Sabtu, 16 Oktober 2010

KHUTBAH JUM'AT 15 OKTOBER 2010 DI MASJID AS-SUNNAH BUNTOK

SYARAT DITERIMANYA AMAL

Oleh: Sahgian


Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Ketahuilah bahwa iman kepada Allah dan kufur kepada thogut adalah rukun Islam terbesar yang diajarkan para Rasul kepada ummatnya. Keduanya menjadi tujuan mengapa mereka diutus ke dunia, sekaligus menjadi tujuan risalah yang mereka bawa, sebagaimana firman Allah: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,(QS An Nahl:36).

Maka menunaikan keduanya adalah merupakan kewajiban pertama manusia kepada Tuhannya sebelum nanti mereka diwajibkan dengan kewajiban ibadah yang lain. Amal sholeh apa pun yang dilakukan manusia tidak akan mungkin diterima oleh Allah SWT apabila tidak dilandasi dengan tauhid yang bersih dari kesyirikan. Berapapun banyaknya amal kebaikan yang dilakukan oleh seseorang, tetap tidak mungkin ada artinya apabila pelakunya tidak kufur kepada thogut. Yang mana seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah apabila dia tidak melakukan pengingkaran kepada thogut. Hal ini sebagaimana firman Allah: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".


Hadirin Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan dirahmati Allah.

Didahulukannya kufur kepada thogut daripada iman kepada Allah Ta’ala memiliki makna yang agung, diantaranya:

Yang pertama: adalah sebagai syarat tidak bolehnya meremehkan persoalan kufur kepada thogut, dan bahwa ia adalah pokok Dien yang menjadi fondasi bagi pokok-pokok dan cabang-cabang Dien yang lainnya.

Yang kedua: kufur kepada thogut harus didahulukan dari pada iman kepada Allah karena andaikata iman kepada Allah lebih didahulukan atas kufur kepada thogut maka tetap saja iman itu tidak bermanfaat bagi pemiliknya kecuali setelah ia mengkufuri thogut dan meninggalkan kesyirikan.

Dan yang ketiga: Iman kepada Allah dan iman kepada thogut tidak mungkin terkumpul dalam jiwa seseorang meski hanya sesaat karena iman kepada salah satunya akan menghapuskan yang lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah: Bahwa iman dan kekafiran tidak akan berkumpul dalam hati seseorang.

Maka dari itu hadirin, hanya ada satu pilihan, yaitu: Iman kepada Allah yang di dahului kufur kepada thogut atau iman kepada thogut dan kufur kepada Allah Ta’ala.


Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Kufur kepada thogut serta iman kepada Allah adalah 2 hal yang dengannya seseorang bisa dikatakan mukmin dan dengannya amalan bisa diterima, sebagaimana firman Allah: “Dan barang siapa yang melakukan amal sholeh, baik laki-laki atau perempuan sedang ia mukmin maka mereka masuk surga seraya mereka diberi rizki di dalamnya tanpa perhitungan”. (QS Al Mukmin : 40)

Dalam ayat ini hadirin, Allah SWT menetapkan pahala amal sholeh hanya bagi orang mukmin, sedang orang yang mempertahankan tradisi, pemberian tumbal atau sesajen terhadap perkara tertentu bukanlah seorang mukmin karena ia melakukan ketaatan kepada selain Allah, dan orang yang meminta berkah kepada orang yang sudah mati bukanlah seorang mukmin karena dia meminta keberkahan kepada selain Allah. Dan orang yang rela berhukum dengan selain hukum Allah bukanlah seorang mukmin karena dia rela berhukum kepada hukum thogut, sebagai mana firman Allah: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (QS An Nisa : 60).

Dan bahkan hadirin, orang yang mengusung Demokrasi, Sekularisme, Liberalisme dan sebagainya bukanlah seorang mukmin tetapi mereka adalah orang-orang musyrik karena mereka tidak kufur kepada thogut. Yang mana amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan diterima oleh Allah sebagaimana firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu. "Jika kamu berbuat syirik maka akan hapuslah amalmu dan kamu termasuk orang-orang yang merugi”.

Amalan-amalan yang banyak itu hilang sia-sia dengan satu kali saja berbuat kesyirikan, maka apakah gerangan apabila orang tersebut terus-menerus berjalan di dalam kesyirikan, padahal ayat ini adalah ancaman kepada Rasul SAW yang tidak mungkin berbuat kesyirikan, dan begitu juga para Nabi semuanya diancam dengan ancaman yang sama, sebagaimana firman-Nya: "Dan barang siapa berbuat syirik maka lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan". (QS Al An’am : 88).

Inilah yang disebut dengan tauhid yaitu syarat yang paling mendasar yang jarang diperhatikan oleh banyak orang, yang tanpanya amalan tidak bisa diterima oleh Allah SWT.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛


Maasiral muslimin rahimakumullah.

