Senin, 02 April 2012

Orang Bau Jangan Shalat di Masjid


Senin, 05 Mar 2012
 

Oleh: Badrul Tamam
Shalat berjama’ah merupakan media berkumpul kaum muslimin yang dilaksanakan secara berulang dalam sehari semalam. Di sana mereka bersama-sama melaksanakan kewajiban pokok Islam, yaitu shalat lima waktu. Melaluinya umat muslim saling menjalin hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama mereka, juga dalam rangka membersihkan hati sekaligus dakwah ke jalan Allah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.

Dalam keadaan ini hendaknya setiap muslim menjaga penampilan dan kebersihan supaya mereka nyaman dan khusyuk dalam melaksanakan kewajiban besar Islam ini. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar memakai pakaian yang indah ketika mendatangi masjid.

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.. ” (QS. Al-A’raaf: 31)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Berdasarkan ayat ini dan juga pengertian (yang menunjukkan) hal itu di dalam sunnah, bahwa dianjurkan untuk berhias diri ketika hendak melaksanakan shalat, lebih-lebih pada waktu shalat Jum’at dan hari raya. Serta disunnahkan memakai wewangian karena dia termasuk (perhiasan), siwak (juga termasuk) karena termasuk sebagai penyempurna. Dan di antara pakaian yang paling utama adalah yang berwarna putih.”

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada waktu perang Khaibar:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّومَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا

Barangsiapa yang memakan tanaman ini, yakni bawang putih, maka janganlah sekali-kali ia mendekati masjid kami.” Dalam riwayat Muslim, “Jangan sekali-kali mendatangi masjid kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radliyallah ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ

Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah ia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami; dan silahkan dia berada di rumahnya saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْمُنْتِنَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الْإِنْسُ

Barangsiapa makan dari tanaman yang berbau tidak sedap ini, maka hendaklah ia tidak mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan apa yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا وَلَا يُؤْذِيَنَّا بِرِيحِ الثُّومِ

Barangsiapa yang makan dari tanaman ini, maka hendaknya dia tidak mendekati masjid kami dan tidak menggangu kami dengan bau bawang putih.” (HR. Muslim)



Dan Thabarani meriwayatkan dengan lafadz, “Hendaklah kalian menjauhi dua jenis sayuran ini untuk dimakan, kemudian memasuki masjid kami. Jika kalian terpaksa memakannya, hendaklah kalian membakar keduanya terlebih dahulu.

Umar bin Khathab radliyallahu ‘anhu ketika berkhutbah pada hari Jum’at berkata, “. . . . kemudian kalian, wahai umat manusia, makan dua tanaman yang menurutku buruk, yaitu bawang merah dan bawang putih. Aku pernah melihat jika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mencium bau keduanya dari sessorang di masjid, beliau menyuruh untuk dikeluarkan ke Baqi’. Dan, barangsiapa ingin sekali memakannya hendaklah memasaknya terlebih dahulu.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Nasai)

Hadits-hadits di atas menunjukkan makruhnya makan bawang merah dan bawang putih tanpa dimasak terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid. Alasannya, karena bau tidak sedapnya dapat mengganggu kekhusyuan para jama’ah. Bahkan, bukan hanya manusia saja yang terganggu oleh bau tidak sedap itu, malaikat juga ikut terganggu dan tersiksa. Larangan ini bukan hanya pada hari Jum’at saja, sebagaimana yang sering disebutkan oleh Fuqaha’, tapi juga berlaku pada setiap kali shalat berjama’ah. Bahkan larangan ini juga berlaku pada tempat-tempat shalat selain masjid seperti tempat shalat Ied, tempat shalat janazah dan tempat-tempat ibadah lainnya. (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi)
. . . karena bau tidak sedapnya dapat mengganggu kekhusyuan para jama’ah. Bahkan, bukan hanya manusia saja yang terganggu oleh bau tidak sedap itu, malaikat juga ikut terganggu dan tersiksa. . .
Subtansi dari larangan tersebut adalah adanya bau yang tidak sedap sehingga mengganggu kekhusyu’an jama’ah yang lain. Maka setiap orang yang membawa bau tidak sedap hendaknya tidak mendatangi masjid, sehingga dia menghilangkan bau tersebut. Jika memang tidak mau, maka shalatnya di rumahnya lebih baik daripada di masjid.

Larangan ini juga berlaku bagi rokok. Bahkan bau rokok jauh lebih parah daripada bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai. Jika perokok dilarang untuk mendatangi masjid mungkin akan tersinggung dan menimbulkan masalah lebih buruk, maka kami nasihatkan untuk membersihkan mulut dan menyegarkan dengan wangi-wangian sehingga tidak menggangu kekhusyu’an shalat jama’ah yang lain.
Larangan ini juga berlaku bagi rokok. Bahkan bau rokok jauh lebih parah daripada bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai.
Imam Muslim membuat bab dalam Shahihnya ketika menyebutkan hadits-hadits di atas, “Bab larangan bagi orang makan bawang putih, bawang merah, dan bawang bombai, atau semisalnya yang memiliki bau tiak sedap dari mendatangi masjid sehingga hilang bau tersebut dan dia dikeluarkan dari masjid”.

Larangan ini juga berlaku bagi sekelompok manusia yang tidak memperhatikan kebersihan pakaian dan badan mereka. Lebih-lebih para pekerja keras yang berkeringat banyak sehingga pakaian dan tubuh mereka menimbulkan bau tidak sedap, lalu mereka mendatangi masjid dan berdesakan dengan orang shalat yang ada di samping atau di belakang mereka. Hendaknya mereka sadar dan takut kepada Allah Ta’ala.


Bagaimana dengan kentut di masjid?
Hadats di dalam masjid dengan mengeluarkan kentut yang berbau busuk juga dapat mengganggu orang yang shalat di masjid dan merusak suasana. Karenanya bau semacam ini makruh ada di dalam masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah megabarkan kepada kita bahwa para malaikat membacakan shalawat untuk orang yang datang ke masjid guna melaksanakan shalat. Para malaikat berkata,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ

Ya Allah limpahkan ampunan untuknya, Ya Allah rahmatilah dia, selama tidak berhadats di dalamnya dan tidak mengganggu (pihak lain) di dalamnya.” (HR. Bukhari no. 1976)

Ibnul Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan tentang kandungan makna hadits di atas, “Dan di dalamnya (hadits di atas) terdapat dalil bahwa berhadats di dalam masjid lebih buruk daripada berdahak dikarenakan berdahak memiliki kafarah, sedangkan untuk hadats tidak memiliki kafarah. Bahkan pelakunya diharamkan mendapat istighfar malaikat. Sedangkan doa malaikat sangat-sangat dikabulkan berdasarkan firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28)”

Sesungguhnya Islam adalah agama yang indah, sangat memperhatikan dan menjaga perasaan orang lain. Karenanya Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk memiliki tenggang rasa dan budi pekerti yang luhur. Islam sangat menganjurkan agar memberikan kebaikan kepada sesamanya, jika tidak bisa,  maka dianjurkan untuk tidak menimpakan keburukan dan sesuatu yang tidak disukai. Wallahu a’lam bil-shawab. (PurWD/voa-islam)

April Mop: Hari Pembantaian Salibis terhadap Muslim Spanyol!

