Kamis, 08 November 2012

HATI MANUSIA LEBIH KERAS DARI PADA GUNUNG BATU

Khutbah Jum’at di Masjid As-Sunnah Buntok tanggal 2 November 2012


Oleh :  SYAMSUDDIN RUDIANNOOR


KHUTBAH PERTAMA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ ا لْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Hari ini dan dari mimbar ini untuk kesekian kalinya saya bawakan firman Allah surah Ali Imran ayat 7:  “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”. 

Ayat ini tegas menunjukkan adanya ummat Islam yang sangat gandrung atau hobi memplintir ayat untuk menimbulkan fitnah dan menimbulkan takwil atau tafsir-tafsir sesuka hati.

Dalam hal agar selamat dari takwil dan menimbulkan fitnah dalam ber-islam, solusi yang Allah jelaskan diantaranya surah An Nisa ayat 59. Malah dalam khutbah yang lalu telah dibacakan dari surah An Nisa ayat 59 sampai 70.

Dalam An Nisa 59 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik takwil / akibatnya.” 

Inilah jawaban Allah bahwasanya sebaik-baik takwil adalah takwil Allah karena hanyalah Allah yang Maha Mengetahui. Artinya, haram bagi kita berislam dengan mengandalkan takwil-takwil kecuali takwil itu resmi berdasarkan takwil Allah dan Rasul-Nya. Dan ulil amri yang dimaksud dalam ayat ini tiada lain adalah siapa pun yang membawa kepada Allah dan Rasul secara mutlak. Tidak dikatakan ulil amri apabila para pemimpin itu tidak mau kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusan.

Selanjutnya An Nisa 60 Allah berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.

Coba bayangkan ayat-ayat diatas. Apakah mungkin ulil amri mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya padahal disaat yang sama tidak memperjuangkan hukum-hukum Allah, malah memperjuangkan hukum-hukum thaghut? Sungguh ini sebuah kesesatan yang jauh.


AN NISAA’ (4:61): “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada  hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”. 

Inilah dua ayat yang menunjukkan realitas ummat Islam: 1. Mengaku beriman namun menolak berhukum kepada hukum Allah, justru sebaliknya mengakomodir hukum thagut. 2. Tatkalan diajak kepada penerapan hukum Islam maka tampak jelas adanya tokoh dari ummat ini yang menghalang-halangi sekuat tenaga walau pun mungkin saja mulutnya tidak menyatakan kekufuran.

Baiklah kita tunjukkan ayat muhkamat dari firman Allah surah Al An Nur ayat 58 – 59: “[24:58] Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (pembantu lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada kamu tiga kali: sebelum sholat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari dan sesudah sholat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [24:59] Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig maka hendaklah mereka meminta izin seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari kedua ayat diatas dengan tegas Allah mewajibkan agar apabila kita berada di luar kamar maka aurat harus terpelihara karena urusan aurat adalah urusan di dalam kamar.

Pada masa waktu-waktu aurat maka siapa pun yang ada urusan dengan kita, sementara kita berada di dalam kamar, maka wajib atas mereka meminta izin. Inilah kewajiban yang jelas dan tegas, sebagian dari ayat muhkamat kepada kaum muslimin. Artinya, tidak boleh orang masuk ke dalam kamar orang lain seenaknya kecuali harus dengan izin pemilik kamar.

Dalam riwayat An-Nasa’i, juga dalam shahih Muslim disebutkan Rasulullah SAW pernah bersabda melalui khutbah beliau. Setelah beliau memuji-muji Allah dan menyanjung-Nya dengan puji dan sanjung yang sudah menjadi hak-Nya maka beliau SAW bersabda:  "Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruknya urusan ibadah adalah yang dibuat-buat, semua yang dibuat-buat adalah bid’ah, semua bid’ah adalah sesat dan semua kesesatan di dalam neraka.”



KHUTBAH KEDUA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛


Jamaah yang berbahagia.

Apa yang saya maksudkan dengan penjelasan ayat-ayat pada khutbah pertama tadi? Itulah sebagai mana firman Allah surah Al Hasyr ayat 21:  “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung maka pasti kamu melihatnya tunduk terpecah-belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”.

