tindakan Sumarna, pimpinan Thariqat At Tijaniyah, Cimahi begitu biadab lantaran tega membantai seorang ustadz. Thariqat At Tijaniyah didirikan Sumarna di Kampung Cisalopa, Desa Bojongtipar, Kecamatan Jampang Tengah. Karena mengajarkan aliran sesat Sumarna sebenarnya pernah diusir warga Bogor lantaran menyatakan shalat hanya empat waktu dan tidak ada shalat Jumat.

Selain itu, kesesatan Sumarna memuncak saat menyatakan pada pukul 2.00 WIB, pada hari Jumat tanggal 17 Agustus akan terjadi kiamat.

Ternyata Sumarna dan pengikutnya bukan hanya mengajarkan aliran sesat, mereka begitu sadis membantai ustadz Edin, pimpinan ormas Gerakan Reformis Islam (GARIS).

Terang saja hal itu membuat sekitar 1000 warga Kampung Cisalopa, Desa Bojongtipar Kecamatan Jampang Tengah Kabupaten Sukabumi, marah dan membaka rumah Sumarna, pemimpin aliran Toriqoh Atijani mutlak Cimahi, pada hari Minggu (19/8/2012).

Warga mengetahui jika Sumarna adalah pelaku pembunuh Ustadz Edin, pimpinan Ormas GARIS kecamatan Jampang Tengah. Ustadz Edin menghilang sejak 14 Agustus 2012 lalu. Terakhir Ia diketahui berada di rumah Sumarna saat itu.

“Dari hasil penyelidikan dan penyidikan Polres Sukabumi terungkap bahwa Ustad Edin telah dibunuh oleh  Sumarna dan pengikutnya pada hari Selasa 14 Agustus 2012 sekitar pukul 21.00 Wib. Edin dikuburkan dibelakang rumah  Sumarna,” jelas Kepala Bidang Humas Polda Jabar, Komisaris Besar Martinus Sitompul melalui pesan singkat kepada wartawan, Rabu (22/8/2012).

Pada hari itu juga, kata Martinus, kepolisian menemukan jasad Edin di kebun singkong yang berjarak kurang lebih 500 Meter di belakang rumah  Sumarna. Edin ditemukan dalam posisi telungkup menggunakan celana pendek, kaos dan jaket hitam. Jaketnya sudah dalam keadaan mulai membusuk.

“Mendengar informasi meninggalnya ustad Edin masyarakat sekitar dan ormas GARIS bereaksi dengan berupaya melakukan pengerusakan dan pembakaran terhadap rumah Sumarna,” sambungnya.

Atas pembunuhan Ustad Edin itu kepolisian setempat, telah menangkap 14 orang pelaku pembunuhan ustadz Edin. Hingga kini, kata Martinus, polisi masih melakukan pengembangan penyidikan dengan penangkapan Ridwan, keponakan  Sumarna di Purwoketo, Jawa Tengah. Menurutnya, di lokasi kejadian tetap dilakukan  pengamanan yang dilaksanakan oleh 1 SSK Brimoda Jabar, 40 personil Polres Sukabumi dan TNI.

“Sementara itu, Selasa, 21 Agustus 2012 dilakukan pertemuan yang diprakarsai Kapolres Sukabumi dihadiri unsur Muspida di lokasi untuk cipta kondisi agar masyarakat dan ormas menjaga situasi Kamtibmas tetap kondusif,” pungkasnya. [widad/dbs]

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...