Masih ada 2 syarat lagi yang harus dipenuhi oleh seorang hamba agar tidak termasuk orang-orang yang merugi di akhirat kelak sebagaimana yang diberitakan dalam Al Qur’an: "Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS Al Kahfi : 103-104).


Adapun 2 syarat selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari memahami tauhid adalah:

Yang pertama adalah IKHLAS.
Orang yang melakukan amal sholeh tetapi bukan karena Allah maka bukanlah termasuk orang yang ikhlas karena ia beribadah hanya karena ingin dilihat dan dipuji manusia, dan amalnya tidak akan diterima oleh Allah sebagai mana firman-Nya: "Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS Al Kahfi : 110)

Ayat ini, hadirin, berkenaan dengan keikhlasan. Jadi, orang yang beramal sholeh dan dia bertujuan kepada yang lain disamping kepada Allah maka ia bukanlah termasuk orang yang ikhlas.


Dan yang kedua adalah MUTABA”AH (sesuai tuntunan Rasul).
Amal ibadah apapun yang dilakukan, meskipun dilakukan dengan ikhlas akan tetapi tidak sesuai dengan tuntunan atau contoh Rasulullah maka pasti tertolak sebagai mana sabdanya: “Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka itu tertolak”. (HR Muslim)

Dan juga sabda beliau SAW: “Jauhilah perkara yang diada-adakan dalam beragama karena yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. (HR Tirmidzi).


Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Sedikit amalan tetapi sesuai tuntunan Rasul mungkin adalah lebih baik daripada banyak amalan tetapi didalam kebid’ahan. Jadi, hadirin, dalam uurusan ibadah kita harus bertanya pada diri sendiri “apakah landasan atau dalil yang kita jadikan dasar?” Karena setiap kita beramal apabila tidak mengetahui dasar atau dalilnya maka lebih baik tinggalkan karena hal itu lebih selamat bagi kita sebagai mana firman Allah: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya".

Sebagai mana ayat ini, hadirin, sangat jelas bahwa kita dilarang mengikuti segala sesuatu yang kita tidak mengetahui pengetahuan tentangnya karena segala sesuatu yang kita lakukan akan dimintai pertanggung-jawabannya disisi Allah SWT.

Inilah hadirin 2 hal yang penting yang harus diketahui setiap muslim agar amal sholeh yang ia lakukan tidak tergolong sia-sia disisi Allah SWT.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Buntok, 29 September 2010

Senin, 04 Oktober 2010

KHUTBAH JUM'AT 1 OKTOBER 2010 DI MASJIS AS-SUNNAH BUNTOK

HUKUM BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH

Oleh: Syamsuddin Rudiannoor



KHUTBAH PERTAMA


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang mudah-mudahan memperoleh rahmat dari Allah Sub-haanahu wa Ta’ala.
Kembali kita tekankan firman Allah dalam Al Qur’an surah Al A’raf antara ayat 11 sampai 27. Dalam surah Al A’raf ayat 19 Allah berfirman, artinya: 19] "Wahai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim".

Didalam ayat ini Allah melarangan Adam dan istrinya mendekati pohon, yang apabila dilanggar akan berakibat menjadi orang yang dzalim. Namun iblis membantah keterangan Allah itu dengan mengatakan dalam Al A’raf ayat 20, artinya: "[20] Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu aurat dan setan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal".

Apa artinya ayat ini? Membantah syariat dengan berdusta atas nama Allah adalah pelajaran dari iblis. Inilah teknik penipuan Iblis yang canggih. Dengan demikian, barang siapa yang mengatakan sesuatu yang bukan dari Allah lalu mengatakannya dari Allah maka dia berguru kepada Iblis. Coba bayangkan. Sudah sangat terang Allah berfirman: [19] “Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim". Maka Adam dan istrinya penasaran karena Iblis berkata: [20] “Tuhan kamu tidak melarang kamu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal".

Inilah pelajaran paling berharga dari iblis yaitu berdusta atas nama Allah. Iblis berhasil menipu Adam dan istrinya dengan berdusta atas nama Allah. Selanjutnya dia menyambung dustanya dengan sumpah palsunya yang sangat terkenal dan sangat meyakinkan: "[21] Dan Iblis pun bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk memberi nasihat kepada kamu berdua.”

Inilah gambaran sangat gamblang tentang berdusta atas nama Allah. Inilah satu pengajaran yang sangat penting dari surah Al A’raf ayat 19, 20 dan 21. Dari rangkaian ayat inilah iblis mengajarkan teori”tujuan menghalalkan segala cara”. Demi tujuan yang harus dicapainya maka Iblis berdusta atas nama Allah. Bukan hanya sampai disitu. Kedustaan kepada Allah ditambahi lagi dengan sumpah palsu yang sangat meyakinkan. Pelajaran ini sangat penting kita sadari karena guru yang mengajarkannya adalah Iblis laknatullah alaih. Ayat 21 tadi menggambarkan betapa gagahnya iblis mengakui dirinya sebagai penasehat manusia. Inilah hebatnya iblis. Pemutar-balikkan syariat Allah dengan cara dusta, yang dalam konteks ini adalah qiyas Iblis dan ijma dengan Adam dan istrinya, adalah cara lama yang kita serap dari pengajaran mahaguru Iblis. Oleh karena itu, antisipasi terhadap tehnik tipu daya “berdusta atas nama Allah” sudah diperingatkan Allah diantaranya dalam surah Faathir ayat 5: [35:5] Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah sekali-kali syaitan yang pandai menipu itu berhasil memperdayakan kamu tentang Allah.”