Cobalah kita bayangkan ayat Allah ini. Kalau saja Al Qur’an diturunkan kepada gunung maka gunung berantakan terpecah-belah karena takut kepada Allah. Namun berulang-ulang ayat Al Qur’an dibacakan kepada kita justru hati kita bukannya luluh malah menjadi keras melebihi gunung batu. Hati manusia memang lebih keras daripada batu.

Di dalam surah Ar Ra’d 31 Allah pun berfirman: [31] Dan Al Qur’an itu adalah bacaan yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi menjadi terbelah atau orang-orang mati dapat berbicara. Sesungguhnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji”.

Dengan demikian sangat jelas bahwa ayat-ayat Al Qur’an adalah perintah dan larangan Allah yang tidak main-main, walau pun sangat disayangkan ternyata hati manusia kebanyakan enggan menerimanya didalam menjalankan kehidupan ini.

Didalam hadits dari Zaid bin Arqam dari Nabi SAW diriwayatkan bahwa beliau telah bersabda:  “Amma Ba’du. Ingatlah wahai manusia, sesungguhnya aku tiada lain hanyalah manusia biasa yang didatangi utusan Allah (Jibril) lalu kujawab panggilannya. Aku meninggalkan bagi kalian dua peninggalan yang berat, yang pertama adalah kitab Allah yang mengandung petunjuk dan cahaya (yakni tali Allah yang kuat. Barang siapa mengikutinya berarti berada didalam petunjuk dan barang siapa yang meninggalkannya berarti berada di atas kesesatan). Ambillah ajaran Kitab Allah  dan peganglah dengan teguh”. (HR Muslim, kitab Fadhailush shahabah, bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib IV: 1873, nomor 2408).
Buntok, 1 November 2012

Selasa, 09 Oktober 2012

ISLAM ADALAH NIKMAT (2)



NIKMAT TERKHIANATI DARI DALAM ISLAM
Oleh: SYAMSUDDIN RUDIANNOOR

Khutbah Jum'at di Masjid As-Sunnah Buntok tanggal 5 Oktober 2012


KHUTBAH PERTAMA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ ا لْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.


Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Telah terjadi berbagai kabar buruk terhadap Islam berupa penistaan, pelecehan Nabi Muhammad SAW, penghinaan melalui film Innocences of Muslim, pembakaran Al Qur’an, Kartun Nabi Muhammad, stigma Teroris dan berbagai pelecehan lainnya. 

Banyak dari hal-hal buruk itu berasal dari ummat pendengki di luar Islam namun banyak juga yang datang dari ummat Islam sendiri. Dan salah satu yang datang dari dalam ummat Islam sendiri sebagai mana dinyatakan Allah dalam surah Ali Imran ayat 7: "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."

Ayat ini tegas menunjukkan banyaknya oknum dari dalam ummat Islam sendiri yang sangat gandrung atau hobi memplintir ayat-ayat Allah untuk menimbulkan fitnah dan menimbulkan takwil atau tafsir-tafsir sesuka hati. 

Agar terhindar dari hobi buruk ini maka Allah mengajarkan doanya sebagai mana QS Ali Imran ayat 8: "(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

Lalu bagai mana agar kita senantiasa beroleh nikmat, selamat dari dosa takwil-mentakwil dan menimbulkan fitnah dalam ber-islam? Allah menjelaskan solusinya dalam rangkaian ayat dalam surah An Nisa ayat 59 sampai 70. Dalam An Nisa 59 sampai 65 Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik takwil / akibatnya".

Inilah jawaban Allah bahwasanya sebaik-baik takwil adalah takwil Allah karena hanyalah Allah yang Maha Mengetahui. Artinya, haram bagi kita berislam dengan mengandalkan takwil-takwil pribadi atau kelompok kecuali takwil itu resmi berdasarkan takwil Allah dan Rasul-Nya. Dan ulil amri yang dimaksud dalam ayat ini tiada lain adalah siapa pun yang membawa kepada Allah dan Rasul secara mutlak. Tidak dikatakan ulil amri apabila para pemimpin itu tidak mau kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusan.

Selanjutnya An Nisa 60 Allah berfirman: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya".

Coba bayangkan ayat-ayat diatas. Apakah mungkin ulil amri mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya padahal disaat yang sama tidak memperjuangkan hukum-hukum Allah, malah memperjuangkan hukum-hukum thaghut? Sungguh ini sebuah kesesatan yang jauh.

AN NISAA' (4:61): "Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu".