 

Ahad, 01 Apr 2012, Repro VOA ISLAM.Com
 
Di Barat, tiap tanggal 1 April diperingati hari “April Mop.” Sedangkan di Indonesia, di berbagai kota besar, tak jarang kaula muda Muslim latah mengikuti tradisi April Mop. Pada hari itu, mereka diperbolehkan dan sah-sah saja menipu teman, mengisengi kawan, ngerjain guru, ngusilin orang tua, membohongi saudara, atau yang sejenisnya, di mana sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya, jika sang target April Mop sudah sadar bahwa dirinya dijadikan target April Mop, mereka juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tapi tidak akan marah sungguhan.

Seolah-olah 1 April adalah hari di mana keisengan dan kebohongan harus berjalan sempurna dan akurat, zero tolerance bagi kesalahan. Jika berhasil ngisengin sang target, maka yang didapat adalah rasa puas dan sensasi plong.

Kaula muda Muslim itu latah dalam April Mop karena ikut-ikutan tradisi bule tanpa mengkritisi apa hakikat April Mop yang di Barat lebih dikenal dengan “The Aprils Fool Day” itu. Mereka begitu mudah meniru budaya bule karena suburnya rasa rendah diri terhadap orang-orang bule. Minder terhadap orang bule ini adalah sisa peninggalan penjajahan Belanda di Indonesia selama berabad-abad lamanya, inlanderr, terhadap superioritas bangsa kulit putih.

Supaya tidak latah dan tasyabbuh membebek budaya kafir, mari kita telah sejarah April Mop berikut.
…Perayaan April Mop sesungguhnya berawal dari satu tragedi yang sangat menyedihkan dan memilukan dalam episode sejarah Muslim Spanyol tahun 1487…

SEJARAH APRIL MOP
Perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu sesungguhnya berawal dari satu tragedi yang sangat menyedihkan dan memilukan. April Mop atau The April’s Fool Day berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tanggal 1 April 1487. Sebelum sampai pada tragedi tersebut, ada baiknya menengok sejarah Spanyol dahulu ketika masih di bawah kekuasaan Islam.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-9 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Prancis. Prancis Selatan dengan mudah bisa dibebaskan. Kota Carcassonne, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walau sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Got dan Navarro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.

Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam begitu baik dan rendah hati, maka banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam, namun mereka sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an, tapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun mereka selalu gagal. Telah beberapa kali dicoba tapi selalu tidak berhasil. Dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam di Spanyol. Akhirnya mata-mata itu menemukan cara untuk menaklukkan Islam di Spanyol, yakni pertama-tama harus melemahkan iman mereka dulu dengan jalan serangan pemikiran dan budaya.
…cara untuk menaklukkan Islam di Spanyol, yakni melemahkan iman mereka dulu dengan jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mereka mengirim alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol…
Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirim alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari ketimbang baca Al-Qur’an. Mereka juga mengirim sejumlah ulama palsu yang kerjanya meniup-niupkan perpecahan di dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan Salib. Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua, jompo, semuanya dihabisi secar sadis.

Satu persatu daerah Spanyol jatuh, Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam  di Spanyol –yang  juga disebut orang Moor– terpaksa  berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kristen terus mengejar mereka.

Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak Muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

“Kapal-kapal yang akan membawa kalian keluar dari Spanyol sudah kami persiapkan di pelabuhan. Kami menjamin keselamatan kalian jika ingin keluar dari Spanyol. Setelah ini kami tidak akan memberikan jaminan lagi,” demikian bujuk tentara Salib.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Beberapa orang Islam diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah dipersiapkan, maka mereka segera bersiap untuk meninggalkan Granada bersama-sama menuju ke kapal-kapal tersebut. Mereka pun bersiap untuk berlayar.

Keesokan harinya, ribuan penduduk Muslim Granada yang keluar dari rumah-rumahnya dengan membawa seluruh barang keperluannya beriringan jalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai tntara Salib bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika para tentara Salib itu membakari rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang bertahan di pelabuhan hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dijanjikan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anak yang masih kecil. Sedang tentara Salib itu telah mengepung dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan komando dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib itu segera membantai dan menghabisi umat Islam Spanyol tanpa perasaan belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Dengan buas tentara Salib terus membunuhi warga sipil yang sama sekali tidak berdaya.
…Ribuan Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan sadis. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. …
Ribuan Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan sadis. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Tragedi yang  bertepatan dengan 1 April inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai “April Mop” (The Aprils Fool Day).

Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib melalui cara yang licik, tipuan dan dusta yang sadis. Sebab itu, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan, walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. 1 April tahun itu adalah hari di mana saudara-saudaranya seiman ditipu, disembelih, dibakar dan dibantai oleh tentara Salibis di Granada, Spanyol. Sebab itu, terkutuklah orang Islam  yang ikut-ikutan merayakan April Mop. Pantaskah orang-orang Islam itu ikut bergembira dan tertawa ria atas tragedi tersebut?
…sampai hatikah kita latah merayakan April Mop yang latar belakangnya adalah peringatan atas penipuan dan pembantaian pasukan Salibis terhadap ribuan Muslim Spanyol…
Bagi kita yang paham akan sejarah April Mop, sampai hatikah kita latah merayakan April Mop yang latar belakangnya adalah peringatan atas penipuan dan pembantaian pasukan Salibis terhadap ribuan Muslim Spanyol? [taz/voa-islam.com]

Maraji’: Rizki Ridyasmara, Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween, So Whatt?, Pustaka Al-Katutsar, Jakarta 2007.

TERNYATA PKB TIDAK MEMPERJUANGKAN ISLAM(?)


