Selasa, 09 Oktober 2012

ISLAM ADALAH NIKMAT (2)



NIKMAT TERKHIANATI DARI DALAM ISLAM
Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok tanggal 5 Oktober 2012


KHUTBAH PERTAMA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ ا لْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Telah terjadi berbagai kabar buruk terhadap Islam berupa penistaan, pelecehan Nabi Muhammad SAW, penghinaan melalui film Innocences of Muslim, pembakaran Al Qur’an, Kartun Nabi Muhammad, stigma Teroris dan berbagai pelecehan lainnya. 

Banyak dari hal-hal buruk itu berasal dari ummat pendengki di luar Islam namun banyak juga yang datang dari ummat Islam sendiri. Dan salah satu yang datang dari dalam ummat Islam sendiri sebagai mana dinyatakan Allah dalam surah Ali Imran ayat 7: "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."

Ayat ini tegas menunjukkan banyaknya oknum dari dalam ummat Islam sendiri yang sangat gandrung atau hobi memplintir ayat-ayat Allah untuk menimbulkan fitnah dan menimbulkan takwil atau tafsir-tafsir sesuka hati. 

Agar terhindar dari hobi buruk ini maka Allah mengajarkan doanya sebagai mana QS Ali Imran ayat 8: "(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

Lalu bagai mana agar kita senantiasa beroleh nikmat, selamat dari dosa takwil-mentakwil dan menimbulkan fitnah dalam ber-islam? Allah menjelaskan solusinya dalam rangkaian ayat dalam surah An Nisa ayat 59 sampai 70. Dalam An Nisa 59 sampai 65 Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik takwil / akibatnya".

Inilah jawaban Allah bahwasanya sebaik-baik takwil adalah takwil Allah karena hanyalah Allah yang Maha Mengetahui. Artinya, haram bagi kita berislam dengan mengandalkan takwil-takwil pribadi atau kelompok kecuali takwil itu resmi berdasarkan takwil Allah dan Rasul-Nya. Dan ulil amri yang dimaksud dalam ayat ini tiada lain adalah siapa pun yang membawa kepada Allah dan Rasul secara mutlak. Tidak dikatakan ulil amri apabila para pemimpin itu tidak mau kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusan.

Selanjutnya An Nisa 60 Allah berfirman: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya".

Coba bayangkan ayat-ayat diatas. Apakah mungkin ulil amri mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya padahal disaat yang sama tidak memperjuangkan hukum-hukum Allah, malah memperjuangkan hukum-hukum thaghut? Sungguh ini sebuah kesesatan yang jauh.

AN NISAA' (4:61): "Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu".

Nah ini, apakah wajib kita mengikuti ulil amri yang sesat lagi munafik? Tentu saja bukan ulil amri namanya apabila para pemimpin kita itu terus saja menolak berhukum kepada Hukum Islam dan Rasulullah SAW.

AN NISAA' (4:62): "Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna". 

Nah lho.., coba perhatikan detail ayat ini. Ternyata para ulil amri kita sangatlah pandai dalam mengambil hati kaum muslimin, sampai-sampai perbuatan mereka yang semestinya diazab Allah sebagai hukuman bagi munafik malah dipandang sebagai penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna. Mereka memang ahli koalisi ..., ahli talbis ...., ahli setor muka kepada semua fihak.  Ketahuilah, para ulil amri kita itu, para pemimpin kita:  "Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka".(An Nisa 63).

Dengan demikian ayat ini tegas menunjukkan tidak adanya ketaatan kepada ulil amri yang munafik dan menolak syariat meskipun dalam waktu bersamaan kita harus tetap berdakwah kepada mereka dengan seruan yang menyentuh.

AN NISAA' (4:64): "Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang".
.
Wahai para ulim amri kami, marilah kita sama-sama taat kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Mari kita bertaubat dari aniaya diri, karena sesungguhnya Allah itu maha penerima taubat lagi maha penyayang. Yang pasti surah An Nisa' (4:65) Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". 


Mari kita terima Islam sebagai nikmat Allah secara kaffah. Islam itu bukanlah khianat. Kita tutup khutbah pertama ini dengan firman Allah surah Al Baqarah ayat 41-42: "41]. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an), yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa  [42]. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui".


KHUTBAH KEDUA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛

QS Ali Imran 102: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.