Nah ini, apakah wajib kita mengikuti ulil amri yang sesat lagi munafik? Tentu saja bukan ulil amri namanya apabila para pemimpin kita itu terus saja menolak berhukum kepada Hukum Islam dan Rasulullah SAW.

AN NISAA' (4:62): "Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna". 

Nah lho.., coba perhatikan detail ayat ini. Ternyata para ulil amri kita sangatlah pandai dalam mengambil hati kaum muslimin, sampai-sampai perbuatan mereka yang semestinya diazab Allah sebagai hukuman bagi munafik malah dipandang sebagai penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna. Mereka memang ahli koalisi ..., ahli talbis ...., ahli setor muka kepada semua fihak.  Ketahuilah, para ulil amri kita itu, para pemimpin kita:  "Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka".(An Nisa 63).

Dengan demikian ayat ini tegas menunjukkan tidak adanya ketaatan kepada ulil amri yang munafik dan menolak syariat meskipun dalam waktu bersamaan kita harus tetap berdakwah kepada mereka dengan seruan yang menyentuh.

AN NISAA' (4:64): "Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang".
.
Wahai para ulim amri kami, marilah kita sama-sama taat kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Mari kita bertaubat dari aniaya diri, karena sesungguhnya Allah itu maha penerima taubat lagi maha penyayang. Yang pasti surah An Nisa' (4:65) Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". 


Mari kita terima Islam sebagai nikmat Allah secara kaffah. Islam itu bukanlah khianat. Kita tutup khutbah pertama ini dengan firman Allah surah Al Baqarah ayat 41-42: "41]. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an), yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa  [42]. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui".


KHUTBAH KEDUA

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛

QS Ali Imran 102: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.


Jamaah yang berbahagia.
Tentu saja ulil amri adalah siapa saja pemegang urusan ummat yang dalam kapasitasnya mengemban amanah senantiasa mengajak kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian diharapkan termasuk kedalam orang-orang yang memperoleh nikmat sebagai mana keterangan An Nisa Ayat 69 berikut: "Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".

AN NISAA' (4:70): "Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui."

Inilah kesempurnaan Islam, nikmat Allah kepada kita. Kunci sukses meraih nikmat Islam pun sangatlah lugas yaitu taqwa, yakni menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.  Allah berfirman dalam QS Ali Imran 31: Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."

Allah pun menegaskan lagi : "[3:19] Sesungguhnya Din di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS Ali Imran 19).


Kuala Kapuas, 21 September 2012

Senin, 01 Oktober 2012

Belajar dari Bom Papua, Inilah Kemunafikan Aparat


Senin, 01 Oct 2012
 
JAKARTA (voa-islam.com) - Pemerhati kontra-terorisme,  Harits Abu Ulya melihat penemuan sejumlah bom siap ledak di Sekretariat Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Kampung Honailama, Papua, sebagai qadarullah yang menyingkap  hakikat kontra-terorisme.
 
Subhanallah, Allah Ta’ala memperlihatkan kepada umat Islam, tentang hakikat kontra-terorisme dari kasus Papua kali ini,” ucap direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini kepada voa-islam.com, Ahad (30/9/2012).
Ia mengungkapkan beberapa poin terkait bom Papua yang diduga untuk menargetkan pemerintah, aparat polisi dan TNI.
  1. Berangkat dari fakta, terlihat bahwa aksi terorisme ini terkait dengan gerakan OPM yang eksis di Papua.
  2. KNPB adalah lembaga mantel OPM untuk membangun connecting/jaringan di dalam negeri maupun di luar negeri. Di level internasional termasuk PBB. KNPB selama ini menjadi saluran resmi OPM untuk mengkomunikasikan visi politiknya ke luar.
  3. Tidak banyak diketahui publik LSM lokal komprador dan LSM asing dengan dimediasi aktivis gereja (pihak gereja) yang ada di Papua berperan aktif untuk memuluskan kepentingan OPM. Di samping ada sindikasi dengan para pemegang modal (investor) yang tidak mau diganggu eksistensinya oleh pemerintah Indonesia. OPM dengan gerakannya bisa dijadikan sebagai kelompok pressure dan bargaining.
  4. Logika Polri yang saya tahu juga memasukkan kelompok yang menyerukan etnonasionalism atau sparatism adalah teroris. Nah, apakah ada satu kata pun yang keluar dari pihak aparat kepolisian bahwa rencana aksi terorisme ini adalah termasuk tindak pidana terorisme? Atau hanya akan disebut tindak kriminal biasa? Padahal mereka layak diberi label teroris karena ada organisasi, ada plan ada visi dan gerakan. Inilah kemunafikan aparat kepolisian.
  5. Coba tanya kepada BNPT atau Densus 88 apakah mereka teroris? Saya pikir mereka akan menunggu sebutan teroris kalau orang-orang yang terduga terlibat menyiapkan bom tersebut ada satu saja nama; Muhammad, Abdullah atau Abu Bakar. Inilah kemunafikan dan hakikat perang melawan terorisme itu fokusnya perang melawan Islam dan pejuangnya.
  6. Maka umat Islam harus sadar 100 %; label teroris adalah keputusan politik dan terkait dengan kepentingan politik. Penguasa negeri ini sudah menjadi bebek kepentingan negara asing.
Selain itu, menurut Harits Abu Ulya intervensi Australia dalam mengendalikan kontra-terorisme di Indonesia pun amat jelas Khususnya dalam hal menyikapi OPM di Papua. 