Hari Senin, 19 Juli 2010 pukul 11:02:24 WIB, Kalteng Pos Online menurunkan berita : “PKB Minta Waspada Gerakan Islam Trans Nasional”. 
 
Ketua DPP PKB Marwan Japar mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap gerakan islam trans nasional. Sebab Indonesia adalah negara yang multi kultur  dan harus dijaga keberagamannya .
 Menurut Marwan, saat ke Palangka Raya, Sabtu (17/7) budaya lokal dan multi kultur ini jangan sampai hilang, hanya karena dituduh tidak Islami. Sebab multi kultur atau keragaman budaya itu merupakan salah satu kekuatan republik.

“Konsep Daullah Islamiah itu sebetulnya tidak ada dalam kontek menghormati Pancasila dan UUD 1945. Azas negara itu yang harus dipertahankan oleh segenap bangsa Indonesia,” ujar Marwan kepada sejumlah wartawan.

Ketua Fraksi PKB DPR RI  ini menyebut gerakan paling nyata dari islam trans nasional ini biasanya dimulai dari kampus-kampus. Hal yang paling nyata adalah gampang mengkafirkan orang. “Bahkan PKB sendiri yang dilahirkan dari rahim Nadhlatul Ulama (NU) tidak memakai azas Islam tapi Pancasila. Itu artinya kita menghormati betul multi budaya dan multikulturalisme tersebut. Tidak gampang untuk mengkafirkan orang,” tegasnya.


Islam itu secara umum dan khusus memiliki spritualisme. Rasulullah saja tidak pernah memusuhi orang kafir, makanya dibentuk piagam Madinah. Karena itu multi budaya itu semua dihargai. Dan ini merupakan ciri khas yang diwarisi para ulama Indonesia sejak dulu.

“Contoh yang tidak etis adalah menegakkan syariat Islam dengan kaffah (menyeluruh). Padahal multi budaya atau multikulturalisme itu simbolistik bangsa Indonesia, sepertinya semua mulai dihilangkan secara perlahan-lahan,” katanya.

Islam yang benar itu tambah Marwan adalah Islam Indonesia bukan Islam yang arabisme. Ideologis trans nasional itu ingin mengikis Islam Indonesia yang didasari multikulaturalisme dan multi budaya tersebut.

Gerakan lainnya yang dilakukan selain kampus adalah tempat ibadah. Gerakan ini ingin merombak-rombak  cara ibadah yang sudah mapan dengan alasan pemurnian Islam berdasarkan Al-Quran dan sunnah. “Hal itu mau dihilangkan, dan mereka tidak menghargai lagi yang disebut ijtihad. Kalteng ini sangat prulaslime dan heterogen, kondisi ini harus tetap kita jaga,” tegasnya

Sasarannya lain gerakan ini adalah penguasaan massif. Takmir atau pengurus masjid yang ada diganti dengan berbagai larangan dan doktrin. Selanjutnya, lama-lama masjid itu semakin tidak merasa dimiliki oleh masyarakat, karena aktivitas dan tata cara ibadahnya diganggu.

Ditanya apakah gerakan ini ada berafiliasi kepada partai-partai politik tertentu? Marwan menyatakan dirinya tidak menyatakan seperti secara spesifik. “Saya tidak mengatakan begitu ya, tapi gerakan seperti ini ada,” tegasnya.

Multi budaya dan multikulturalisme itu prinsipnya sudah menjadi ciri khas Indonesia yang harus dipertahankan bersama-sama.(ink/sma)

Jumat, 30 Maret 2012

BENTURAN PERADABAN ISLAM VS BARAT


Oleh Muhammad Lazuardi al-Jawi



Pengantar Redaksi:
Meski banyak ditentang, teori tentang benturan peradaban yang pernah dimunculkan oleh cendekiawan Amerika Samuel P. Huntington pada faktanya tidak bisa dipungkiri. Pasca era Perang Dingin, dengan melihat realitas politik yang ada, kita melihat bahwa benturan antara peradaban Barat dan Islam sesungguhnya sedang berlangsung. Bahkan, boleh  dikatakan, benturan Islam Barat saat ini sebetulnya hanyalah lanjutan belaka dari benturan yang pernah terjadi pada masa lalu, khususnya pada era Perang Salib.

Telaah Kitab kali ini sekadar ingin menegaskan kembali tesis Huntington di atas dalam bukunya, Clash of Civilization, yang menunjukkan bahwa benturan peradaban antara Islam dan Barat adalah hal yang niscaya.



Pengantar
Sebagaimana diketahui, era Perang Dingin yang berlangsung sejak 1946, telah berakhir pada 1989, menyusul runtuhnya Uni Sovyet tahun 1990 dan berakhirnya bipolaritas Kapitalisme–Sosialisme, yang diikuti dengan lepasnya wilayah-wilayah negara bekas Uni Sovyet seperti Azerbaijan, Kirgistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Francis Fukuyama, pemikir Amerika keturunan Jepang, menanggapi peristiwa ini dengan menyebutnya sebagai Babak Akhir Sejarah (The End of History). Menurutnya, benturan antara Kapitalisme dan Sosialisme berakhir, dan dunia akan terpola pada semata-mata sistem demokrasi liberal dengan Amerika Serikat sebagai kaptennya. Era ini diproklamirkan oleh George Bush sebagai The New World Order (Tata Dunia Baru) dengan Amerika sebagai single player dan negara lain sebagai buffer-nya.

Namun, seiring dengan terpolarisasinya berbagai negara ke dalam jaringan sistem Kapitalisme global, muncul sebuah analisis futuristik dari Samuel P. Huntington tentang masa depan pola hubungan internasional yang menunjukkan kecenderungan antagonistik dan diwarnai konflik. Secara lebih tegas dia mengatakan, konflik itu semakin meningkat antara Islam dan masyarakat-masyarakat Asia di satu pihak dan Barat di pihak lain.1  Lebih jauh lagi, Huntington memprediksikan, tantangan paling serius bagi hegemoni Amerika pada masa mendatang adalah revivalisme Islam dan peradaban Cina (baca: Konfusianis).

Kini perseteruan antara Islam dan Barat semakin meruncing setelah terjadi Tragedi WTC 11 September 2001. Kasus ini telah berhasil dieksploitasi sedemikian rupa oleh AS dan sebagai jalan bagi pemberlakuan UU antiteroris di seluruh dunia. Terorisme yang dimaksudkan oleh Amerika adalah Islam dan tidak ada pengertian lain. Noam Chomsky menyebut permainan stigma Barat sebagai “newspeak” untuk membatasi pandangan dan realita  sehingga ketika kata-kata teroris, fundamentalis, ekstremis, dan kelompok radikal diucapkan maka konotasinya tidak jauh dari negara-negara Timur Tengah yang notabene adalah negeri-negeri Islam.