Ayat tersebut dengan terang menegaskan kepada manusia bahwa janji Allah pasti benar dan janji-janji syaitan pasti dusta. Allah juga tegas mengatakan, kehidupan dunia dan bujuk rayu syaitan, pemutar-balikkan syariat dan tipu-menipu adalah teknik syaitan yang harus dilawan dengan tegas. Surah Faathir ayat 6 berbunyi: [35:6] Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanyalah mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Itulah perintah Allah yang tegas. Kita diperintah harus tegas menjadikan setan sebagai musuh. Percaya kepada setan berarti setuju menjadi penghuni neraka. Jadi, hukuman bagi para pendusta atas nama Allah, baik si pendusta maupun yang ijma atau bersepakat atas kedustaan adalah pasti menjadi penduduk neraka. Surah Faathir ayat 6 tadi dengan tegas mengatakan: “[35:6] Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanyalah mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Apa pun yang dijanjikan iblis dengan segala cara yang ditempuhnya tiada lain kecuali neraka yang dibungkus janji-janji palsu syurga. Janji-janji iblis adalah bencana yang dihembuskan tipu daya yang indah. Seluruh perkataan manis iblis adalah kebohongan yang mantap. Dalam surah Al An’am ayat 112 Allah berfirman, ”sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.”

Dalam surah An Nisa ayat 120-121 Allah berfirman: [120] Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka melainkan tipuan belaka. [121] Mereka itu tempatnya Neraka Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat melarikan diri daripadanya.

Disamping menjanjikan neraka yang dikatakan syurga, Iblis juga menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan. Sangat gencar iblis mengkampanyekan kemiskinan bagi siapa pun yang mengamalkan syariat Islam. Firmankan Allah dalam Al Baqarah 268: "Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui".

Coba perhatikan. Jelas Allah mengatakan syaitan menakut-nakuti manusia dengan kehidupan susah dan memerintahkan perbuatan kikir.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Kaum muslimin yang panjang angan-angan akan mudah percaya dengan tipu daya syaithan. Syaithan akan senantiasa menghiasi dunia dengan kenikmatan-kenikmatan semu. Dia senantiasa menakut-nakuti dengan ancaman kemiskinan. Allah berfirman dalam Ali Imran ayat 14 sampai 16: [14] Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. [15] Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang sedemikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [16] (Yaitu) orang-orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.”


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.





KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Termasuk katagori orang yang paling dzalim adalah orang-orang yang membuat-buat kedustaan kepada Allah atau mendustakan ayat-ayat Allah, apapun bentuk dan metodenya. Inilah penegasan surah Al A’raf ayat 36-37: "[36] Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [37] Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam al Kitab; sehingga apabila datang kepada mereka utusan Kami untuk mengambil nyawanya, utusan Kami bertanya: "Dimana yang kamu sembah selain Allah?" Orang-orang musyrik itu menjawab: "Semuanya telah lenyap dari kami," dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Dengan ayat ini ditegaskan bahwa para pembuat dusta atas nama Allah atau siapapun yang mendustakan ayat-ayat Allah akan mulai merasakan adzab tatkala malaikat maut mulai mencabut nyawanya dengan kekerasan yang dahsyat. Dan adzab itu akan abadi mereka rasakan ketika dimasukkan kedalam neraka jahanam. Itulah azab yang setimpal bagi orang-orang musyrik.

Didalam surah Al A’raf ayat 40 Allah berfirman: [40] Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak mungkin mereka masuk surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Artinya, berdusta atas nama Allah atau mendustakan ayat-ayat Allah atau ijma terhadap kedustaan kepada Allah sudah pasti masuk neraka dan mustahil masuk syurga seperti mustahilnya seekor unta bisa lolos dari lubang jarum. Sekarang tinggal pilih, apakah kita masih tetap percaya kepada lontaran-lontaran manusia ataukah kepada firman Allah? Silakan pilih, percaya kepada Al Qur’an ataukah lebih percaya kepada omong kosong iblis dan para abdi-abdinya yang sesat lagi menyesatkan?


[25:30] Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang tidak dihiraukan". [25:31] Allah berfirman: “Ya begitu itulah kalian, karena Kami telah mengadakan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu saja yang menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong”. (QS Al Furqan 30-31).


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Buntok, 22 Juli 2010

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...