Seperti diberitakan radioaustralia 29 Agustus 2012, Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, mengatakan telah meminta kepada Indonesia untuk melakukan pengusutan atas pembunuhan Tabuni.

Ia mengatakan, Kepolisian Federal Australia melatih satuan Densus 88 karena ingin Indonesia mempunyai kapasitas anti terorisme yang kuat, tapi bukan untuk menumpas pemberontakan.

“Justru teguran Australia mengindikasikan  kontra terorisme tidak boleh diarahkan untuk kasus separatisme seperti OPM. Karena di lapangan fakta intelijen Australia banyak sokong OPM. 

Tito Karnavian yang menjadi Kapolda Papua sekarang harusnya konsisten dan tegas, apakah mereka teroris atau tidak?” imbuhnya. [Ahmed Widad]

Kamis, 27 September 2012

SUSUNAN PENGURUS JAMAAH AS-SUNNAH BUNTOK


Posted by  on February 13, 2012


KESEPAKATAN
TENTANG
SUSUNAN KEPENGURUSAN JAMAAH “AS-SUNNAH” BUNTOK
Pada hari ini Kamis tanggal 3 Safar 1433 Hijriyah yang bertepatan dengan 29 Desember 2011 Pukul 20.30 WIB, kami yang bertanda tangan dibawah ini bersepakat mengamanahkan kepengurusan jamaah “As-Sunnah Buntok”sebagai berikut :
Amir   :     Haji Dedi Apandi bin Winata S
Sekretaris   :     Syamsuddin Rudiannnoor bin Abdul Gani
Anggota Pengurus :
1.  Haji Rismato bin Sarbit
2.  Trio Harto bin Abdul Gani
3.  Syahgian bin Haji Gunawan
4.  Himalaya bin Kasmat
5.  Maidi bin Riduansyah
Sekian dan terima kasih.
Amir
Haji Dedi Apandi bin Winata S

DEKLARASI JAMAAH AS-SUNNAH BUNTOK



Posted by  on February 13, 2012

DEKLARASI
Pada hari ini Kamis tanggal 3 Safar 1433 Hijriyah yang bertepatan dengan 29 Desember 2011 Pukul 20.00 WIB, kami yang bertanda tangan dibawah ini bersepakat mendeklarasikan jamaah “As-Sunnah Buntok”.
Deklarasi ini disepakati oleh para penanda-tangan di rumah Haji Rismato, Jalan Pembangunan Gang Suka Damai Ujung Buntok.
Dengan ditanda-tanganinya deklarasi ini maka jamaah “As-Sunnah” resmi terbentuk menjadi  sebuah organisasi mandiri yang berjuang diatas Islam berdasarkan Al Qur’an dan As-Sunnah.
Adapun susunan kepengurusan, program dan kegiatan ditentukan tersendiri oleh para deklarator.
Demikian deklarasi ini dibuat sebagai bahan lebih lanjut.
Dibuat dan dideklarasikan di Buntok pada hari dan tanggal sebagai mana tersebut diatas.
Para Deklarator :
1.    Haji Dedi Apandi bin Winata S
2.    Haji Rismato bin Sarbit
3.    Syamsuddin Rudiannoor bin Abdul Gani
4.    Syahgian bin Haji Gunawan
5.    Trio Harto bin Abdul Gani
6.    Himalaya bin Kasmat
7.    Maidi bin Riduansyah

Tidak Sedekah dan Tidak Jihad, Dengan Apa Kamu Masuk Surga?