Bahkan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyebut ideologi Islam sebagai ‘ideologi setan’. Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan ciri ideologi setan, yaitu: (1) Menolak legitimasi Israel; (2) Memiliki pemikiran bahwa syariat adalah dasar hukum Islam; (3) Kaum Muslimin harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khalifah; (4) Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.



Hakikat Benturan Peradaban
Peradaban (hadhârah) secara bahasa adalah al-hadhar (tempat tinggal di suatu wilayah yang beradab seperti kota), sebagai lawan/kebalikan dari kata al-badwu (derah pinggiran kota dan pedesaan/pedalaman.2

Di kalangan Barat, peradaban diistilahkan dengan civilization; di ambil dari kata civilis, yang berarti memiliki kewarganegaraan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam bahasa Prancis dan Inggris pada akhir Abad XVIII untuk menggambarkan proses progresif perkembangan manusia; sebuah gerakan yang menuntut perbaikan, keteraturan serta penghapusan barbarisme dan kekejaman. Di balik pemunculan pemahaman ini terletak spirit pencerahan Eropa—yang kemudian dikenal dengan renaissance—dan rasa percaya diri  terhadap karakter progresif era modern.3

Istilah ini kemudian dipindahkan ke dalam bahasa Arab dengan menggunakan dua ungkapan, yaitu hadhârah dan madaniyah. Namun demikian, penggunaan kedua istilah ini masih menimbulkan persoalan baru di kalangan penggunanya. Oleh karena itu, An-Nabhani kemudian menspesifikasikan penggunaan kedua istilah tersebut ke dalam bukunya Nizhâm al-Islâm. Menurut An-Nabhani, hadhârah adalah sekumpulan persepsi—yang dimanifestsikan dalam perilaku—tentang kehidupan. Adapun madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.4

Muhammad Husein Abdullah kemudian membagi madaniyah ke dalam dua kategori, yaitu:
(1)  Yang berhubungan dengan hadhârah, yaitu yang lahir dari suatu sudut pandang tertentu. Misal, rumah tidak terlepas dari hadhârah, karena seorang Muslim akan membangun rumah dengan model yang dapat menjaga aurat penghuninya, sementara orang sosialis atau kapitalis tidak akan memperhatikan hal-hal itu.
(2)       Yang tidak berhubungan dengan hadhârah, yaitu hasil dari ilmu pengetahuan dan industri seperti alat-alat laboratorim dan furniture. Semua ini ‘netral’ dan bersifat universal.5

Walhasil, peradaban (hadhârah) berkaitan dengan pandangan hidup (world view) atau yang oleh an-Nabhani diistilahkan dengan mabda’ (ideologi), yang didefinisikan sebagai: akidah yang lahir dari proses berpikir yang di atasnya dibangun sistem.6 Ditinjau dari definisi ini, mabda’ menunjukkan kelengkapan konsep yang mencakup akidah dan sistem.

Dengan demikian, benturan peradaban hakikatnya adalah benturan yang terjadi antara sejumlah pemikiran dan atau ideologi yang berbeda atau bertolak belakang.

Dalam konteks peradaban, Islam jelas berbeda dengan peradaban lain, baik Kapitalisme maupun Sosialisme. Fakta menunjukkan bahwa masing-masing ideologi memandang yang lain sebagai musuhnya. Inilah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, kecuali oleh para pendusta dan pembohong.7


Beberapa Faktor Pemicu Benturan Peradaban Islam dan Barat
Banyak analisis yang menjelaskan sebab dan faktor yang memicu terjadinya benturan peradaban antara Islam dan Barat ini. Secara ringkas, dapat kita bagi menjadi 3 faktor utama sebagai berikut:

1.  Faktor Agama.
Sejarah telah mencatat Baratlah yang memulai perang terhadap umat Islam yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Salib atau Crusade. Perang Salib terjadi selama 1 abad (1096–1192 M), yang berlangsung selama tiga tahap: antara tahun 1096–1099 M; antara tahun 1147–1149 M; dan antara tahun 1189-1192 M.8 Pembantaian kaum Muslim oleh tentara salib di Spanyol (Andalusia) abad XV M, termasuk serangan secara pemikiran dan kebudayaan (tsaqâfah) seperti yang dilakukan oleh kaum zindiq serta para misionaris dan orientalis, adalah juga berlatar belakang agama.9

Hingga kini, ‘semangat’ Perang Salib ini masih melekat dalam benak orang-orang Barat, yang kemudian menjelma menjadi ‘prasangka buruk’ (stigma)  terhadap ajaran Islam dan umat Islam. Edward Said, dalam bukunya yang berjudul, Covering Islam, menulis bahwa kecenderungan memberikan label yang bersifat generalisasi mengenai Islam dan orang Islam, tanpa melihat kenyataan sebenarnya, menjadi salah satu kecenderungan kuat dalam media Barat. Dari waktu ke waktu, prasangka semacam itu selalu muncul dan muncul kembali ke permukaan.

Kata “christendom” dan “holy war” mulai banyak digunakan dalam berbagai tulisan di media massa Barat, seolah-olah ingin memperlihatkan bahwa sedang terjadi suatu “perang suci” antara Barat dan dunia lain di luarnya, terutama Dunia Islam.

2.  Faktor ekonomi.
Lenyapnya institusi Khilafah telah melebarkan jalan bagi negara imperialis Barat untuk menghisap berbagai kekayaan alam milik umat Islam. Sejak masa penjajahan militer era kolonial hingga saat ini, Barat telah melakukan eksploitasi ‘besar-besaran’ atas sumberdaya alam yang dimiliki umat Islam.

Sebaliknya, jika Khilafah Islam kembali berdiri dan berhasil menyatukan negeri-negeri Islam sekarang, berarti Khilafah Islam akan memegang kendali atas 60% deposit minyak seluruh dunia, boron (49%), fosfat (50%), strontium (27%), timah (22%), dan uranium yang tersebar di Dunia Islam (Zahid Ivan-Salam, dalam Jihad and the Foreign Policy of the Khilafah State).