Jamaah yang berbahagia.
Tentu saja ulil amri adalah siapa saja pemegang urusan ummat yang dalam kapasitasnya mengemban amanah senantiasa mengajak kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian diharapkan termasuk kedalam orang-orang yang memperoleh nikmat sebagai mana keterangan An Nisa Ayat 69 berikut: "Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".

AN NISAA' (4:70): "Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui."

Inilah kesempurnaan Islam, nikmat Allah kepada kita. Kunci sukses meraih nikmat Islam pun sangatlah lugas yaitu taqwa, yakni menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.  Allah berfirman dalam QS Ali Imran 31: Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."

Allah pun menegaskan lagi : "[3:19] Sesungguhnya Din di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS Ali Imran 19).


Kuala Kapuas, 21 September 2012

Senin, 01 Oktober 2012

Belajar dari Bom Papua, Inilah Kemunafikan Aparat


Senin, 01 Oct 2012
 
JAKARTA (voa-islam.com) - Pemerhati kontra-terorisme,  Harits Abu Ulya melihat penemuan sejumlah bom siap ledak di Sekretariat Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Kampung Honailama, Papua, sebagai qadarullah yang menyingkap  hakikat kontra-terorisme.
 
Subhanallah, Allah Ta’ala memperlihatkan kepada umat Islam, tentang hakikat kontra-terorisme dari kasus Papua kali ini,” ucap direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini kepada voa-islam.com, Ahad (30/9/2012).
Ia mengungkapkan beberapa poin terkait bom Papua yang diduga untuk menargetkan pemerintah, aparat polisi dan TNI.
  1. Berangkat dari fakta, terlihat bahwa aksi terorisme ini terkait dengan gerakan OPM yang eksis di Papua.
  2. KNPB adalah lembaga mantel OPM untuk membangun connecting/jaringan di dalam negeri maupun di luar negeri. Di level internasional termasuk PBB. KNPB selama ini menjadi saluran resmi OPM untuk mengkomunikasikan visi politiknya ke luar.
  3. Tidak banyak diketahui publik LSM lokal komprador dan LSM asing dengan dimediasi aktivis gereja (pihak gereja) yang ada di Papua berperan aktif untuk memuluskan kepentingan OPM. Di samping ada sindikasi dengan para pemegang modal (investor) yang tidak mau diganggu eksistensinya oleh pemerintah Indonesia. OPM dengan gerakannya bisa dijadikan sebagai kelompok pressure dan bargaining.
  4. Logika Polri yang saya tahu juga memasukkan kelompok yang menyerukan etnonasionalism atau sparatism adalah teroris. Nah, apakah ada satu kata pun yang keluar dari pihak aparat kepolisian bahwa rencana aksi terorisme ini adalah termasuk tindak pidana terorisme? Atau hanya akan disebut tindak kriminal biasa? Padahal mereka layak diberi label teroris karena ada organisasi, ada plan ada visi dan gerakan. Inilah kemunafikan aparat kepolisian.
  5. Coba tanya kepada BNPT atau Densus 88 apakah mereka teroris? Saya pikir mereka akan menunggu sebutan teroris kalau orang-orang yang terduga terlibat menyiapkan bom tersebut ada satu saja nama; Muhammad, Abdullah atau Abu Bakar. Inilah kemunafikan dan hakikat perang melawan terorisme itu fokusnya perang melawan Islam dan pejuangnya.
  6. Maka umat Islam harus sadar 100 %; label teroris adalah keputusan politik dan terkait dengan kepentingan politik. Penguasa negeri ini sudah menjadi bebek kepentingan negara asing.
Selain itu, menurut Harits Abu Ulya intervensi Australia dalam mengendalikan kontra-terorisme di Indonesia pun amat jelas Khususnya dalam hal menyikapi OPM di Papua. 

Seperti diberitakan radioaustralia 29 Agustus 2012, Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, mengatakan telah meminta kepada Indonesia untuk melakukan pengusutan atas pembunuhan Tabuni.

Ia mengatakan, Kepolisian Federal Australia melatih satuan Densus 88 karena ingin Indonesia mempunyai kapasitas anti terorisme yang kuat, tapi bukan untuk menumpas pemberontakan.

“Justru teguran Australia mengindikasikan  kontra terorisme tidak boleh diarahkan untuk kasus separatisme seperti OPM. Karena di lapangan fakta intelijen Australia banyak sokong OPM. 

Tito Karnavian yang menjadi Kapolda Papua sekarang harusnya konsisten dan tegas, apakah mereka teroris atau tidak?” imbuhnya. [Ahmed Widad]

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...