Jum’at, 22 Jun 2012
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda RasulillahShallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Surga itu mahal harganya. Kenikmatannya tak tertandingi. Sedikit saja kenikmatannya melebihi seluruh kenikmatan dunia dan seisinya. Siapa yang mau masuk surga maka –pada dasarnya- harus membelinya dengan sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ
Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasa. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 6222)
Sil’ah adalah barang yang ditawarkan dalam perdagangan. Sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla telah tawarkan surga kepada hamba-hamba-Nya agar mereka membelinya dengan jiwa dan harta mereka. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)
Al-’Imad ibnu Katsir berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya.” Oleh karenanya al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan: “Allah telah membeli mereka, demi Allah, Dia menghargai mereka sangat mahal.”
Al-Hasan berkata lagi, “Dengarkan jual-beli yang menguntungkan yang telah Allah ajak setiap mukmin melakukan jual-beli ini.” Dalam perkataan beliau yang lain, “Sesungguhnya Allah telah memberikan dunia kepadamu maka belilah surga dengan sebagiannya.” (Dinukil dari tafsir al-Baghawi)
. . . Allah ‘Azza wa Jalla telah tawarkan surga kepada hamba-hamba-Nya agar mereka membelinya dengan jiwa dan harta mereka. . .
. . . Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. . .
Apa yang harus diberikan oleh seorang mukmin agar dapat surga? Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. “Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. Al-Taubah: 111)
Allah Ta’ala berfirman lagi tentang jual beli yang menguntungkan ini,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ  تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Shaff: 10-12)
Ini merupakan pesan dan arahan Dzat Mahapenyayang kepada hamba-hamba-nya yang beriman, supaya mereka melakukan jual beli menguntungkan yang bisa menyelamatkan dari azab yang neraka yang pedih dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Jual beli tersebut adalah “Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Iman yang sempurna adalah pembenaran terhadap perintah-perintah Allah dalam hati yang diikuti dengan ketundukan anggota badan mengerjakan amal-amal shalih. Dan di antara amal shalih yang paling agung adalah berjihad di jalan-Nya. Oleh karenanya Allah berfirman sesudahnya, “dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.” Yaitu dengan menginfakkan sebagian harta dan mengorbankan jiwa untuk menghadapi musuh-musuh Islam dengan tujuan untuk menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya.
Pada ringkasnya untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa-Nya. Lalu kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk surga tapi masih pelit dengan hartanya dan terlalu sayang dengan jiwanya dari berjihad di jalan Allah?
. . . ringkasnya untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa-Nya. . .
. . . kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk surga tapi masih pelit dengan hartanya dan terlalu sayang dengan jiwanya dari berjihad di jalan Allah?. . .
Al-Hakim telah meriwayatkan dalam Mustadraknya (no. 2421) dari hadits Basyir bin al-KhashashiyyahRadhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untu berbai’at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:
تَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَتُصَلِّي الْخَمْسَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
Engkau bersaksi  tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah.
Dia melanjutkan, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; Yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya. Lalu bersabda,
لَا صَدَقَةَ وَلَا جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟
Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?
Basyir berkata, “Lalu aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, aku berbaiat kepadamu, maka baitlah aku atas semua itu.” (Imam al-Hakim berkata: Hadits shahih. Al-Dzahabi menyepakatinya.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan pelajaran berharga kepada Basyir, juga kepada kita semua, tentang hakikat baiat atas Islam. Bahwa Islam tidak mencukupkan bagi pemeluknya untuk memperhatikan diri pribadinya sendiri, berleha-leha setelah ikrar atas keislaman. Tapi ia harus memperhatikan agamanya dan memperjuangkan syriatnya dengan harta dan jiwanya. Karenanya kita lihat, saat Basyir mengajukan keberatan atas dua syarat yang berkaitan dengan pengorbanan jiwa dan hartanya –padahal ia siap menerima syarat-syarat lainnya-, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggenggamkan tangannya dan tidak mau menerima baiat, karena barang dagangan Allah itu mahal harganya. Oleh karenanya beliau menyampaikan, “Orang yang tidak mau mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah, maka dengan apa ia masuk surga?” Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Tidak Sedekah dan Tidak Jihad, Dengan Apa Kamu Masuk Surga?