Secara geopolitik, negeri-negeri Islam berada di kawasan jalur laut dunia yang strategis seperti Selat Gibraltar, Terusan Suez, Selat Dardanella dan Bosphorus yang menghubungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, Selat Hormuz di Teluk, dan Selat Malaka di Asia Tenggara. Dengan menempati posisi strategis ini, kebutuhan dunia terutama Barat sangat besar akan wilayah kaum Muslim. Ditambah lagi dengan potensi penduduknya yang sangat besar, yakni lebih dari 1.5 miliar dari populasi penduduk dunia. Melihat potensi tersebut, wajar jika kehadiran Khilafah Islam sebagai pengemban ideologi Islam ini dianggap sebagai ‘tantangan’, atau lebih tepatnya lagi, menjadi ancaman bagi  peradaban  Barat saat ini.
Walhasil, benturan antara kepentingan umat Islam yang ingin mempertahankan hak miliknya dan kepentingan negara Barat kapatalis tidak terhindarkan lagi.

3. Faktor ideologi.
Desember 2004 lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”. Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020, salah satu di antaranya adalah akan berdirinya “A New Chaliphate”, yaitu berdirinya kembali Khilafah Islam—sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan terhadap norma-norma dan nilai-nilai global Barat. Terlepas dari apa maksud dipublikasikannya analisis ini, paling tidak, kembalinya negara Khilafah Islam menurut kalangan analisis dan intelijen Barat termasuk hal yang harus diperhitungkan. Pertanyaannya, mengapa harus Khilafah? Jawabannya, karena potensi utama dari negara Khilafah adalah ideologi yang diembannya. Khilafah Islam adalah negara global yang dipimpin oleh seorang khalifah dengan asas ideologi Islam. Ideologi Islam ini pula yang pernah menyatukan umat Islam seluruh dunia mulai dari jazirah Arab, Afrika, Asia, sampai Eropa. Islam mampu melebur berbagai bangsa, warna kulit, suku, ras, dan latar belakang agama yang berbeda.10 Kelak, Khilafahlah yang ‘bertanggung jawab’ untuk mengemban dan menyebarkan ideologi Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Tentu saja Barat, dengan ideologi Kapitalismenya yang masih dominan saat ini, tidak akan berdiam diri. Berbagai upaya akan dilakukan Barat untuk menggagalkan skenario ketiga ini (kembalinya Khilafah). Secara pemikiran Barat akan membangun opini negatif tentang Khilafah Islam. Diopinikan bahwa kembali pada Khilafah adalah sebuah kemunduran, kembali ke zaman batu yang tidak berperadaban dan berprikemanusiaan. Sebaliknya, upaya penyebaran ide-ide Barat akan lebih digencarkan, seperti demokratisasi yang dilakukan di Timur Tengah saat ini.



Hubungan Peradaban dengan Negara  
Peradaban sangat erat hubungannya dengan eksistensi negara. Peradaban dapat dianggap sebagai “isi”, sedangkan negara  adalah “wadah”-nya. Dalam keadaan tanpa “wadah”, “isi” akan tercecer dan tercerai-berai tanpa kegunaan yang berarti.

Hubungan erat peradaban dengan eksistensi negara ini dapat dibuktikan dari fakta sejarah perjalanan umat manusia. Tidak satu pun peradaban dapat eksis secara sempurna, kecuali jika ia ditegakkan oleh satu atau beberapa negara yang mendukungnya. Peradaban Barat sulit dibayangkan dapat menjadi hegemoni seperti sekarang ini kalau tidak ada negara-negara pendukungnya seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat seperti Inggris, Prancis, dan lain-lain. Demikian pula peradaban Islam pada masa lalu, tidak akan dapat tegak sempurna tanpa eksistensi Daulah Islamiyah yang eksis sekitar 13 abad lamanya, sejak hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah (622 M) hingga hancurnya Khilafah Utsmaniah di Turki (1924 M).



Metode Islam menghadapi Benturan Peradaban
Secara umum agenda untuk ‘menyambut’ benturan peradaban antara Islam dan Barat,  dapat diringkas sebagai berikut:

1. Melakukan pembinaan di tengah-tengah umat.
Bagaimanapun, semua upaya penghancuran itu akan lebih mudah dihadapi kalau umat Islam kebal. Pembinaan (tatsqîf) di tengah umat adalah dalam rangka mewujudkan pola pikir yang islami, dan melatih ketahanan pola jiwa mereka dengan selalu berada dalam suasana taqarrub ilâ Allâh.

2.  Melancarkan perang pemikiran dan mengungkap makar asing.  
Penghancuran Islam sering tidask disadari oleh kaum Muslim. Karena itu, membongkar agenda tersembunyi dari penjajah (kasyf al-khuthath) harus selalu dilakukan. Mereka juga harus selalu mengkritisi pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan menyesatkan yang diklaim oleh kalangan liberal sebagai pemikiran Islam. Jika pemikiran-pemikiran ini tidak ditunjukkan kekeliruan dan kesalahnnya, maka umat Islam yang awam akan menyangka bahwa hal itu adalah bagian dari Islam.

3.      Membangun kesadaran politik Islam dan memberikan gambaran Islam sebagai solusi.
Kesadaran politik Islam yang benar harus ditumbuhkan di tengah-tengah umat. Yang dimaksud adalah politik Islam yang akan membebaskan manusia dari ketertindasan dalam segala aspeknya menuju pada keridhaan Allah semata-mata. Untuk itu, para aktivitis dakwah harus mampu memberikan gambaran syariat Islam sebagai solusi atas segala masalah manusia.

4.      Membangun tatanan politik Islam, yaitu Khilafah Islamiyah.
Dengan tumbuhnya kesadaran politik Islam di tengah-tengah masyarakat  maka  berarti  telah  tersedia  ‘perangkat keras’  (yaitu dukungan dari umat Islam) dan ‘perangkat lunak’ (yaitu konsep dan solusi Islam), yang diperlukan selanjutnya adalah membangun tatanan politik Islam, yaitu negara Khilafah Islamiyah. Dengan tatanan ini, upaya untuk menghentikan penghancuran Islam akan dapat dilakukan lebih efektif dan efisien lagi.


Keniscayaan Negara Khilafah dalam Menghadapi Benturan Peradaban
Hancurnya Khilafah Islamiyah pada tahun 1924 telah melenyapkan “wadah” bagi peradaban Islam Dengan hancurnya Khilafah, peradaban Islam telah kehilangan kekuatan dan vitalitasnya. Dapat dikatakan, peradaban Islam nyaris musnah dari realitas kehidupan, karena Khilafah yang menopangnya telah tiada. Sebagai gantinya, peradaban Barat sekularlah yang kemudian mendominasi kaum Muslim saat ini.