Jum’at, 22 Jun 2012
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda RasulillahShallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Surga itu mahal harganya. Kenikmatannya tak tertandingi. Sedikit saja kenikmatannya melebihi seluruh kenikmatan dunia dan seisinya. Siapa yang mau masuk surga maka –pada dasarnya- harus membelinya dengan sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ
Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasa. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 6222)
Sil’ah adalah barang yang ditawarkan dalam perdagangan. Sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla telah tawarkan surga kepada hamba-hamba-Nya agar mereka membelinya dengan jiwa dan harta mereka. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)
Al-’Imad ibnu Katsir berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya.” Oleh karenanya al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan: “Allah telah membeli mereka, demi Allah, Dia menghargai mereka sangat mahal.”
Al-Hasan berkata lagi, “Dengarkan jual-beli yang menguntungkan yang telah Allah ajak setiap mukmin melakukan jual-beli ini.” Dalam perkataan beliau yang lain, “Sesungguhnya Allah telah memberikan dunia kepadamu maka belilah surga dengan sebagiannya.” (Dinukil dari tafsir al-Baghawi)
. . . Allah ‘Azza wa Jalla telah tawarkan surga kepada hamba-hamba-Nya agar mereka membelinya dengan jiwa dan harta mereka. . .
. . . Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. . .
Apa yang harus diberikan oleh seorang mukmin agar dapat surga? Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. “Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. Al-Taubah: 111)
Allah Ta’ala berfirman lagi tentang jual beli yang menguntungkan ini,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ  تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Shaff: 10-12)
Ini merupakan pesan dan arahan Dzat Mahapenyayang kepada hamba-hamba-nya yang beriman, supaya mereka melakukan jual beli menguntungkan yang bisa menyelamatkan dari azab yang neraka yang pedih dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Jual beli tersebut adalah “Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Iman yang sempurna adalah pembenaran terhadap perintah-perintah Allah dalam hati yang diikuti dengan ketundukan anggota badan mengerjakan amal-amal shalih. Dan di antara amal shalih yang paling agung adalah berjihad di jalan-Nya. Oleh karenanya Allah berfirman sesudahnya, “dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.” Yaitu dengan menginfakkan sebagian harta dan mengorbankan jiwa untuk menghadapi musuh-musuh Islam dengan tujuan untuk menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya.
Pada ringkasnya untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa-Nya. Lalu kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk surga tapi masih pelit dengan hartanya dan terlalu sayang dengan jiwanya dari berjihad di jalan Allah?
. . . ringkasnya untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa-Nya. . .
. . . kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk surga tapi masih pelit dengan hartanya dan terlalu sayang dengan jiwanya dari berjihad di jalan Allah?. . .
Al-Hakim telah meriwayatkan dalam Mustadraknya (no. 2421) dari hadits Basyir bin al-KhashashiyyahRadhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untu berbai’at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:
تَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَتُصَلِّي الْخَمْسَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
Engkau bersaksi  tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah.
Dia melanjutkan, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; Yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya. Lalu bersabda,
لَا صَدَقَةَ وَلَا جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟
Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?
Basyir berkata, “Lalu aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, aku berbaiat kepadamu, maka baitlah aku atas semua itu.” (Imam al-Hakim berkata: Hadits shahih. Al-Dzahabi menyepakatinya.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan pelajaran berharga kepada Basyir, juga kepada kita semua, tentang hakikat baiat atas Islam. Bahwa Islam tidak mencukupkan bagi pemeluknya untuk memperhatikan diri pribadinya sendiri, berleha-leha setelah ikrar atas keislaman. Tapi ia harus memperhatikan agamanya dan memperjuangkan syriatnya dengan harta dan jiwanya. Karenanya kita lihat, saat Basyir mengajukan keberatan atas dua syarat yang berkaitan dengan pengorbanan jiwa dan hartanya –padahal ia siap menerima syarat-syarat lainnya-, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggenggamkan tangannya dan tidak mau menerima baiat, karena barang dagangan Allah itu mahal harganya. Oleh karenanya beliau menyampaikan, “Orang yang tidak mau mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah, maka dengan apa ia masuk surga?” Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Oleh-oleh Kalimantan

Jan 12 Oleh-oleh Kalimantan Kami juga memasarkan beberapa jenis oleh-oleh khas Kalimantan, diantaranya mandau, tas manik motif Da...