Maka dari itu, eksistensi negara Khilafah adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi agar peradaban Islam dapat mengungguli peradaban Barat. Tentu, negara Khilafah yang akan terjun ke kancah benturan peradaban itu haruslah negara yang kuat, yang didukung oleh kekuatan ideologi, kekuatan ekonomi, dan kekuatan militer yang handal. Wallâhu a‘lam. []


Catatan kaki:
1. Samuel P. Huntington, Benturan Peradaban, hlm. 333.
2.   Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, 2002, hlm. 149.
3.   John B. Thompson, Kritik Ideologi Global; Relasi Ideologi dan Komunikasi Masa, 2004, hlm. 192. Lihat juga Huntington: Benturan Antar Peradaban (cet. ke-2), 2001, hlm. 38.
4.   Taqiyuddin An-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, 2001, hlm. 92.
5.  Abdullah, Op. Cit., hlm. 150.
6.  Hafidz Abdurrahman, Diskursus Islam Politik dan Spiritual, 2004, hlm. 17.
7.   Muhammad Suardi Basri, Makalah berjudul “Memahami Esensi  Benturan Peradaban (Dari Konflik Bipolar Menuju Konflik Bipolar Baru)”.
8.   Lihat Henry S Lucas, 1993, Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan,  Penerbit Tiara Wacana, Yoyakarta, hlm. 115- 130.
9. An-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyah, Penerbit  Hizbut Tahrir, 2002, hlm. 168-173.
10.  An-Nabhani, Op. Cit., hlm. 161-166.
11. Abdul Qadim Zallum,  Mîtsâq al-Ummah (1997),  pada poin 66.



Irena Handono: Jangan Pernah Masukkan Anak ke Sekolah Kristen

Kamis, 29 Maret 2012

JAKARTA (VoA-Islam) -  Kristolog Irena Handono mengatakan, kasus SMK Grafika Desa Putera  memberikan pelajaran bahwa kita sebagai orang tua harus waspada. Tentu sangat disesalkan, kalau sampai tidak mengetahui, ke mana orang tua harus menyekolahkan anaknya.

“Betapa pentingnya sekolah yang Islami.Sekarang sekolah Islam yang berkualitas, bermutu tinggi, dan bergedung bagus, banyak, Alhamdulillah. Tetapi, bagaimana dengan umat yang tidak mampu? Itu yang juga harus menjadi perhatian kita,” kata mantan biarawawi Irena yang telah muallaf.

Irena mengatakan, jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang fakir dan miskin, maka mereka akan dididik dan diarahkan oleh para misionaris, dengan pelajaran agama Kristen, ujian dan ulangan sampai diharuskan menghafal pelajaran-pelajaran agama Kristen.

Selain Desa Putera, apakah sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan Kristen lainnya berpola sama? Irena menjelaskan, kalau di sekolah yang nyata-nyata memasang bendera Kristen, tentu mereka  menjalankan visi-misi Kristennya. Ada  kewajiban, setiap siswa yang belajar di sekolah Kristen itu harus masuk ke gereja setiap bulannya. “Rata-rata, semuanya begitu, di manapun, mulai dari Jakarta sampai ke ujung-ujung.”

Irena yang berpendidikan Institut Filsafat Teologia Katolik (Seminari  Agung) memberi contoh, sekolah-sekolah Kristen di Jakarta, seperti Vincentius, Ursula, semuanya sama. Begitu pula di Surabaya, seperti Santarisa, Gabriel, Santa Anis, Santa Maria, Vanlue, termasuk di tempat Irena dahulu mengecap pendidikan.
Ketika ditanya, mengapa orang Islam menyekolahkan anaknya ke sekolah Kristen? Kata Irena, boleh jadi karena pandangan orang tua, bahwa sekolah tersebut terkenal disiplin dan mutunya yang tinggi. Untuk belajar di sekolah Kristen, pihak sekolah tentu memberi persyaratan kepada siswa muslim, yaitu mereka akan mendapat pengajaran agama Kristen atau Katolik, termasuk ujian dan ulangannya, bahkan ke gereja setiap satu bulan sekali.  
 
Desastian

Senin, 30 Mei 2011

KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN ISLAM SECARA JUJUR (2)

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok pada tanggal 3 Juni 2011



Khutbah Pertama



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Khutbah kali ini menitik-beratkan penekanan pada 2 (dua) dari tiga ayat khutbah hajah di atas yaitu surah Ali Imran 102 dan Al Ahzab 70-71.

Allah SWT berfirman dalam Ali Imran 102: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.”

Jamaah yang berbahagia.

Pesan takwa ini bukanlah pesan yang gampang dan sembarangan. Allah yang memerintahnya, wajib kita mengamalkannya: “BERTAQWA SAMPAI MATI”, dan “MATI DALAM TAQWA YG SEBENARNYA.”

Lalu apa pesan-pesan lain taqwa selanjutnya? Allah berfirman dalam surah Al Baqarah 1-2: ""1. Alif Laam Miim. 2. Itulah al Kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertaqwa,”


Bentuk pesan taqwa dalam konteks ini adalah orang-orang yang beriman itu, adalah mereka-mereka yang bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan mereka tidak akan mati melainkan dalam keadaan Muslim, yaitu berpetunjuk dengan al Kitab Al Qur’an. Jadi orang yang berpetunjuk dengan Al Qur’an adalah mereka yang benar-benar bertakwa.

Kemudian dalam surah Al Baqarah ayat 185 Allah berfirman: Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).

Dalam ayat ini menekankan pesan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi manusia: “hudan linnas”, sehingga siapa pun yang tidak berpetunjuk kepadanya berarti “bukan manusia”. Maknanya, orang yang bertaqwa: yang hanya berpetunjuk kepada Al Qur’an, yang selanjutnya mengambil penjelas atas petunjuk-petunjuk itu dengan Al Qur’an pula, serta menempatkan Al Qur’an sebagai FURQAN: PEMBEDA, pemilah antara yang hak dan batil, alat ukur menentukan antara yang salah dengan yang benar, -- maka merekalah orang-orang bertaqwa dan benar taqwanya. Dengan demikian orang bertaqwa merupakan manusia yang sebenarnya, insan kamil, karena merekalah orang-orang yang beruntung.

Allah berfirman dalam surah At Tin 4-5 : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”.

Dengan demikian, orang bertaqwa adalah sebenar-benarnya manusia, sebaik-baik ciptaan…, sedangkan yang tidak beriman…, bukan manusia karena tempat mereka sangat hina.

Jamaah Jumat yang mulia.

Selanjutnya pesan taqwa berikutnya adalah surah Al Ahzab 70-71: "(33:70). Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (33:71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagi kamu dosa-dosa kamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Pesan taqwa ayat ini menunjukkan korelasi pasti bahwa orang yang benar-benar bertakwa adalah mengucapkan perkataan yang benar. Orang taqwa adalah orang jujur. Artinya, satu ciri orang bertakwa adalah ucapannya benar. Ayat ini juga jelas, berkata benar merupakan taubat karena Allah menjadikan perkataan yang benar sebagai wasilah perbaikan amal dan pengampunan dosa. Dengan demikian, seorang khatib yang berkhutbah adalah bertaubat kepada Allah, bukan mencari-cari pengikut atau tujuan lainnya.



Jamaah jum’at yang budiman.

Lalu apa perkataan yang benar itu? Salah satu jawabannya ada dalam khutbah hajah di atas, yaitu:


فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sebaik-baik perkataan/ucapan adalah kitab Allah (Al Qur'an) dan dan sebaik-baik petunjuk (hudan) adalah petunjuk Muhammad SAW".

Maksudnya, ucapan yang benar itu, perkataan yang benar dan petunjuk yang benar itu, adakah yang bukan berasal dari petunjuk Muhammad? Kalau ada maka ayat yang mana dari ayat-ayat Al Qur’an itu yang tidak berasal dari petunjuk atau ucapan Muhammad?


Sebaliknya,
وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
"Seburuk-buruk urusan dalam Islam adalah sesuatu yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan seluruh bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."

Kembali kepada Al Baqarah ayat 1-2: "Alif Laam Miim. Kitab itu (Al Qur'an), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Maka kita faham bahwa sebaik-baik perkataan adalah Al Qur'an, sebaik-baik hudan (petunjuk) adalah yang dibawa Muhammad yakni Al Qur'an. Jelas, semua ayat-ayat Al Qur'an berasal dari ucapan Muhammad.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.


Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Setiap sholat kita melantunkan do’a al Fathihah. Tidak ada sholat tanpa ummul kitab Al Fathihah. Apa doa kita itu? (1:6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, (1:7) ”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Lalu apa jawabannya? Salah satunya Allah berfirman dalam Al Baqarah 1-2 tadi: “1. Alif Laam Miim. 2. Itulah al Kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertaqwa,”

Dengan begitu, doa kita dikabulkan Allah dengan Al Qur’an. Setiap kita berdoa al Fathihah, setiap itu pula dikabulkan Allah dengan jawaban yang sama. Tapi sudahkah kita menerima Al Qur’an? Sudahkah kita tidak mendustai doa dan jawaban doa kita sendiri? Wallahu a’lam.

Jamaah Jum’at yang mulia.

Sekali lagi, apakah kita manusia? Secara jasadi, iya. Tapi dari sisi pandang Allah.., wallahu a'lam, karena kita memakai Al Qur'an terkadang saja. Berbagai macam alasannya, karena kita pintar. Kita ini juara pidato, kita pemenang debat. Lihai kita membenarkan kekafiran kita. Buktinya apa? Salah satu yang ringan adalah hadits dari khutbah hajah tadi.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam riwayat Imam Muslim dan An Nasa'i, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Adalah Rasulullah SAW apabila beliau berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, sehingga seolah-oleh beliau memberi komando di medan perang dengan berkata: "(Musuh) akan menyerang kalian dipagi dan petang." Beliau juga bersabda: "Amma ba'du. Sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejahat-jahat urusan adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat." Dan Imam Nasa'i menambahkan: "Dan setiap yang sesat tempatnya di neraka." Singkat haditsnya:


وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

"Seburuk-buruk urusan (dalam Islam) adalah sesuatu yang diada-adakan, dan semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."
(Hadits dikutip dari Terjemah Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al Asqalani).



Jamaah Jum'at yang berbahagia

Hadits diatas memberi petunjuk agar khatib berkhutbah di mimbar dengan merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya. Seolah-oleh khatib memberi komando di medan perang. Lalu apa yang terjadi dengan kita sekarang? Adakah khatib-khatib mengamalkan sebaik-baik petunjuk dari Muhammad atau malah sudah merubah khutbah jum’at menjadi obat tidur siang bagi jamaahnya, wallahu a'lam.

Kemudian hadits ini menegaskan: "Kullu bid'atin dholaalah" = semua bid'ah itu sesat ", lalu kenapa kita mengatakan "tidak semua bid'ah itu sesat"? Karena kita percaya ada "bid'ah hasanah". Apakah anda tidak sadar dimana celakanya bid'ah hasanah? Kalau Nabi mengatakan semua bid'ah itu sesat maka kita menentang nabi dengan mengatakan tidak semuanya bid'ah itu sesat. Dengan demikian, percaya kepada bid'ah hasanah berarti tidak percaya kepada “kullu bid’atin dholalah”. Selanjutnya…, bid’ah hasanah mengakibatkan "tidak semua yang sesat itu di neraka". Lalu artinya apa? Artinya, adanya bid'ah yang baik (bid'ah hasanah), berati ada juga sesat yang baik (dholalah hasanah). Apa akhirnya…, kalau pun masuk neraka maka masuknya ke neraka yang baik atau naarul hasanah. Bid'ah hasanah atau kesesatan yang baik telah merubah wajah Islam karena matinya masuk neraka yang baik. Adakah sesat yang baik, juga neraka yang baik?

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 42: "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahuinya." Haram mencampur-aduk dholalah dengan hasanah.

Akhirnya kita tutup dengan firman Allah yang lain, surah Al Furqan 30-31: [25:30] Berdoalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang diacuhkan". [25:31] Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


Kuala Kapuas, 29 Mei 2011





Jumat, 06 Mei 2011

PRO >< KONTRA ( 1 ) : KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN ISLAM SECARA JUJUR

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok pada tanggal 22 April 2011


Oleh : Syamsuddin Rudiannoor




Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Khutbah kali ini menitik-beratkan penekanan pada salah satu ayat dari tiga ayat dalam khutbah hajah diatas yaitu surah Al Ahzab ayat 70-71:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (33:71) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagi kamu dosa-dosa kamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Dari ayat ini jelas bahwa salah satu korelasi pasti dari orang-orang yang benar-benar bertakwa adalah mengucapkan perkataan yang benar. Artinya, salah satu ciri orang bertakwa adalah berkata benar. Di dalam ayat ini juga jelas bahwa berkata benar merupakan taubat karena Allah menjadikan perkataan yang benar sebagai wasilah memperoleh perbaikan amalan-amalan dan wasilah pengampunan atas dosa-dosa kita. Dengan demikian, seorang khatib yang berkhutbah adalah bertaubat kepada Allah, bukan mencari dukungan jamaah, menipu jamaah apalagi berkampanye mencari-cari pengikut.

Lalu apa perkataan yang benar itu? Salah satu jawabannya ada dalam khutbah hajah diatas, yaitu:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sebaik-baik perkataan/ucapan adalah kitab Allah (Al Qur'an) dan dan sebaik-baik petunjuk (hudan) adalah petunjuk Muhammad SAW".


Sebaliknya, وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
"Seburuk-buruk urusan dalam Islam adalah sesuatu yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan seluruh bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."

Selanjutnya Allah juga berfirman dalam Al Baqarah ayat 1-2: "Alif Laam Miim. Kitab itu (Al Qur'an), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."

Dengan demikian kita faham bahwa sebaik-baik perkataan adalah Al Qur'an dan sebaik-baik hudan (petunjuk) yang dibawa Muhammad Rasulullah adalah juga Al Qur'an. Apakah ada ayat-ayat Al Qur'an yang bukan berasal dari ucapan Muhammad?



Jamaah Jum'at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Allah juga berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 185: "Bulan ramadhan, bulan yang didalamnya di turunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan atas petunjuk itu dan sebagai pembeda (atas haq atau batilnya sesuatu)".

Artinya Al Qur'an adalah petunjuk bagi manusia. Maka siapa pun yang tidak berpetunjuk kepada Al Qur'an maka bukan manusia. Hudan lin naas = petunjuk bagi manusia, siapa yang anti Al Qur'an maka bukan manusia. Selanjutnya Al Qur'an juga menjadi penjelas atas petunjuk itu, juga sebagai alat ukur untuk membedakan yang benar dari yang salah.

Apakah kita ini manusia? Wallahu a'lam, karena terkadang kita memakai Al Qur'an, terkadang juga menentang petunjuk Al Qur'an dengan berbagai macam alasan. Buktinya apa? Salah satu yang paling ringan adalah hadits dalam bagian dari khutbah hajah tadi, Rasulullah SAW telah bersabda dalam riwayat Muslim dan An Nasa'i, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Adalah Rasulullah SAW apabila beliau berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, sehingga seolah-oleh beliau sedang memberi komando di medan perang dengan berkata: "(Musuh) akan menyerang kalian dipagi dan petang." Beliau juga bersabda: "Amma ba'du. Sebaik-baik/sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejahat-jahat urusan adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat." Dan Imam Nasa'i menambahkan: "Dan setiap yang sesat tempatnya di neraka." Singkat haditsnya:

وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

"Seburuk-buruk urusan (dalam Islam) adalah sesuatu yang diada-adakan, dan semua yang diada-adakan adalah bid'ah dan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat di neraka."




Jamaah Jum'at yang berbahagia.
Hadits diatas memberi petunjuk bahwa khatib berkhutbah di mimbar dengan merah kedua matanya, tinggi suaranya dan sangat besar kemarahannya, seolah-oleh sedang memberi komando di medan perang. Lalu apa yang terjadi dengan kita sekarang? Adakah khatib-khatib mengamalkan sebaik-baik petunjuk dari Muhammad atau malah sudah berubah menjadi obat tidur siang bagi jamaahnya, wallahu a'lam.

Kemudian didalam hadits ini sudah tegas: "Kullu bid'atin dholaalah" = semua bid'ah itu sesat ", lalu kenapa kita mengatakan "tidak semua bid'ah itu sesat", karena percaya "bid'ah hasanah". Apakah anda tidak sadar dimana celakanya bid'ah hasanah? Kalau Nabi sudah mengatakan semua bid'ah itu sesat maka kita menentang nabi dengan mengatakan tidak semuanya bid'ah itu sesat. Dengan demikian bid'ah hasanah mengakibatkan "tidak semua yang sesat itu di neraka". Lalu artinya apa? Artinya, ada bid'ah yang baik (bid'ah hasanah), ada sesat yang baik (dholalah hasanah), dan akhirnya kalau pun masuk neraka maka masuknya ke neraka yang baik atau naarul hasanah. Bid'ah hasanah atau kesesatan yang baik telah merubah wajah Islam karena kalau pun mati maka akan masuk ke neraka yang baik juga. Adakah bid'ah hasanah = sesat yang baik = neraka yang baik. Apakah ada kesesatan yang hasanah, wallahu a'lam.



Jamaah Jum'at yang berbahagia.

Dengan khutbah yang sederhana ini saya berusaha mengamalkan surat Al Ahzab 70-71 tadi. Semoga Allah memperbaiki amal-amal ibadah kita dan mengampuni bagi kita segala dosa-dosa kita, amin.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 42: "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahuinya."

Lalu apa al-Haq itu? Itulah Islam, sebagaimana firman Allah dalam surah yang lain: "Al Haq itu datangnya dari Tuhanmu maka janganlah kamu termasuk yang ragu-ragu."



أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





Khutbah kedua:


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.



Jamaah Jum'at yang berbahagia.

Ayat yang dibacakan ini (QS Ali Imran 102) memerintahkah kita bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa dan jangan sampai kita mati kecuali didalam ketaqwaan itu. Dan salah satu indikasi ketaqwaan adalah mengucapkan perkataan yang benar (wa quulu qawlan syadiida). Mudah-mudahan kita dimampukan mengucapkan perkataan yang benar, paling tidak apabila Rasulullah sudah mengatakan semua bid'ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka, maka marilah mengucapkan dengan ucapan yang sama dengan Rasulullah.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah 285: "Rasul telah beriman kepada (Al Qur'an ) yang diturunkan kepadanya dari Rabb-Nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya berima kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): "Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari rasul-rasul Allah." (Mereka berkata) : "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami wahai tuhan kami dan kepada-Mu lah kami akan kembali."

Itulah sebagian dari perkataan-perkataan yang benar. Saya tutup uraian ini dengan surah Al Furqan 30-31: "Berkatalah Rasul: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaum ku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang tidak diperdulikan!" (25:31) Allah berfirman: "Begitulah kelakuan kalian, karena Kami telah mengadakan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu saja yang menjadi pemberi petunjuk dan penolong!"



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.



Buntok, 20 April 2011

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...